hepatitis
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes di sela temu media soal Hepatitis

JAKARTA, MENARA62.COM – Ibu hamil memiliki peluang 90 hingga 95 persen untuk menularkan hepatitis B kepada anak yang dikandungnya. Karena itu sejak 2013, Kementerian Kesehatan memprioritaskan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil.

Deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil dimulai dari DKI Jakarta dan terus berkembang ke provinsi lain di tahun-tahun berikutnya. Sejak 2016, pemeriksaan hepatitis dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) Hepatitis B surface Antigen (HBsAg).

Berdasarkan Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (SIHEPI) 2018-2019 jumlah ibu hamil yang diperiksa hepatitis B sebanyak 1. 643.204 di 34 provinsi.

“Hasilnya, sebanyak 30.965 ibu hamil reaktif (terinfeksi virus hepatitis B), dan 15.747 bayi baru lahir dari ibu rekatif hepatitis B telah diberikan Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg),” jelas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes, Senin (22/7/2019).

Pemberian HBIg ini lanjut Wiendra, dilakukan untuk meningkatkan upaya perlindungan pada bayi agar terhindar dari hepatitis B yang ditularkan dari ibunya.

Tahun 2019 hingga Juni, ibu hamil yang telah diperiksa sebanyak 490.588 orang dengan 9.509 reaktif HBsAg. Dari pemeriksaan itu diketahui 4.559 bayi telah diberi HBIg kurang dari 24 jam serta imunisasi rutin dan telah terlindung penularan virus hepatitis B dari ibunya.

Pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke bayi kata Wiendra dilakukan dengan vaksinasi HB0 setelah bayi lahir kurang dari 24 jam. Sementara pada bayi lahir dari ibu hepatitis B segera beri Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg) kurang dari 24 jam.

Peradangan hati atau hepatitis itu sendiri disebabkan oleh virus hepatitis, perlemakan, parasite (malaria, ameba), alkohol, obat-obatan, dan virus lain (dengue, herpes). Jenis hepatitis mulai dari A, B, C, D hingga hepatitis E. Di Indonesia Hapatitis E belum pernah ditemukan kasusnya.

Penularan masing-masing jenis hepatitis diakui Wiendra berbeda-beda. Untuk hepatitis A dan hepatitis E, penularan terjadi melalui kotoran atau mulut, sementara hepatitis B, C, dan D melalui kontak cairan tubuh (ibu ke anak, anak ke anak atau dari dewasa ke anak), transfusi darah dan organ yang tidak diskrining, penggunaan jarum yang tidak aman, hubungan seksual, serta kontak dengan darah.

“Cara penularan hepatitis A melalui kotoran, kalau ada orang membuang tinja sembarang, kemudian tidak cuci tangan pakai sabun dan menyentuh makanan dia bisa terinfeksi hepatitis akut, dia bisa menjadi carier sampai selesai masa inkubasi sekitar 50 hari,” katanya.

Survei menunjukkan 1 dari 10 penduduk Indonesia mengidap hepatitis B. Tetapi hanya sedikit yang menyadarinya karena hepatitis B muncul nyaris tanpa gejala. Akibatnya mereka datang ke dokter atau layanan kesehatan dalam kondisi sudah parah atau sudah terjadi komplikasi.

“Itu sebabnya kami menganjurkan untuk skrining hepatitis B, supaya terdeteksi sejak dini,” tutup Wiendra.