dikbud
Dirjen PAUD Dikmas Kemendikbud Harris Iskandar saat membacakan buku untuk anak-anak PAUD KM o, Kemendikbud.

JAKARTA, MENARA62.COM – Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harris Iskandar mengajak para orangtua untuk membiasakan membaca buku untuk anak-anaknya terutama usia PAUD. Sebab membaca dapat melekatkan emosi antara orangtua dengan anak.

“Kelekatan emosi orang tua dan anak akan memungkinkan jiwa anak tumbuh dengan sempurna. Dan ini bisa kita lakukan dengan cara membacakan buku untuk anak,” kata Harris di sela Perayaan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku) yang dilakukan di PAUD KM 0, Kemendikbud, Sabtu (27/7/2019).

Menurut Harris kebiasaan membaca buku harus ditanamkan sejak dini. Sebab membaca buku diibaratkan membuka jendela dunia yang akan memperluas wawasan seseorang.

Selain itu, membaca buku bagi anak usia dini merupakan bagian dari bentuk pengasuhan untuk mengoptimalkan kemampuan berkoordinasi dan berbahasa sejak dini. Itu sebabnya penting bagi ayah dan bunda untuk secara bergantian membacakan buku bagi anaknya.

Harris mengakui membaca buku bisa mendatangkan rasa bahagia. Apalagi cerita-cerita menarik yang dibacakan oleh orangtua disertai ekspresi yang disesuaikan dengan isi buku.

“Orang membaca buku adalah orang yang bahagia. Kalau ingin membahagiakan anak, bacakan saja buku. Saya optimis sudah mulai banyak yang mengenal Gernas Baku. Artinya mereka sudah mengerti pentingnya itu, dan kita mendukung itu semua,” lanjut Dirjen Harris.

Ia juga mengingatkan agar orangtua melakukan pengasuhan dengan baik. Jangan memberikan pengasuhan anak PAUD kepada pihak lain atau pengasuh. Sebab usia PAUD adalah usia emas yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan.

Terkait Gernas Buku, Kemendikbud memastikan bahwa ketersediaan buku bacaan di tengah masyarakat amat banyak. Bisa di perpustakaan, toko buku atau PAUD.

Gerakan membacakan buku bagi anak ini kata Harris diharapkan dapat mengurangi ketergantungan anak pada gawai. Sebab saat ini banyak anak-anak PAUD dan usia SD sudah kecanduan gawai.

“Gawai itu efeknya jelek sekali terutama karena budayanya, ya ada efek dopamin, kecanduan ya, jadi anak akan lekat sekali dengan itu dan waktunya jadi terbuang percuma di layar. Padahal masa anak-anak itu untuk gerak motorik sangat penting. Pertumbuhan otot itu tidak akan berkembang sempurna kalau dia dari awal sudah dikenalkan gawai,” katanya.

Gernas Baku kali merupakan tahun kedua. Sebanyak 358 PAUD dari 33 propinsi di Indonesia ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“Kita akan terus gelorakan gerakan membaca buku ini sampai membaca buku benar-benar menjadi budaya masyarakat kita,” tegas Sukiman, Direktur PAUD.

Ia berharap dengan Gerna Baku ini, semua orangtua bergerak untuk melakukan pembiasaan membacakan buku bagi anaknya yang masih usia dini.