Sabtu malam studio saya kedatangan tamu. Namanya Mbak Aris. Senior saya di Jawa Pos. Saya di redaksi. Dia di percetakan.

Awalnya dia datang untuk belajar mengedit video menggunakan handphone. Tapi niat itu saya tolak. Karena pelajarannya disampaikan secara online. Melalui platform webinar.

Akhirnya dia hanya melihat-lihat fasilitas studio. Sembari mempelajari manajemen produksi webinar yang sedang dalam tahap persiapan.

Di studio, perhatian Mbak Aris ternyata beralih ke beberapa produk anyaman bambu produksi warga Ciburial, Kabupaten Bandung Barat.

“Saya bisa pesan kukusan bambu untuk menanak nasi? Kalau ada lima atau sepuluh unit,’’ katanya.

‘’Seperti ini?’’ jawab saya sambil menyodorkan kukusan nasi berbentuk corong.

‘’Bukan. Itu kukusan untuk dandang model kuno. Untuk dandang modern tidak bisa,’’ katanya.

Studio saya kebetulan dilengkapi dapur. Ada banyak pula alat-alat masaknya.

‘’Seperti ini?’’ tanya saya sambil memperlihatkan dandang model baru seperti yang dia maksudkan.

‘’Ya benar,’’ jawabnya.

Dandang model baru yang beredar di pasaran memang berbeda sama sekali bila dibandingkan dandang lawas. Dandang baru bentuknya mirip panci alumunium.

‘’Untuk dandang model baru, yang cocok adalah kukusan dimsum. Bukan kukusan model corong,’’ kata saya sambil memperlihatkan gambar dari handphone.

‘’Ya benar. Kukusan dimsum tetapi dasarannya dimodifikasi menggunakan model anyaman dengan lubang kecil agar nasinya tidak mrojol,’’ sahutnya.

Permintaan Mbak Aris membuat saya penasaran. Seberapa banyak emak-emak mau menggunakan kukusan dimsum yang dimodifikasi untuk menanak nasi?

‘’Banyak ibu yang ingin memasak menggunakan kukusan bambu, tetapi terkendala pada tidak tersedianya model kukusan yang sesuai dengan dandang model baru,’’ ujar Mbak Aris.

Saya percaya saja. Toh itu kabar baik. Para perajin anyaman bambu pasti senang mendengarnya. Terutama perajin dusun Ciburial yang kini sedang kebanjiran order kukusan mini untuk menyeduh kopi.