smk
Direktur Pembinaan SMK M Bakrun (kiri)

JAKARTA, MENARA62.COM – Tingkatkan kemampuan adaptasi lulusan SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan fokus bina karakter kerja siswa SMK. Dengan memiliki karakter kerja, maka dimanapun berada, lulusan SMK akan mudah mengakses dunia kerja.

“Anak ini kalau karakter kerjanya bagus insyaallah apapun jenis pekerjaannya bisa beradaptasi dengan baik. Jadi orang yang bisa adaptasi softskillnya baik,” kata Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud M. Bakrun, Selasa (7/8/2019).

Menurut Bakrun, seorang yang memiliki karakter kerja yang baik maka akan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Apapun jenis pekerjaan yang ada, bisa segera belajar dan beradaptasi.

Ia mencontohkan lulusan IPB. Sarjana dari IPB memiliki adaptasi yang baik pada dunia kerja, sehingga ketika lapangan kerja yang sesuai dengan keahliannya tidak tersedia, bisa segera beradaptasi dengan lapangan kerja yang menuntut softskill baru.

Bakrun mengatakan saat ini pihaknya sudah mulai mengembangkan karakter kerja untuk siswa SMK, meski belum urut. Tetapi secara detail tahun 2020 pembinaan karakter kerja ini akan lebih dititik beratkan pada siswa SMK.

“Diharapkan ini jadi budaya di semua SMK tentang karakter kerja ini,” lanjut Bakrun.

Saat ini buku pedoman tentang pembinaan karakter kerja siswa SMK masih terus disiapkan. Jika sudah siap, maka buku ini akan segera diluncurkan dan dijadikan sebagai pegangan sekolah untuk memperbaiki karakter kerja siswa.

Selain memperbaiki karakter kerja siswa, upaya meningkatkan akses lulusan SMK juga ditempuh dengan pemasaran lulusan SMK, tidak hanya nasional tetapi juga internasional. Untuk itu Kemendikbud telah menjalin kerjasana dengan BNP2TKI di tiga kabupaten yakni Cilacap, Ponorogo, dan Indramayu.

“Itu bersama BNP2TKI meminta analisis beberapa negara yang akan menjadi tujuannya, dan akan kita mendidik sesuai kebutuhan Negara tujuan. Sehingga dalam revitalisasi dan dana tadi kita bisa mendorong anak-anak kita kirimkan ke luar negeri,” ungkap Bakrun.

Diakui Bakrun selama ini sebenarnya lulusan SMK sudah banyak yang bisa bekerja di Jepang. Negara tersebut dalam setahun rata-rata membutuhkan tenaga kerja sekitar 350 ribu. Dan peluang tersebut belum dimanfaatkan oleh SMK.

Bakrun mengakui SMK mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini jumlah SMK sudah mencapai angka 14 ribu. Padahal Kemendikbud sebelumnya menargetkan tahun 2020 jumlah SMK mencapai 7.500. Artinya ada pertambahan jumlah SMK yang luar biasa.

Penambahan jumlah SMK tersebut menjadi bukti bahwa partisipasi masyarakat untuk membangun SMK sangat tinggi dengan harapan dapat ikut menyiapkan sumber daya manusia yang terampil untuk membangun Indonesia.

“Jadi bisa saja jumlahnya akan terus bertambah, termasuk jurusannya. Karena itu kita akan pantau, supaya perkembangan SMK sesuai dengan yang kita harapkan,” tutup Bakrun.