Kecerdasan Bayi Ternyata Bukan Bawaan
Kecerdasan Bayi Ternyata Bukan Bawaan

Ada bayi yang cerdasnya bukan main. Sementara bayi lain seusianya tampak biasa-biasa saja. Semula, orang tua mengira cerdas dan tidaknya bayi karena faktor bawaan. Hasil penelitian terbaru membuktikan bahwa kecerdasan anak berhubungan dengan pola pengasuhannya. Artikel berikut saya kutip dari media The Asian Parents. Bacalah.

elama ini, kita selalu menganggap bahwa tumbuh kembang bayi harus dibiarkan berjalan secara alami. Contohnya, kita tidak perlu melatih bayi untuk bisa merangkak jika dia baru bisa tengkurap. Sebuah studi terbaru di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) menyatakan bahwa pemberian stimulasi akan merangsang otak bayi untuk tumbuh lebih cepat.

Penelitian ini mematahkan anggapan bahwa kecepatan seorang anak dalam tumbuh kembang bergantung pada keturunan atau gen dan tidak dapat dipengaruhi.

Van der Meer, seorang profesor neuropsychology di NTNU menggunakan teknologi EEG selama bertahun-tahun untuk mempelajari aktifitas otak ratusan bayi. Hasil studinya menunjukkan bahwa sel saraf di dalam otak bayi meningkat secara jumlah dan spesialisasinya seiring dengan kemampuan baru yang mereka pelajari dan semakin banyaknya mereka bergerak.

Ribuan sambungan

Sel saraf pada anak bayi membentuk ribuan sambungan setiap detik. Penelitian Van der Meer juga menunjukkan bahwa perkembangan otak dengan tanggapan pancaindera serta kemampuan motorik terjadi secara seimbang. Dia percaya bahwa bayi harus dirangsang sejak ia dilahirkan.

Bayi perlu menggunakan semua indera yang dimilikinya untuk menjelajahi berbagai benda di sekelilingnya, baik di dalam maupun di luar rumah. Termasuk juga merasakan perbedaan cuaca.

Van der Meer menekankan bahwa bayi perlu merasakan semua hal itu sendiri, tidak cukup hanya dengan menaruhnya di stroller atau menggendongnya saat berjalan-jalan.

“Banyak orang yang percaya bahwa sebelum anak berusia 1 tahun, mereka hanya perlu tidur siang dan berganti popok. Tapi penelitian menunjukkan bahwa tikus yang dibesarkan di dalam kandang memiliki lebih sedikit cabang yang berkembang di saraf otaknya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan di tempat yang memiliki area untuk menanjak dan bersembunyi,” Prof Van der Meer memaparkan.

“Penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam budaya dimana merangsang tumbuh kembang dianggap penting, tumbuh lebih cepat dibandingkan anak-anak yang berada di Barat,” ujarnya.

Prof Meer juga mengungkapkan, otak dari anak-anak yang masih kecil sangatlah lunak, sehingga bisa beradaptasi dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Jika sel saraf synapsis yang baru terbentuk tidak digunakan, maka sel tersebut akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia anak-anak dan otak mereka akan kehilangan sedikit elastisitasnya.

Menurut Prof Meer, bayi memiliki kemampuan untuk membedakan berbagai jenis suara dari bermacam-macam bahasa saat mereka berusia empat bulan. Tapi mereka kehilangan kemampuan tersebut saat mereka berusia delapan bulan.

Ia mencontohkan, bayi di China yang mendengar perbedaan suara R dan L saat mereka berusia 4 bulan, tapi mereka tidak mendengarnya lagi saat mereka tumbuh besar.

Dikarenakan anak-anak di China tidak perlu membedakan kedua suara tersebut untuk mempelajari bahasa ibu mereka, sel synapsis yang membawa pengetahuan ini menghilang karena tak digunakan.

Di era 1970an, terdapat anggapan bahwa anak-anak hanya bisa mengerti satu bahasa secara sempurna. Orang tua yang berasal dari luar negeri dianjurkan untuk tidak berbicara bahasa asing ke anak-anak, karena ditakutkan akan mengganggu perkembangan bahasa anak.

Sekarang, kita memiliki anggapan yang berbeda. Dan kini sudah ada contoh anak-anak yang bisa berbicara dalam tiga bahkan lima bahasa berbeda dengan lancar tanpa mengalami kebingungan antar bahasa ataupun mengalami keterlambatan bicara.

Penelitian tentang otak menyatakan, area otak yang mengetahui bahasa ibu akan menjadi aktif saat anak-anak menggunakan bahasa tersebut. Jika kita mempelajari bahasa lain setelah berumur tujuh tahun, area lain di otak akan terpakai saat kita menggunakan bahasa tersebut.

Penelitian menampakkan, anak-anak tidak mempelajari bahasa asing melalui layar kaca seperti televisi atau video di gadget. Anak-anak mempelajari bahasa asing dengan cara berinteraksi langsung dengan orang yang berbicara bahasa tersebut.

“Karena otak anak mengalami banyak perkembangan pada tahun-tahun pertama kehidupan mereka, maka lebih mudah untuk mendorong mereka untuk belajar dan mencegah masalah saat anak-anak masih kecil,” ujar Prof Meer.

Dalam hal ini, peneliti juga tidak menganjurkan untuk mempercepat perkembangan otak pada anak yang berkebutuhan khusus yang memiliki kesulitan dalam mengembangkan kemampuan motoriknya.

Untuk mengetahui apa saja yang bisa merangsang perkembangan otak bayi dengan maksimal, Sekolah Wira menghadirkan seminar online bertema Pengasuhan Anak Berbasis Kinerja Otak dengan pembicara dr Amir Zuhdi, praktisi neuro parenting dan neuro teaching di Indonesia. Semoga, Anda bisa mengikuti untuk mendapatkan pengetahuan dalam mempersiapkan masa depan anak-anak Anda.

Seminar akan berlangsung pada hari Jumat (23/8/2019) pukul 09:00 – 11:30. Silahkan daftar melalui whatsapp admin (Nurleni) +62 813-1065-6798.