haji
Petugas klinik haji Mekkah tengah melayani jamaah yang sakit. (Ist/vlog)

MAKKAH, MENARA62.COM – Pasca fase Armuzna, terjadi lonjakan kunjungan jemaah haji ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Hal tersebut dinilai wajar mengingat fase Armuzna adalah fase terpenting rangkaian ibadah haji dimana seluruh jemaah haji dari berbagai Negara berkumpul di Armuzna.

“Pelayanan di KKHI Makkah puncaknya setelah waktu Armuzna, karena itu puncak ibadahnya. jemaah dari seluruh dunia ada di Makkah,” ungkap dr. Meity Adriana, Sp.JP, Penanggung Jawab Pelayanan Medis KKHI Makkah dikutip dari sehatnegeriku, Ahad (18/8/2019).

Berdasarkan data laporan kunjungan ke KKHI Makkah, tanggal 15 Agustus 2019 terjadi lonjakan angka kunjungan harian tertinggi yang mencapai 154 orang pasien. Total kunjungan hingga hari operasional ke-35 (16/8) KKHI Makkah sebanyak 2.679 orang.

Untuk mengantisipasi kemungkinan masih tingginya jumlah kunjungan, KKHI Makkah telah menyiapkan menyiapkan beberapa strategi layanan. Strategi pertama dengan memperketat kriteria triase. Bagi pasien-pasien yang datang dengan label kuning akan dirawat di KKHI Makkah. Sementara yang berlabel merah akan langsung dirujuk ke salah satu rumah sakit Arab Saudi.

Menurut Meity, dari segi jenis penyakit, baik sebelum dan sesudah Armuzna umumnya sama, yakni ISPA dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Hanya saja dari volumenya saat ini semakin bertambah. Penyakit-penyakit tersebut kebanyakan terpicu karena faktor kelelahan dan dehidrasi yang dialami oleh jemaah haji.

Strategi selanjutnya, petugas kesehatan akan menurunkan kekuatan ‘full team’ untuk memberikan pelayanan. KKHI Makkah juga sudah menyiapkan stok obat-obatan termasuk vitamin yang dibutuhkan pasien.

Penguatan visitasi terutama bagi pasien yang dirawat di RS Arab Saudi juga dilakukan. Menjalin komunikasi intens dengan para dokter di rumah sakit tersebut khususnya terkait riwayat penyakit pasien. Dengan komunikasi dan informasi yang baik, maka diharapkan pasien akan mendapatkan terapi yang maksimal.

Khusus bagi jemaah haji yang akan kembali ke tanah air dalam waktu dekat dan masih dalam masa perawatan di KKHI dan RS Arab Saudi, tentu akan dilakukan penanganan terlebih dulu hingga dinyatakan sehat dan laik terbang.

“Ada beberapa pasien yang masih membutuhkan perawatan, tentunya kami akan serahkan kepada pihak rumah sakit Arab Saudi. Dengan pantauan dari kami dari tenaga kesehatan Indonesia untuk mendapatkan terapi maksimal dulu dan mereka dinyatakan layak untuk terbang,” jelas Meity.

Terhadap jemaah yang memang masih membutuhkan peralatan bantu nafas, pihaknya tidak akan memaksakan pulang ke Tanah Air meski jadwalnya sudah tiba. Sebab untuk menempuh perjalanan lama menggunakan pesawat terbang, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi.

Di tempat terpisah, Direktur KKHI Makkah, dr. Ali Setiawan, Sp.B, mengatakan peningkatan jumlah kunjungan beberapa hari terakhir usai periode Armuzna sampai dengan masa akhir operasional tentu membutuhkan pengelolaan yang tepat. Seluruh petugas kesehatan harus bisa menyiapkan kesehatan para jemaah haji Indonesia, baik yang tengah dirawat maupun yang dalam kondisi sehat, agar bisa pulang ke tanah air dengan memenuhi kriteria kesehatan penerbangan.

“Untuk pasien dengan kondisi kesehatan tertentu yang harus dipulangkan terpisah dari kloternya, ini juga memerlukan pengaturan khusus. Bagaimana pengurusan paspornya, form medif, koordinasi dengan kloter, teknis evakuasinya dan sebagainya,” terang Ali.

Pelayanan kesehatan jemaah haji di Makkah itu sendiri rencananya akan berakhir pada 6 September 2019.

Anggota Tim Asistensi Kemenkes, Sundoyo, SH, MH meminta agar petugas kesehatan tetap semangat dan mengerahkan dedikasi yang tinggi untuk mengantisipasi lonjakan jemaah haji yang sakit setelah mengikuti prosesi ibadah di Armuzna.

“Jemaah haji yang sudah kelelahan atau kecapean ini harus segera kita layani, kita pulihkan kembali, sehingga mereka bisa kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat,” kata Sundoyo.