YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Daerah sepanjang Bulan Agustus telah melakukan kegiatan distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan. Beberapa daerah di Jawa Tengah mengalami kekeringan yang cukup parah, sehingga mengakibatkan sulitnya mendapatkan pasokan air bersih.

Para Relawan MDCM Jawa Tengah melakukan respon kekeringan yang terjadi di beberapa daerah Jawa Tengah melalui komando Naibul Umam Eko Sakti, selaku Ketua MDMC Jawa Tengah. Adapun daerah yang sudah melakukan giat droping air bersih antara lain Desa Darma dan Kaliori, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Kec. Kandangan dan Dusun Toro Desa Kertosari Kec. Jumo Temanggung. Selain itu juga di lakukan di Blora, Sragen, Klaten, Boyolali dan Banyumas yang beberapa daerahnya jauh dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum).

Pada 08 Agustus 2019 Lazismu bekerja sama dengan MDMC dan BPBD juga melakukan distribusi air bersih di beberapa desa di Jepara diantaranya Desa Kunir, Desa Raguklampitan, Desa Pendem dan Desa Blimbingrejo. Daerah-daerah yang telah disebutkan termasuk dalam daftar Kawasan Rawan Bencana (KRB) Kekeringan di Jawa Tengah.

Di Boyolali, telah dilakukan distribusi air bersih pada 18 Agustus di Desa Kuncen Kel. Samiran Kec. Selo dan pada 24 Agustus di Desa Kalinanas Kec. Wonosamodro.

Sedangkan di Sragen baru akan menyusun data dan melakukan koordinasi bersama dengan Lazismu serta pihak lainnya yang terkait, dan telah disepakati untuk respon kekeringan dengan mendirikan posko di PDM Sragen hingga 30 November. Adapun kegiatan yang akan dilakukan antara lain distribusi air bersih, pengadaan tandon, sumur dan jika memungkinkan akan membuat contoh water purifier.

LPB Muhammadiyah cabang Klaten juga melakukan bakti sosial droping air bersih sejumlah 30 tangki. Pada tahap pertama 25 Agustus pagi di daerah Tegalmulyo Kemalang Klaten. Lalu tahap kedua 1 September sekaligus pencarian lokasi terdampak berikutnya.

Menurut Naibul Umam bahwa warga biasanya menggunakan air untuk kesehariannya dari sendang (sumber mata air), namun karena kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan maka sendang mengeluarkan sedikit air dan tidak dapat untuk mencukupi kebutuhan warga sehari – hari.

MDMC berkoordinasi dengan BPBD agar penanganan tidak parsial dalam melakukan upaya pemberian air bersih dan penyambungan pipa (pipanisasi) ke desa – desa terdampak. Namun ada beberapa kendala yang tidak bisa ditangani, seperti halnya di Cepu Blora tidak adanya sumber mata air. Tanah yang akan dijadikan sumur disana mengeluarkan minyak dan gas, bukan sumber mata air bersih.

Upaya penanganan bencana kekeringan ini berbasis pada kebutuhan masyarakat terdampak. Termasuk permintaan pipanisasi dan pembangunan tandon (reservoir) dibuat dengan kapasitas volumenya yang terbatas maksimal 5.000 liter. Kebijakan tersebut dipertimbangkan oleh Naibul Umam dengan alasan kontinuitasnya.

“Yang kita lakukan baru sebatas menangani dampak kekurangan air bersih untuk keperluan sehari – hari karena memang itu dampak langsung yang dirasakan warga,” ungkap Ketua MDMC Jawa Tengah saat itu. Naibul Umam mengaku bahwa MDMC belum ikut dalam penanganan dampak kekeringan lahan pertanian, persawahan dan tegalan yang mengakibatkan matinya padi atau gagal tanam. Dampaknya dirasakan oleh petani tadah hujan maupun petani pengairan.

Menurut BMKG perkiraan kemarau akan terjadi selama September sampai dengan November 2019. Yang artinya penanggulangan kekeringan akan terus dilakukan oleh rekan–rekan MDMC Jawa Tengah hingga akhir 2019 dengan mengupayakan cara lain untuk penanganan bencana kekeringan ini. (Azza)