Memompa Napas Panjang BPJS dengan Setrum Warsito
Memompa Napas Panjang BPJS dengan Setrum Warsito

Kerumitan kita menjadi bangsa unggul seringkali muncul bukan karena hantaman eksternal. Masyarakat kita ini egois. Lebih gampang cekcok di dalam ketimbang menyatukan segenap energi yang kita punya. Regulasi kadang dijadikan cover untuk membungkus sikap “saling tidak percaya” dan mau enak sendiri. Buntutnya panjang: korupsi, inefesiensi, mengerdilkan, bahkan membunuh potensi yang kerap membuat kita geleng-geleng kepala.

Persoalan di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang terus jadi perbincangan publik, misalnya. Ini program bagus. Rakyat sangat membutuhkan. Negara berupaya dihadirkan untuk melindungi warganya. Apa daya, eksekusinya seolah terserempet “kutukan” yang justru Indonesia “banget” itu.

Lembaga bagian dari sistem jaminan sosial nasional itu defisit. Solusi dengan cara menaikkan iuran dinilai membebani rakyat selaku peserta. Padahal banyak peluang yang dapat menjadi jalan keluar.

Ini mengingatkan saya pada buku yang terbit tahun 2017 lalu. “Setrum Warsito: Kisah di Balik Penemuan Rompi Anti-Kanker,” terbitan Noura. Di buku karya Fenty Effendy itu terkait juga soal BPJS.

Data BPJS tahun 2015 menyebutkan bahwa pengobatan kanker sudah menelan 1,64 triliun Rupiah, menyedot anggaran terbesar kedua setelah hemolidia. Jumlah pasiennya 0,3 persen saja, tapi menghabiskan 10 persen anggaran BPJS. Sementara, tahun ke tahun, jumlah penderita kanker menunjukkan tren meningkat.

“Teknologi medan listrik statis berenergi rendah dan berbiaya murah yang diciptakan Warsito bukanlah ancaman, melainkan justru mempercepat upaya pemerintah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker di Indonesia.” Demikian Fenty Effendy menuliskannya di halaman 282. Potensi yang dibuat mati suri. Miris memang.

Warsito Purwo Taruno dikirim belajar ke luar negeri tahun 1987. Walau program beasiswa dari Overseas Fellowship Program (OFP Habibie) terhenti pada 1994 imbas krisis, kegigihan dan kecerdasannya membuat ia sukses meraih gelar doktor dari Shizuoka University, Jepang, dengan predikat terbaik.

Bukan cuma itu, ia kerap menjadi pembicara di forum-forum internasional. Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) dan Electro Capacitive Cancer Therapy (ECCT) buah ketekunan dan kepedulian Warsito kepada penyintas kanker yang dinilai para pemegang otoritas medis di Indonesia, belum dapat disimpulkan keamanan dan manfaatnya itu justru mendapat dukungan dari luar negeri.

“Di negeri orang ia dicari. Di tanah airnya, Warsito seperti berjuang sendiri,” kata penulis buku ini.

Ilmuwan dan negara luar memang banyak membutuhkannya. Ide Warsito terasa gila. Tapi ia bisa membuktikan. Termasuk ketika ia menandatangani kontrak dengan Profesor Ken Umeno, ahli chaos theory dari Kyoto University, untuk menemukan teknologi “pembaca” otak manusia. Ia mengutip Picasso, “Everything you can imagine is real.”

Sebagai sebuah biografi, buku setebal 324 halaman ini amat sangat menarik. Gaya bahasanya ringan padahal mengulas bidang teknologi yang umumnya njelimet. Dramatisasinya juga tersusun rapi sehingga pembaca kadang merasakan sedih, lain waktu malah tersenyum membaca kisah peneliti kelas dunia asal Ploso Lor, Karang Anyar, Jawa Tengah, ini.

Kekuatan buku juga tampak dari riset dan pengumpulan bahan yang digarap sangat serius. Itu sebabnya, paparan narasumber yang mungkin mengandung dugaan klaim sepihak, dapat dieliminir dan makin meyakinkan pembaca berkat pencantuman dokumen-dokumen otentik seputar hasil riset yang dilakukan tokoh, bukti pemberitaan, dialog maupun interaksi para pelaku beserta pihak-pihak terkait.

Yang paling penting, buku ini sangat inspiratif. Bahwa dengan segala keterbatasan, seorang anak desa tetap semangat bertarung mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat dan dunia, agar bisa memberi makna bagi orang lain. Meskipun, kadang pertarungan itu tidak bisa dimenangkan sekarang, seperti tatkala nasib temuannya yang berpeluang menolong penderita kanker malah ditentang. Ia lapang.

I did my part, now it’s your turn. I came from nothing and will not lose anything,” kata sang tokoh buku ini dalam pesan whatshapp kepada Ahsan Ismail, putra keduanya semasa masih kuliah semester terakhir Teknik Fisika ITB. Mungkin, lain waktu akan benar terlahir generasi penerus yang mampu melanjutkan pertarungan itu. Lalu, penyintas kanker mudah terobati. Dan dampak baik lainnya: napas panjang BPJS pun terpompa lagi.