Andriadi Achmad
Andriadi Achmad

JAKARTA, MENARA62.COM — Rabu, (18/09/2019), Pengamat Politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Andriadi Achmad menilai bahwa program besar pemindahan ibukota, peluncuran mobil esemka, dan menyetujui revisi RUU KPK tak lebih sekedar aksi panggung pencitraan Jokowi ke tengah-tengah masyarakat atas keberanian pemerintahannya dalam memutuskan aksi besar tidak populis serta ajang pembuktian atas kritikan masyarakat keberadaan mobil esemka yang pernah melambungkan nama Jokowi ke seantero jagat Indonesia Raya, bahkan dunia internasional ketika masih berstatus walikota Solo.

“Di tengah ekonomi dan stabilitas sosial politik, bahkan merambat ke pertahanan dan keamanan dalam keadaan memprihatinkan. Jokowi masih saja memainkan manuver pencitraan. Pemindahan Ibu Kota, peluncuran mobil Esemka serta menyetujui revisi RUU KPK,  seolah menjawab keberanian dan keberhasilan pemerintahan Jokowi, walaupun terkesan tidak memihak rakyat,” ujar Andriadi Achmad ketika diwawancara awak media.

Andriadi Achmad menganggap kegagalan pemerintahan Jokowi dalam menjalankan roda pemerintahan secara maksimal di periode pertama dengan berbagai program kerja membebankan rakyat seperti kenaikan harga BBM secara berkala, TDL, dan iuran premi BPJS menunjukkan kepada masyarakat tidak banyak yang bisa diharapkan perbaikan ekonomi dan menepis kesenjangan di pemerintahan periode kedua Jokowi. Terlepas program infrastruktur sangat diutamakan, walaupun terkesan memaksa ditengah minimnya dana negara. Bahkan menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia kedepan.

“Di bawah pemerintahan Jokowi, ekonomi dan beban rakyat semakin berat. Kenaikan sembako, BBM, TDL, dan iuran BPJS menambahkan kesulitan ekonomi masyarakat ditengah daya survival semakin terkikis, UMKM  melemah dan lain sebagainya. Pembangunan infrastruktur terkesan dipaksa, padahal minim dana,” kritik mantan Aktivis Gerakan Mahasiswa Indonesia Pascareformasi Era 2000-an ini.

Direktur Eksekutif PolCom SRC (Political Communication Studies and Research Centre) ini mengutarakan bahwa harapan kita kedepan agar pemerintah Indonesia dibawah kabinet Indonesia Kerja jilid 2 ini dapat lebih memperhatikan keberlangsungan bangsa dan negara kita, sebagaimana slogan pemerintahan saat ini yaitu SDM Unggul Indonesia Maju merupakan realitas cita-cita yang membangunkan optimisme masyarakat akan masa depan Indonesia, setidaknya tahun 2045 di usia emas 100 tahun Indonesia.

“Optimisme perlu kita bangun, agar keberlangsungan bangsa Indonesia terus terjaga dan terawat. Oleh karena itu, kita berharap Jokowi dan pemeringahan saat ini tak perlu pencitraan berlebihan, biarlah waktu dan masyarakat melihat action yang dilakukan. Setidaknya di usia emas 100 tahun Indonesia tahun 2045, SDM Unggul Indonesia Maju dapat diwujudkan,” demikian tutup Andriadi Achmad mengakhiri wawancara.