Asap hitam terlihat di fasilitas kilang minyak Saudi Aramco di kota timur Abqaiq, Arab Saudi, 14 September 2019. [REUTERS / Stringer]

Serangan itu merupakan eskalasi yang jelas dalam ketegangan Timur Tengah

JAKARTA, MENARA62.COM — Amerika Serikat ingin membangun koalisi mitra Eropa dan Arab. Langkah ini, tampaknya diambil untuk menghalangi Iran, setelah serangan terhadap Arab Saudi yang dijelaskan oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada Rabu (18/9/2019) sebagai “tindakan perang.”

Situs Antaranews.com melansir, keinginan AS itu dilakukan untuk memperkuat posisinya. Penguatan diperlukan, disaat posisi minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 0,95 dolar AS atau 1,5 persen menjadi ditutup pada 63,60 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menetap 1,23 folar AS atau 2,1 persen lebih rendah menjadi 58,11 dolar AS per barel.

Stok minyak mentah AS naik 1,1 juta barel pekan lalu, data Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk penurunan 2,5 juta barel. Namun, persediaan minyak mentah di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk patokan berjangka, menurun untuk minggu ke-11 berturut-turut minggu lalu, penurunan beruntun terpanjang sejak Agustus 2018.

Minyak mentah juga berada di bawah tekanan setelah Federal Reserve (Fed) AS memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin untuk kedua kalinya tahun ini, mengirim indeks dolar lebih tinggi. Dolar AS yang lebih kuat membuat minyak berdenominasi greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Kondisi harga minyak anjlok enam persen pada Selasa (17/9/2019), terjadi setelah menteri energi Saudi mengatakan kerajaan telah mengembalikan pasokan minyak kepada pelanggan ke tingkat mereka sebelum serangan. Pasokan ini dilakukan dengan menarik dari persediaannya.

Serangan

Serangan pada Sabtu (14/9/2019) secara efektif menutup lima persen dari produksi minyak global, dan mendorong harga naik sekitar 15 persen pada Senin (16/9/2019).

“Serangan itu merupakan eskalasi yang jelas dalam ketegangan Timur Tengah yang sedang berlangsung, dan penargetan struktur 15-18 spesifik, menunjuk pada peningkatan kecanggihan sehubungan dengan perencanaan dan implementasi,” kata Pusat Studi Kajian Strategis & Internasional (CSIS) dalam sebuah catatan.

“Ukuran dan durasi pemadaman digabungkan dengan ketersediaan dan waktu pilihan pasokan lainnya, termasuk rilis stok strategis, dan pertimbangan pertumbuhan permintaan, pada akhirnya akan menentukan pergerakan harga berjangka.”

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, saat ini pihaknya tidak melihat kebutuhan untuk pelepasan cadangan minyak darurat.

“Secara keseluruhan, selama kita melihat volatilitas yang tinggi ini timbul dari meningkatnya risiko geopolitik bersama, dengan masalah kelebihan pasokan/lemahnya permintaan 2020, para generalis kemungkinan akan tetap dikesampingkan dari sektor energi,” kata analis di Tudor Pickering Holt dalam sebuah catatan.

BACA JUGA: Harga Minyak Terus Menurun

Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan pada Selasa (17/9/2019), rata-rata produksi minyak Arab Saudi pada September dan Oktober akan menjadi 9,89 juta barel per hari (bph), dan komitmen pasokan minyak bulan ini kepada pelanggan akan dipenuhi sepenuhnya.

Kapasitas produksi akan mencapai 11 juta barel per hari pada akhir September, dan 12 juta barel per hari pada akhir November. Ini merupakan kapasitas produksi kerajaan sebelum serangan.

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah memburuk sejak Trump menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun lalu, dan menerapkan kembali sanksi terhadap ekspor minyaknya.

Trump pada Rabu (18/9/2019) mengatakan kepada wartawan, ia akan memberikan rincian lebih lanjut tentang peningkatan sanksi AS terhadap Iran dalam waktu 48 jam. Sebelumnya, Trump sudah mengumumkannya di Twitter. Inisiatif ini mengikuti pernyataan berulang AS bahwa Republik Islam Iran, berada di belakang serangan terhadap kerajaan, sekutu dekat AS.

“Pasar minyak global memiliki sumber daya yang cukup bahkan di luar minyak serpih untuk mengimbangi pemadaman besar tanpa memerlukan rilis cadangan minyak strategis OECD (yang tetap menjadi penyangga tambahan yang signifikan untuk menyeimbangkan pasar),” Goldman Sachs mengatakan dalam sebuah catatan.

Harga Brent kemungkinan akan tetap di bawah 75 dolar AS per barel bahkan jika pemadaman terbukti jauh lebih lama daripada perkiraan saat ini, kata Goldman.

Dalam lompatan harga terbesar dalam 30 tahun, patokan internasional hampir mencapai 72 dolar AS pada Senin lalu ketika pasar dibuka setelah serangan terhadap fasilitas minyak Saudi. Demikian laporan yang dikutip dari Reuters.