Gelombang aksi anti pemerintah Irak yang berpusat di Baghdad.

BAGHDAD, MENARA62.COM – Unjuk rasa besar-besaran rakyat Irak berlanjut dan berpusat di ibukota negara, Baghdad. Massa kian marah setelah militer — yang didukung faksi pro Iran — melakukan tindakan berlebihan terhadap aksi anti pemerintah itu pada Ahad (6/10/2019) malam.

Hingga hari keenam ini, diperkirakan sedikitnya 104 orang tewas dan 6.000 lainnya terluka dalam bentrok demonstran dengan aparat keamanan di Baghdad. Pengunjukrasa yang murka bersumpah melanjutkan aksi dan dengan cepat meluas ke tujuh provinsi dengan penduduk mayoritas Syiah di selatan Irak.

Data terbaru, Kementerian Dalam Negeri Irak mengatakan, 52 kendaraan dan sekitar 60 properti pemerintah serta partai terbakar pada Ahad malam tadi. Pada saat bersamaan, militer Irak mengakui melakukan kesalahan atas pengerahan “kekuatan berlebihan” di sebuah distrik di Baghdad saat protes massa, yang menyebabkan bentrokan dan puluhan orang terbunuh.

Jumlah mereka yang tewas belum diverifikasi. Namun, beberapa sumber mengklaim 13, sementara yang lain melaporkan 15 orang.

“Kami telah mulai meminta pertanggungjawaban para perwira komandan yang melakukan tindakan salah ini,” bunyi pernyataan militer sebagaimana dikutip Arabnews.com, Senin (7/10/2019).

Protes besar-besaran itu dilancarkan atas maraknya korupsi, pengangguran yang tinggi, dan buruknya pelayanan publik. Para demonstran menuntut pembubaran pemerintahan PM Abdul Mahdi, membentuk pemerintah sementara, membubarkan parlemen, dan persiapan untuk pemilihan parlemen nasional di bawah pengawasan PBB.

Kini, tututan perbaikan atas kondisi tersebut, ditambah dengan pengusutan atas jatuhnya banyak korban di tengah unjuk rasa. Syiah ikut menjadi sasaran gugatan karena dianggap ikut menguasai kendali pemerintahan Irak. Mereka juga dituding terlibat dalam tindakan keras pasukan keamanan terhadap demonstran.

Tantangan Serius

Gelombang besar aksi protes saat ini menjadi tantangan paling serius yang dihadapi Irak dalam dua tahun setelah kemenangan melawan gerilyawan Daesh. Kekacauan juga terjadi kritis pemerintah, yang terperangkap di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran di kawasan itu. Irak bersekutu dengan kedua negara dan menampung ribuan tentara AS, sementara pasukan paramiliter yang kuat bersekutu dengan Iran – dan kini ikut memukul demonstran.

PM Abdul Mahdi juga menanggapi dengan “menutup mata” atas penggunaan “kekuatan berlebihan” terhadap para demonstran. Termasuk, terhadap penggunaan faksi-faksi bersenjata yang didukung Iran untuk mendapatkan kembali kendali keamanan di Baghdad dan provinsi-provinsi yang ikut bergolak.

“Pasukan keamanan telah bertindak ‘sesuai standar internasional’ dalam menangani demonstrasi,” tegas PM Abdul Mahdi.