akulaku
(dari kiri ke kanan) Efrinal Sinaga, Presiden Direktur Akulaku Finance Indonesia; Jalius, Deputi Direktur Otoritas Jasa Keuangan; Ir. Nita Yudi, MBA, Ketua DPP IWAPI; Ghita Argasasmita, Founder dan Financial Adviser Integrita Financial

JAKARTA, MENARA62.COM – Pengusaha wanita skala rumahan sebagian besar tidak peduli dengan laporan keuangan usahanya. Mereka bahkan tidak mencatat dengan baik sumber uang, penggunaan uang dan perolehan dari usahanya tersebut.

Akibatnya banyak pengusaha rumahan yang gulung tikar. Meski usaha tersebut baru saja dimulai dengan skala yang masih terbatas.

“Kebanyakan wanita pengusaha masih menempatkan diri sebagai pedagang, bukan pengusaha,” kata Ghita Argasasmita, Founder & Managing Director Integrita pada seminar manajemen keuangan ‘Aku Bisa Kelola Keuangan’ yang digelar Akulaku kerjasama dengan IWAPI, Jumat (11/10/2019).

Karena menempatkan diri sebagai pedagang, maka arus masuk dan keluar keuangan tidak dicatat dengan detail. Mereka hanya melihat bahwa saat dagangan habis, masih ada selisih uang ditangan.

“Padahal bisa jadi uang yang ada ditangan adalah uang pribadi, tenaga kerja yang tidak dihitung, aset yang tidak dihitung dan lainnya,” lanjut Ghita.

Karena itu, jika ingin maju dalam berbisnis, Ghita menyarankan pengusaha wanita belajar untuk mencatat arus masuk keluar uang yang digunakan. Termasuk modal yang mungkin diberikan oleh sang suami.

Pencatatan keuangan tersebut jelas Ghita tidak harus dilakukan dengan metode pembukuan yang sulit. Seorang wanita pengusaha bisa mencatat hal-hal yang berhubungan dengan arus masuk keluar uang dengan cara sederhana.

Bagi Ghita, pembukuan menjadi salah satu faktor sebuah usaha bisa berjalan langgeng. Sebab dengan melihat catatan keuangan atau pembukuan, seorang pengusaha bisa meraba, memperkirakan prospek ke depan dari jenis usahanya.

Jika usaha yang digeluti tersebut memang menguntungkan, maka bisa dilanjutkan. Tetapi jika dalam pembukuan ternyata arus uang yang masuk (pendapatan) tidak berimbang dengan uang yang keluar (modal), maka wanita pengusaha bisa segera mengambil langkah strategis atau menutupnya untuk menekan kerugian lebih besar.

Sementara itu Efrinal Sinaga selaku Presiden Direktur Akulaku Finance Indonesia mengatakan banyak pengusaha wanita kelas rumahan yang sebenarnya memiliki prospek bagus dari usaha yang digelutinya tersebut. Tetapi modal acapkali menjadi kendala untuk pengembangan bisnis tersebut.

“Banyak pengusaha wanita terutama kelas UMKM yang memang tidak bisa meminjam ke bank akibat terbentur barang jaminan dan persyaratan administrasi lainnya,” kata Efrinal.

Karena itu, Akulaku mencoba untuk menjembataninya dengan memberikan kemudahan bagi perempuan pengusaha untuk mendapatkan tambahan modal usaha. Prosesnya yang mudah, administrasinya sederhana, diyakini akan membuat wanita pengusaha tertarik untuk memianfaatkan dana pinjaman yang disediakan Akulaku.

Saat ini diakui sudah ada lebih dari 120 ribu pelaku usaha UMKM yang sudah terkoneksi dengan Akulaku. Mereka tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai jenis usaha.

Akulaku sendiri merupakan perusahaan penyedia layanan pembiayaan dan perkreditan yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).