Demokrasi Masih Terus Diperjuangkan di Hongkong
eorang pemrotes anti-pemerintah melempar bom Molotov saat demonstrasi di dekat Kompleks Pemerintah Pusat di Hong Kong, Cina, Minggu (15/9/2019). ANTARA/REUTERS/Tyrone Siu/pri

HONG KONG, MENARA62.COM — Demokrasi, memang masih menjadi barang mahal. Kondisi yang belum sepenuhnya dinikmati setiap warga negara. Kebebasan berpendapat, dan mengekspresikan pendapat yang berbeda, memang menjadi barang mewah yang masih terus diperjuangkan di banyak belahan dunia.

Situs Antaranews.com melansir, pengunjuk rasa pro-demokrasi Hong Kong dan polisi bentrok di sejumlah tempat di kota itu pada Ahad (13/10/2019). Polisi pun, dalam keadaan siap siaga mengejar para pemerotes di antara kerumunan orang yang sedang berbelanja pada saat makan siang.

Beberapa aksi unjuk rasa di pusat perbelanjaan, semula berjalan damai pada tengah hari itu. Mereka yang protes meneriakkan slogan-slogan “Hong Kong Bebas”, tetapi kemudian para pegiat yang berpakaian hitam itu merusak toko-toko dan stasiun-stasiun metro, serta mendirikan penghalang di jalan-jalan sekitar kota itu.

Polisi menangkap sejumlah orang, dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa. Polisi menyatakan, mereka masih menggunakan “kekuatan minimum”. Gambar-gambar yang disiarkan televisi memperlihatkan orang-orang yang sedang berbelanja berteriak-teriak ketakutan, dan beberapa luka-luka ketika polisi beraksi di sebuah mal.

Para pemerotes remaja, banyak yang memakai masker wajah untuk melindungi identitasnya. Mereka, tampaknya sering didukung orang-orang yang berbelanja.

Seperti yang terjadi di satu mal. Sekelompok polisi, yang dilengkapi pelindung dan senjata penyemprot merica, dipaksa mundur oleh orang-orang yang berbelanja hingga mereka keluar mal itu.

Dalam insiden lain, sekelompok 50 orang yang berbelanja di sebuah mal menghadapi polisi anti huru-hara, dengan meneriakkan “mafia polisi Hong Kong”. Orang-orang yang berbelanja bersorak ketika polisi keluar.

Berlebihan

Polisi Hong Kong, yang pernah dikesankan sebagai terpuji di Asia, telah dituduh menggunakan kekuatan berlebihan dalam menangani aksi-aksi unjuk rasa. Langkah mereka ini, membuat orang-orang Hong Kong tak lagi menaruh hormat dan percaya kepada mereka.