JAKARTA, MENARA62.COM — Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan bahwa dirinya akan membuat bandara Nop Deliat di Dekai Yahukimo, Papua sebagai bandara penghubung dari dan menuju daerah-daerah di tengah pulau Papua. Nantinya Bandara Dekai ini akan menunjang Bandara Wamena, yang juga berada di pertengahan pulau Papua. Menhub menyampaikan hal tersebut usai mengadakan Rapat Koordinasi Pembangunan Infrastruktur di Provinsi Papua bersama 13 Bupati di Provinsi Papua, Kementerian PUPR, Kementerian ATR, Bappenas serta Stakeholder Transportasi dan Kepala UPT Perhubungan se-Provinsi Papua di ruang Sriwijaya, Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Ahad (13/10/2019).

“Kalau sekarang ini tengah Papua itu diwakili oleh Wamena, tapi posisi Wamena di ketinggian dan sudah overloaded. Bandara Dekai panjang landasan pacunya sudah 2300 m, bisa sampai 2500 m, dan tanahnya flat, ideal sekali. Yang akan datang kita inginkan distribusi logistik itu tidak hanya dari Timika, Jayapura dan Wamena, tetapi juga dari dan ke Dekai,” sebut Menhub.

Menhub mengungkapkan mengapa memilih Dekai sebagai Bandara HUB (penghubung), karena menurutnya Dekai bisa dicapai dari selatan dari dua tempat, yakni dari Asmat dan dari Mappi melalui sungai, sehingga kapasitasnya besar, dari situ pola distribusi logistik ke tengah Papua menjadi lebih bagus.

Menhub menambahkan, bahwa untuk mengembangkan Bandara Wamena investasi yang dibutuhkan sebesar Rp1,8 triliun, yang merupakan suatu jumlah yang sangat besar sekali. Hal ini terjadi karena untuk melakukan perpanjangan landasan, ada pekerjaan mengeruk dan sebagainya. Oleh sebab itu Menhub ingin agar Dekai dapat mensubstitusi Wamena.

“Tetapi kalaupun akan dikembangkan, kita akan batasi sesuai dengan kemampuan. Kita tidak akan memaksakan suatu rekayasa konstruksi yang mahal. Saat ini Bandara Dekai sudah jadi dengan runway sepanjang 2300 m. Saya sudah ke sana dan bahkan sudah meninjau sampai ke Pelabuhan Lokon, yang nantinya sampai ke Asmat. Jadi itu ideal sekali karena jumlah tonase yang dapat diangkat itu 200 ton, lalu dibawa dengan mobil cuma 45 km dan jalannya sudah besar. Setelah itu kita dengan pesawat-pesawat kecil, sudah dekat cuma 15 menit,” jelas Menhub.

Selain membahas Bandara Dekai, yang signifikan dibahas dalam rapat adalah terkait Bandara Sentani yang akan diserahterimakan operasionalnya ke PT Angkasa Pura I.

“Bandara Sentani Jayapura itu akan kita serah terimakan kepada AP I, supaya anggaran yang selama ini kami dedikasikan sebanyak Rp100-150 milyar itu bisa dipakai untuk yang lain. Malam ini (13/10) akan serah terima. Ini bukan menjual tapi konsesi kerja sama pemanfaatan. Jadi nantinya kami tidak mengeluarkan biaya operasional, tapi kami mendapatkan fee,” ucapnya.

Kemudian yang signifikan dibahas adalah Danau Sentani. Nantinya Menhub mengatakan Danau Sentani akan dimanfaatkan sebagai akses transportasi menuju Jayapura dengan menggunakan bus air.

“Danau Sentani akan kita gunakan sebagai alat transportasi. Kita tahu dari Jayapura menuju sentani itu jalannya cuma satu. Jadi kita akan buat bus air dari ujung ke ujung kurang lebih sampai 10 km dan di situ akan kita bangun paling tidak 2 atau 3 dermaga, dengan minimal 5 bus air dulu nanti akan kita tambah. Format ini bukan format baru,” sebutnya.

Lebih lanjut Menhub menyebut bahwa terkait pembebasan lahan di daerah Papua tidak mengalami masalah yang berarti.

“Untuk kendala pembebasan lahan makanya tadi kita mengundang dalam rapat ibu Dirjen Pengadaan Tanah. Kalau saya lihat pembebasan tanah di sana relatif tidak menjadi masalah. Masalah waktu saja dan masalah alam. Kadang-kadang mereka membebaskan tanah tapi konturnya signifikan. Kalau kontur tanahnya signifikan (turun naik) development costnya jadi mahal. Nah itu yang menjadi susah. Katakanlah seperti di Fakfak, tahun kemarin tidak bisa terjadi karena masalah lahannya itu,” pungkas Menhub. (HH)