Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpouw. (ANTARA/Evarianus Supar)

TIMIKA, MENARA62.COM — Kini tercatat sebanyak 2.600 mahasiswa dan pelajar telah pulang ke Papua dari berbagai kota di Indonesia tempat mereka menempuh pendidikan. Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw khawatir eksodus mereka menjadi beban sosial bagi pemerintah daerah.

“Untuk apa mereka pulang? Ini menjadi beban sosial,” kata Paulus, yang tengah berada di Wamane, Kabupaten Jayawijaya, bersama Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab, saat dihubungi Antara dari Timika, Senin (14/10/2019).

Paulus menilai, para pelajar dan mahasiswa merupakan kelompok yang paling rentan disusupi dan dipengaruhi oleh pihak-pihak yang mempunyai keinginan dan agenda-agenda tertentu di Papua sekarang. Mereka sudah diperintahkan untuk kembali ke kota-kota studi, namun menolak.

Mereka juga telah diundang secara tertulis oleh Gubernur Papua Lukas Enembe untuk berdialog. Tetapi, malah mengembalikannya kepada Gubernur di depan semua pejabat Forkopimda Provinsi Papua.

“Ada apa ini? Di sisi lain mereka terus mendengungkan berbagai permasalahan yang terjadi, sekecil apa pun melalui jalur-jalur komunikasi yang mereka punya. Ini nyata,” kata Paulus, yang merupakan putra asli Papua.

Sehubungan dengan hal itu, Paulus mengingatkan jajaran kepolisian di semua daerah di Papua agar lebih waspada. Mereka dituntut peka terhadap perkembangan situasi yang terjadi di tengah masyarakat.

“Ada informasi sekecil apa pun, desas-desus, isu-isu yang bertebaran di media sosial, kasih input kepada teman-teman untuk mengantisipasinya,” ujar Paulus.

Guna mengamankan situasi di seluruh wilayah Provinsi Papua, kata Kapolda, Mabes Polri mengirim ratusan personel Brimob yang merupakan Bawah Kendai Operasi (BKO) dari 13 polda se-Indonesia. Mereka ditugaskan di sejumlah daerah rawan di wilayah provinsi ujung timur Indonesia itu.

Paulus mengimbau setiap polres yang mendapat tambahan pasukan Brimob BKO untuk bersinergi membangun komunikasi dan koordinasi dengan menggelar kegiatan patroli bersama. Lakukan razia senjata tajam dan penyakit-penyakit masyarakat seperti minuman keras, serta menempatkan pos-pos keamanan di wilayah-wilayah yang dianggap rawan.

“Diminta atau tidak diminta wajib hukumnya bagi rekan-rekan di kewilayahan untuk berterima kasih kepada rekan-rekan yang datang bertugas membantu kita. Ancaman kita nyata, bukan tidak nyata. Jangan berpikir konflik di Papua itu biasa. Situasi sekarang lebih spesifik,” kata Paulus.

Dia juga mengingatkan jajarannya agar mengantisipasi pergerakan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB). Sebab, mereka terus-menerus melakukan berbagai upaya kekerasan dan teror penembakan.

“Rekan-rekan jangan lengah, tetap waspada. Bangun komunikasi dengan semua pihak sebab di semua daerah ada banyak tokoh yang mempunyai pengaruh,” kata Paulus.