LAHAT, MENARA62.COM – Sabri (Tekjon) seorang kakek berusia kurang lebih 65 tahun merupakan anak kedua dari lima bersaudara asal Padang Maninjau Bukit Tinggi Sumatra Barat. Kakek tua renta ini sehari-hari sebagai seorang pemulung dan sol sepatu, namun karena sakit mata sol sepatu ditinggal dan kini hanya sebagai pemulung sampah bekas untuk bertahan hidup.

Kakek Sabri, begitu ia dipanggil, ia hidup sebatang kara tingal di komplek Masjid Istiqomah tanpa ada keluarga hanya didampingi seorang anak yang beralamat di veteran dekat SD Negeri 9 samping Masjid Istiqomah Kabupaten Lahat, Sumsel. Untuk bertahan hidup, ia mengumpulkan sampah bekas sebagai pemulung demi sesuap nasi.

Sabri menjelaskan pada Menara62.com, ia memunyai saudara yang tinggal di beberapa daerah seperti Bengkulu, Padang, Serang Banten, dan Lubuklinggau. “Almarhum Nurnis sudah lama meninggal dunia dan memunyai dua anak, yang pertama bersama Hendra tingal di pasar Senin Tanah Abang, anak yang kedua Juita Safitri tinggal di Sungai Akar Pekan Baru,” ujarnya.

Pada awal Okteober 2019, Sabri divonis dokter bahwa ia menderita sakit mata katarak oleh Rumah Sakit Umum Lahat. Mata kanannya sudah dioperasi dan mata kirinhya belum dioperasi karena masih menunggu hasil mata yang kanan. “Berjalan meraba gelap gulita siang menjadi malam dan malam pun sama yang dirasakan,” kata Sabri.

Kakek Sabri berharap kepada pemerintah bisa membantu untuk kesembuhan matanya dan  ke depannya biar bisa beraktivitas kembali sebagai pemulung. Ia juga berhap juga kepada anak dan keluarga bisa ketemu berkumpul kembali.

Fajri yang baru saja kenal dengan Kakek Sabri merasa perihatin dan sedih melihat keadannya. Ia kemudian berniat membangu Sabri dan mengangkatnya sebagai ayah.

Ia juga mengatakan bahwa ia akan mengurus administrasi Kakek Sabri agar bisa berobat ke rumah sakit. Ia tidak tega melihat Sabri yang sering jatuh lantaran matanya yang sebelah kiri belum diobati.

“Berharap kepada pemerintah bisa membantu dan memperhatikan warganya, kepada keluarga dan anak ya bisa menjemput karena seumur Kakek Sabri tidak lagi hidup sendirian karena sudah usia lanjut,” ujarnya.

Fajri siap dan rela meluangkan waktunya empat jam sekali mengontrol Kakek Sabri, “Insyaallah aku siap memperhatikannya. Walaupun tidak 24 jam karena aku ini ada anak bini banyak keperluan juga perbulan jadi cuma bisa setiap 4 jam sekali bisa diluangkan untuk mengontrol,” tandasnya.