Cadar, Cingkrang dan Kebangkitan Peradaban Islam
Dr Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

Geerzt yang menekankan simbol dalam kajian budaya tentu terkait dengan symbol dan meaning dalam pendekatan symbolic-interactional, yang dikembangkan para sosiolog, khususnya Max Weber. Meaning atau makna dari simbol, penting untuk melihat sejauh apa interaksi sosial akan berjalan baik. Jadi pertanyaan di atas, harus mampu membongkar makna dari simbol cadar dan cingkrang tersebut.

Di Eropa, penggunaan cadar beberapa tahun lalu dilarang. Denda diberlakukan terhadap wanita muslim yang menggunakan cadar dibeberapa area/kantor publik.

Ketidaksukaan masyarakat barat terhadap simbol-simbol yang berasosiasi dengan Islam, dapat ditarik jauh dalam sejarah permusuhan Kristen dan Islam di masa lalu. Pembantaian 50 orang jemaah Masjid beberapa waktu lalu di Christchurch, New Zealand, misalnya sebagai bagian orang-orang barat. Terdapat jejak digital pembunuhnya terinspirasi kelanjutan perang Salib terhadap ummat Islam. Disamping konflik Kristen vs Islam di era pertengahan lalu, kapitalisme barat (non agama) juga mempunyai permusuhan atau ketidaksesuaian konsep dengan pandangan Islam soal peradaban. Sebab, kolonialisme barat terhadap negara-negara Islam menghadapi perlawanan konsisten dari organ perjuangan Islam.

Islam di barat, sebagai agama migran di sana, harus beradaptasi pada peradaban barat tersebut. Beberapa pengusaha keturunan Arab di Prancis dan Belgia, misalnya, akan membayar berapapun denda yang dikenakan kepada perempuan Muslim karena tetap menggunakan cadar. Langkah mereka ini, sebagai bentuk empati. Namun, akan sampai kapan pelarangan cadar ini diberlakukan, belum diketahui.

Di Indonesia, kesadaran baru ataupun invention atau redifinition atas penutupan aurat wanita dalam Islam, sangat gencar dilakukan sejak era 80-an. Mun’im Sirry, orientalis liberal dari Notre Damme University of USA, yang membiayai tujuh riset terkait agama di Indonesia saat ini, menyatakan bahwa kesadaran berhijab ini merupakan silent revolution selama puluhan tahun, yang didukung juga oleh fashion industry. Silent revolution karena hal itu ketika disadari ternyata telah berlangsung dominan.

Konsep berhijab

Bercadar sendiri adalah konsep berhijab, yang bukan hanya menutup seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah, namun bercadar hanya membiarkan mata saja yang boleh terbuka buat wanita di ruang publik. Varian penafsiran soal hijab dikalangan ulama, meskipun mayoritas menganggap berhijab dengan jilbab adalah sesuai agama, sedangkan cadar sebagai bentuk ekstrim, atau berlebihan. Namun kesalehan orang-orang bercadar tidak dapat dikecilkan.

Konsep berhijab atau menutup aurat bagi wanita bukanlah kepentingan wanita itu sendiri, namun merupakan bagian konsep keluarga. Dalam konsep ini, wanita selama ini mengambil peran (agency) membesarkan anak-anaknya, ketika suaminya fokus di luar rumah mencari nafkah. Dengan berhijab, wanita selain melindungi dirinya dari pergaulan terbuka, juga memberi pesan nyaman bagi suaminya yang terpisah sepanjang hari.

Penutupan wajah kecuali mata dan tangan, atau bercadar, merupakan tindakan wanita yang dapat dipahami dalam perluasan atau ekstensi kenyamanan wanita dan keluarganya tersebut. Jika penafsiran agama yang mereka yakini mengaitkan ini pula sebagai hijab yang sempurna, tentu kita harus mengapresiasi hal tersebut, sebagai bentuk kesalehan wanita Indonesia, sesuai sila pertama Pancasila.

Di Indonesia, terlebih lagi, Islam adalah ajaran utama yang menaungi 80% penduduknya. Jika di barat Islam adalah pendatang, maka di Indonesia Islam adalah tuan rumah. Sehingga menjadi ganjil rasanya orang-orang bercadar dan bercelana cingkrang dianggap outsider, bukannya dilindungi dan dimanja oleh kekuasaan yang ada.

Selanjutnya: < 1, 3 >

Penulis: Dr syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle