Gethok Tular
Gethok Tular
Muhammad Afnan Hadikusumo
Muhammad Afnan Hadikusumo

Di sebuah tempat dengan hamparan yang luas tampak pemandangan yang indah. Di salah satu sudut di bawah pohon yang rindang tampak KHA Dahlan dan Nyai Haji Ahmad Dahlan, dikelilingi beberapa founding father republik ini. Mereka, antara lain : Fatmawati, Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, Ir Djuanda, KH Fachrodin, Prof Hamka, Gatot Mangkupraja, KH Mas Mansyur, Ki Bagoes Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Nani Wartabone, Prof Abdul Kahar Muzakir, dan AR Baswedan.

Yaa, siang itu sedang berkumpul beberapa pahlawan nasional untuk mengisi waktu senggang. Semuanya memakai baju putih dan duduk bersila di atas hamparan rumput hijau. Karena duduk bersila, tidak diketahui celananya cingkrang apa tidak.

Mengawali dialog siang itu, KHA Dahlan berkata, “saya bangga dengan perjuangan saudara-saudara semua sehingga rakyat Indonesia merdeka dari penjajahan. Di samping itu, saudara-saudara tidak henti-hentinya turut memberantas kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang masih menghinggapi sebagian rakyat kita.”

Sukarno yang waktu itu didampingi bu Fatmawati menjawab, “alhamdulillah pak Kyai, berkat pengajaran dari pak Kyai selama ini, saya selalu menyampaikan kepada rakyat bahwa untuk memberantas kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan kuncinya adalah Kemerdekaan dan Kemandirian.”

Jendsral Soedirman yang dari tadi mendengarkan dengan sorot mata yang tajam menimpali, “untuk mencapai kemerdekaan dan kemandirian itu, harus dilakukan dengan semangat pantang menyerah. Percaya dan yakinlah bahwa kemerdekaan satu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa, harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapa pun juga.”

“Alhamdulillah pak Kyai, negara kita saat ini sudah memiliki kepastian wilayah karena proposal tentang kewilayahan Indonesia yang kami cetuskan pada 13 Desember 1957 dapat diterima oleh PBB. Walapun pada waktu itu ditentang sejumlah Negara. Proposal ini berisikan pernyataan Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia, dan bukan kawasan bebas. Akibat Deklarasi tersebut luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat, dari 2.027.087 km persegi menjadi 5.193.250 km persegi,” kata Djuanda sambil membetulkan kacamata bulatnya yang agak melorot.

Fachrodin yang waktu itu duduk di sebelah kiri KH A Dahlan menyahut, “betul apa yang disampaikan nak mas Soekarno dan nak mas Soedirman. Perjuangan harus dilakukan di semua lini, termasuk di media. Pengalaman saya waktu itu, perjuangan melalui media telah membuka cakrawala pandangan masyarakat dan membangkitkan semangat para pemuda untuk ikut serta berjuang merebut kemerdekaan.”

Kasman Singodimejo yang waktu itu duduk di samping Fachrodin menyela, “sebelumnya saya mau minta maaf kepada kang mas Ki Bagoes Hadikusumo, karena telah membujuk kang mas sehingga lepaslah tujuh kata dalam Pancasila.”

Ki Bagoes yang namanya disebut oleh pak Kasman menimpali, “sudahlah mas Kasman, semua diambil hikmahnya. Penghapusan tujuh kata dalam Pancasila itu menunjukkan bahwa umat Islam rela berkorban demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini juga menunjukkan bahwa Ummat sebenarnya cinta persatuan dan kesatuan.”

Kahar Muzakir yang duduk di seberang Ki Bagoes menimpali, “untuk menutup kekecewaan Ki Bagoes, kami bersama dengan teman-teman memulai langkah nyata melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan tinggi Islam pertama yakni Universitas Islam Indonesia.”

Sementara Nani Wartabone yang sedari tadi diam, unjuk bicara. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Muhammadiyah, karena dari sanalah saya belajar berorganisasi, sehingga saya dengan teman-teman dapat mendirikan organisasi kepemudaan Jong Gorontalo pada tahun 1923 di Surabaya (Nani dalam kepengurusan menduduki posisi sekretaris). Selain itu kami juga memiliki keberanian untuk menangkap Kepala Jawatan Tentara Belanda di Gorontalo sehingga bumi Gorontalo terbebas dari pendudukan Belanda.”
AR. Baswedan dengan baju gamisnya menyahut : “Menyambung yang disampaikan akhi Soekarno, sesungguhnya kemerdekaan itu perlu pengakuan dari negara lain. Oleh karena itu, kami dengan pakaian ala kadarnya berangkat ke Mesir untuk mendapatkan pengakuan dari negara itu. Dan Alhamdulillah pada 10 Juni 1947, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Mesir Nokrashi Pasha berkenan menerima rombongan delegasi Indonesia serta menandatangani surat (Pengakuan Mesir terhadap Kedaulatan Republik Indonesia)”.

KHA Dahlan, sambil memperbaiki posisi duduknya berkata, ” iIntinya begini, sebuah perjuangan akan berhasil jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dilandasi dengan keihlasan. Tanpa itu semua yang akan terjadi adalah saling cakar antara satu orang dengan yang lainnya. Tidak akan ada hasilnya.”

Tiba-tiba lamunanku menguap, gara-gara seorang Barista di Bangi Kopi Bandara Halim tiba-tiba datang dengan membawa satu gelas Espresso macchiato pesanan saya, “Ini bos pesanannya.”

Penulis: Afnan Hadikusumko/ Ketum PP Tapak Suci