Mufti Umat Islam Samara, memberikan pidatonya pada Maulid Nabi di Rusia

Samara, Menara62.com— 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah, di Kota Mekah, Baginda Rasulullah dilahirkan. Seorang anak lelaki yang lahir dalam keadaan yatim, di sebuah tempat yang terbelakang dan jauh dari peradaban.

Namun anak lelaki yatim bernama Muhammad itulah, yang akan menjadi orang paling berpengaruh di dunia. Hingga kini, namanya selalu disebut, diingat, dan dicintai. Bahkan hingga saat jasad beliau sudah tak berjalan lagi di dunia, masih jutaan orang yang berharap dapat bertemu dengan beliau di dalam mimpi.

Muhammad adalah Rasulullah yang diturunkan khusus untuk orang Arab. Rasulullah adalah rasul terakhir yang diturunkan, untuk seluruh umat manusia. Ajaran Islam yang dibawanya, diteruskan dan diajarkan terus oleh para penerusnya. Menembus batas waktu dan tempat. Menembus batas latar belakang geografis dan sosial.

Hingga Islam sampai di Rusia. Sebuah tanah yang dingin, dan tidak subur. Peradaban yang dingin, keras dan tidak ramah ini, dilelehkan dengan mudah oleh ajaran Islam. Orang-orang Rusia yang sangat jarang tersenyum, bisa tersenyum dengan sumringah saat menjawab salam dari saudara seimannya. Islam melembutkan hati Manusia Rusia yang dingin dan keras.

8 November 2019 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1441 Hijriah, Umat Muslim Rusia yang tinggal di Kota Samara mengadakan perhelatan besar. Sebuah teater mewah era Uni Soviet disewa. Panggung dihias, dan umat Muslim keluar rumah menuju gedung teater itu dengan menunjukan identitas muslim mereka.

Umat Muslim Rusia menyambut Maulid nya Baginda Nabi Muhammad, dengan sebuah acara khusus. Kami yang minoritas ini berkumpul, memperingati, dan berefleksi makna dari Maulid Nabi Muhammad.

Di Indonesia, Maulid nabi meriah adalah hal yang wajar karena Islam adalah mayoritas. Namun di Kota Samara yang penduduk Muslimnya minoritas ini, mengadakan Maulid Nabi, saling berkumpul, berpelukan dan berdiskusi adalah hal yang mengharukan.

Acara Maulid Nabi di Samara kali ini, mengusung tema “Aku Dikirim Sebagai Pertolongan”. Sebuah tema yang merenungkan betapa jauhnya dakwah Rasulullah, dari segi tempat dan waktunya. Namun dakwah tersebut tetap sampai ke Bumi Rusia.

Tema yang menitikberatkan, kepada seluruh Muslim yang berada di Samara untuk tetap berdakwah. Sebagaimana Rasulullah berdakwah, sebagai rahmat bagi seluruh semesta alam. Tak perduli di manapun, dan apapun status kita, harus berdakwah.

Pemandu utama acara Maulid ini, Muhammad Rasul Makarov. Seorang Muslim yang bekerja sebagai pembawa acara TV Rusia, menitikberatkan diskusi pada persoalan semangat dakwah yang harus digelorakan.

Makarov berpidato dengan penuh semangat, “Kita hadir di zaman yang penuh kemudahan! Rasul kita dulu, tidak memiliki semua kemudahan yang kita miliki. Tidak ada mobil, tidak ada pesawat, tidak ada TV, tidak ada internet. Tapi beliau berhasil berdakwah.”

Makarov menambahkan, “Bahkan di zaman kegelapan umat Muslim di era Uni Soviet, selama 70 tahun kakek-kakek, dan ayah-ayah kita lari dari kota. Bersembunyi di gubuk-gubuk kecil di kampung yang dingin. Demi melindungi akidahnya, melindungi imannya. Kita harus lebih bersyukur dan memanfaatkan keadaan.”

Selanjutnya, Mufti Umat Islam Samara, Talip Yarullin, menyampaikan pidatonya. Beliau berkata dengan tenang, “masalah yang dihadapi umat Islam di Rusia umumnya saat ini adalah pengkaderan. Setelah 70 tahun, pendidikan Islam terputus dan ajaran agama diajarkan seadanya. Kita harus benar-benar mendidik anak-anak kita. Terutama pada persoalan Akidah, Ibadah, dan Akhlak”.

Mufti berpesan dengan menekankan “Kita mesti mengejar ketinggalan selama 70 tahun. Kita mesti menghapus duka masa lalu, dan mesti menyiapkan masa depan. Kita tidak boleh meninggalkan generasi sekarang, menjadi generasi yang lemah”.

Lalu Mufti Umat Islam Dagestan, Ahmad Affandi Abdulaev, dengan ceria menyampaikan pidatonya. “Apalagi yang mesti membuat kita bersedih, saat ini adalah saatnya kita bangkit sebagai umat. Jangan tunjukan pada dunia kesedihan kita. Kubur itu dan bergembiralah. Berjalanlah di dinginnya salju Rusia ini dengan wajah yang ceria. Kita sampaikan dakwah kita dengan hati yang riang dan penuh kedamaian”.

Pidato Mufti Dagestan itu disambut meriah seluruh audiens. Kami semua berdiri dan bertepuk tangan dengan penuh suka cita. Sambil sekali lagi, memeluk saudara seiman kita yang duduk di sebelah kursi kita.

Lalu acara dilanjutkan dengan pemutaran film. Film berbahasa Rusia yang menggambarkan momentum kelahiran Rasulullah. Film yang sangat menyentuh hati siapapun, yang masih ada iman di hatinya. Banyak audiens yang menangis terharu menonton film yang mencerahkan itu.

Lalu acara dilanjutkan dengan acara hiburan yang diisi oleh Ramadan Mijidov yang membawakan empat lagu nasyid berbahasa Rusia yang sangat merdu dan syahdu. Dan diselingi dengan quis berhadiah yang dipandu oleh Muhammad Rasul Makarov.

Pukul 21.00 acara ditutup. Panitia melepas seluruh audiens di pintu keluar teater. Mereka membagikan bunga mawar kepada audiens wanita dan anak-anak. Perlambang dari wanita dan anak-anaklah misi dakwah Islam Rusia berlanjut.

 

Umat Islam Indonesia Mesti Bersyukur

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim, bahkan negara dengan Muslim terbanyak di dunia mesti bersyukur. Di Indonesia masih sangat mudah melakukan syiar-syiar Islam. Di Indonesia masih sangat mudah menemukan masjid. Bahkan di tiap gedung perkantoran, hingga di kampung-kampung mudah menemukan mushala.

Di Rusia, hidup sebagai Muslim bukan hal yang mudah. Memang saat ini tidak ada tindakan represif dari penguasa Rusia terhadap Umat Islam. Bahkan Islam diakui dan dijamin oleh hukum keberadaanya.

Tapi berbaur dengan masyarakat mayoritas, di negeri yang dingin ini tidak mudah. Keluar dari bayang-bayang “Pemberontak” “Orang buangan” “Orang Gunung” “Terbelakang”, dan terlebih “Minoritas” itu sangat sulit. Menjaga sholat lima waktu di Rusia sangat sulit, karena tak ada mushola di kampus atau tempat kerja. Mengambil izin kerja atau kuliah untuk Sholat Jumaat, itu hampir tidak mungkin.

Tapi momentum Maulid ini, menjadi momentum bangkitnya kami, Muslim Rusia. Apapun yang terjadi, dakwah harus tetap digelorakan. Dakwah yang damai dan penuh rahmah, penuh kasih sayang.

Diamnya kita adalah Dzikir. Berbicara kita adalah nasihat. Dan Tindakan kita adalah Ibadah. Hingga kita sadar bahwa seluruh hidup kita adalah dakwah. Itulah pesan Mufti Umat Islam Dagestan saat menutup acara Maulid Nabi di Rusia tahun ini.

Diki Hermawan