Demonstrasi yang terjadi di Tembok Berlin, 30 Tahun yang lalu (Indopolitika.com)

SAMARA, Menara62.com— Peristiwa runtuhnya tembok Berlin, 30 tahun yang lalu. Tepatnya 9 November 1989.  Peristiwa besar dalam sejarah, bersatunya kembali Jerman yang terpisah, akibat perebutan kekuasaan pasca Perang Dunia II.

Pemimpin besar Uni Soivet, Mikhail Gorbachev datang ke Jerman Timur pada Oktober 1989, sebulan sebelum keruntuhan. Beliau disambut layaknya dewa penyelamat. Dielu-elukan oleh seluruh rakyat Jerman Timur, “Gorby! Gorby!”. Bahkan disambut dengan jauh lebih meriah dibanding Erich Hanocker, Pemimpin Jerman Timur.

Harapan rakyat Jerman Timur pada Gorbachev bukan tanpa sebab. Beliaulah satu-satunya pemimpin Soviet yang konsisten akan melakukan reformasi. Glasnot (keterbukaan) dan Perestroika (Perdagangan yang lebih bebas), menjadi ide yang Gorbachev anggap akan menyelamat Soviet dari krisis ekonomi, dan mengejar ketertinggalan dari musuhnya, negara-negara barat kapitalis.

Sekalipun reformasi itu membawa kiamat pada Uni Soviet sendiri, Reformasi Gorbachev adalah harapan bagi Jerman Timur. Setelah lebih dari 40 tahun, mereka hidup sebagai “tembok terluar” dari perang dingin Uni Soviet dan Barat.

Perang tanpa benar-benar berperang. Adu kuat ideologi yang saat itu adidaya, kapitalisme versus sosialisme. Dua kekuatan yang saling berebut pengaruh, beradu inovasi, bahkan berlomba menuju angkasa.

Namun sayang, perang dingin tetaplah perang. Perang dingin membawa duka dan petaka, terutama bagi Jerman Barat dan Jerman Timur. Negara itu dibagi dua seperti kue kekuasaan, dibatasi oleh tembok tebal bernama, Tembok Berlin.

Jerman Barat yang dikuasai oleh Amerika dan sekutunya, mempraktikkan pola bernegara ala kapitalisme dan demokrasi. Jerman Timur yang dikuasai Uni Soviet mempraktikkan pola bernegara ala sosialisem dan komunisme. Dua sistem bernegara yang berbeda, menghasilkan dua keadaan yang berbeda di Jerman Barat dan Jerman Timur.

Sayang sekali bagi Uni Soviet, Jerman Timur adalah saksi gagalnya sistem sosialisme. Data dari Pew Research Center, pada tahun 1980 Upah pekerja di Jerman Timur hanya 37% dibandingkan besaran upah pekerja di Jerman Barat. GDP Jerman Timur hanya 33% dibandingkan GDP Jerman Barat. Angka kepuasan hidup, life satisfation masyarakat Jerman Timur hanya 15% sedangkan Jerman Barat 50%.

Keadaan yang berbanding terbalik itu ditambah rasa nasionalisme Bangsa Jerman, yang menginginkan reunifikasi negaranya seperti dulu. Walaupun Jerman Barat lebih maju dan lebih sejahtera, mereka ingin bersatu dengan saudaranya Jerman Timur. Dua saudara sebangsa yang dipisahkan, dalam rangka pembagian kue kekuasaan negara pemenang perang.

Gelombang unjuk rasa masif dilakukan, terutama oleh masyarakat Jerman Timur yang merasa sangat tidak puas dan tersiksa dengan keadaan mereka. Mereka mengutuki kebijakan Uni Soviet yang lebih mementingkan penyerbuan ke Chekoslovakia, pemasangan rudal balistik di jalur-jalur penting Eropa.

Namun Gorbachev menyingkirkan semua teror itu. Gorbachev lebih memilih melakukan reformasi internal ketimbang melanjutkan aksi teror dan unjuk kekuatan. Momentum itulah yang sangat diharapkan rakyat Jerman Timur,  bisa membawa perubahan.

Gorbachev yang lunak dan reformasinya yang melunakkan kerasnya tirai besi Uni Soviet, “membayar dengan mahal” reunifikasi Jerman. Tembok Berlin diruntuhkan, dan Jerman bersatu kembali sebagai sebuah negara yang utuh.

 

Kontradiksi Reunifikasi Jerman

Reunifikasi Jerman yang berhasil, membawa dampak berantai yang tidak sedikit bagi Uni Soviet. Negara-negara bawahan Uni Soviet yang lain, mulai memberikan respon “iri” dengan cara Gorbachev menyelesaikan permasalahan Jerman Timur.

Bukan hanya Jerman Timur negara yang sengsara di bawah Uni Soviet. Negara-negara bawahan lainnya juga merasa tidak puas. Konflik Armenia dan Azerbaijan, Konflik Khazakstan, Konflik Balkan, semuanya menuntut perhatian pemerintah pusat.

Dan sayangnya, reformasi Glasnot dan Perestroika tidak mampu menyelesaikan banyak persoalan sekaligus. Penyakit Uni Soviet saat itu sudah terlalu kronis, dan terlambat disembuhkan dengan Perestroika. Bahkan Glasnot membawa dampak bumerang pada pemerintah pusat, yang diprotes habis-habisan oleh negara-negara bawahannya.

Hingga akhirnya, Uni Soviet hanya bertahan dua tahun setelah menyatukan kembali Jerman. Tahun 1991, catatan sejarah Uni Soviet terhenti. Meninggalkan banyak masalah bagi penerusnya, Rusia.

Lembaga Survei Independen Levada Center Pollster, memberikan data pada 2004 dan 2014. Data tersebut menunjukan sejauh ini, respon publik Rusia terhadap reunifikasi Jerman positif.

Namun pada data dari sumber yang sama, pada 2018 yang diambil dari responden berusia 20 – 30 tahun. Data tersebut menunjukan 28% responden tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada reunifikasi Jerman. Bahkan 52% responden merasa sekadar tahu dan “masa bodo” dengan sejarah itu.

Andrei Kolesnikov, peneliti politik senior di Moscow berpendapat. “Kesadaran sejarah generasi muda Rusia mengalami dekadensi yang serius. Mereka merasa hanya penting untuk bertahan hidup, bukan mempelajari sejarah bangsanya sendiri”.

Data 2018 juga menunjukan, hanya 5% dari responden yang “merasa bangga” dengan Perestroika, sebagai mementum dimulainya reformasi pasar. Mereka iri dengan bagaimana Jerman bisa jauh lebih berkembang dari segi politik, dan sistem demokrasi, dibandingkan kondisi demokrasi Rusia saat ini.

Di Jerman, 65% dari masyarakat mereka menyatakan puas dengan demokrasi. Sementara di Rusia, hanya 30% dari masyarakat yang menyatakan puas terhadap demokrasi. Keadaan ini menjadi faktor utama irinya masyarakat Rusia terhadap Jerman, yang dulu berhutang budi pada mereka.

Sekalipun begitu, hanya 24% masyarakat Rusia yang merasa malu dengan perbedaan keadaan negaranya dibanding negara-negara barat. Hal ini menunjukan bagaimanapun keadaannya, nasionalisme Bangsa Rusia sangat tinggi.

Rakyat Rusia merasa bertanggungjawab untuk memperbaiki keadaan negaranya. Bagaimanapun kondisi yang dihadapi mereka kini.

Begitulah keadaan pikiran orang-orang Rusia. Mereka menyimpan banyak kontradiksi dan menyembunyikan banyak hal. Namun melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan.

Bagaimana dengan pemikiran anak-anak Ibu Pertiwi di Indonesia saat ini?

 

Diki Hermawan

(Sumber : http://moscowtimes.com