Al Khawarizmi mungkin tidak akan mengira temuannya tentang angka nol akan mengubah wajah dunia berabad-abad kemudian. Bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi adalah penemu algoritma sebagai cabang ilmu Matematika. Awalnya, algoritma hanya dikenal sebagai proses menghitung dengan angka Arab. Pelakunya disebut algorist yang memang seakar dengan kata algoritma.

Kata algoritma berasal dari buku Arab, al-jam’i wa’ l-tafriq bi-hisab al-Hid, yang tak lain dan yang tak bukan adalah karya Al Khawarizmi itu sendiri. Orang Barat membacanya sebagai algorism. Algoritma memiliki pengertian yaitu langkah-langkah yang logis mengenai penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis.

Namun, pengertian algoritma kini tidak sesederhana itu, bahkan kian kompleks dan telah menjelma menjadi kekuatan yang menghegemoni dunia. Berbicara algoritma maka erat dengan artificial intelligent. Tengok pendapat Profesor bidang Machine Learning di Universitas Oxford, Stephen Roberts yang mengungkapkan, “We’re certainly nowhere near that particular point where there are going to be swarms of armies of robots that are taking over the world. We have to remember that automation and autonomy are something that is very deeply embedded within our world already. Whether it’s from algorithms that are trading on global financial markets, to smart algorithms that are scanning our emails.” (Al Jazeera, 2017)

Roberts menitikberatkan bahwa kehidupan saat ini semuanya sudah saling terkoneksi, robotik dan autonomous. Pendapat Roberts sesungguhnya menggambarkan realitas. Kita hidup di era kemajuan teknologi yang cepat dimana kecerdasan buatan adalah kenyataan, bukan fantasi fiksi ilmiah. Setiap hari kita bergantung pada algoritma untuk berkomunikasi, melakukan perbankan online, memesan tiket transportasi dan liburan hingga membaca kitab suci serta mendengarkan khutbah pemuka agama yang sealiran.

Mobil tanpa pengemudi menjadi purwarupa yang dipamerkan di ajang bergengsi. Kecerdasan buatan ini digunakan untuk segala hal, mulai dari mendiagnosis penyakit hingga membantu polisi memprediksi titik-titik panas kejahatan. Fenomena yang sangat menarik hingga menimbulkan pertanyaan, siapakah yang dikuasai dan diinvasi? Manusia yang menguasai mesin? Ataukah mesin yang menguasai manusia?

Pertanyaan yang mungkin bisa didapat jawabannya setelah menonton Avengers: Age of Ultron dan Chappie. Film fiksi besutan Marvels dan Columbia Pictures itu memang menunjukkan bahwa manusia saat ini sudah berada di era kecerdasan mesin yang luar biasa. Meski terlalu mengkhayal karena mesin di film itu tidak hanya bisa berpikir, namun juga belajar, memiliki perasaan serta membuat kesimpulan dari sejumlah variabel berbeda.

Secara infrastruktur, Indonesia sudah memiliki perangkat pelayanan internet yang bagus. Setidaknya bisa dilihat dari peta kecepatan internet negara dunia yang dirilis perusahaan Inggris, Cable pada 2017. Cable memosisikan Indonesia di peringkat ke-75 uji kecepatan akses broadband di seluruh dunia. Dari hasil penelitian selama hampir satu tahun, kecepatan rata-rata internet di Tanah Air adalah sebesar 5 Mbps. Tentunya, ini adalah data rata-rata keseluruhan wilayah Nusantara yang demikian luas, namun jika dilihat di kota-kota besar, kecepatan lebih dari itu.

Dengan kondisi demikian, tidak heran kalau masyarakat lebih nyaman menonton talkshow, sinetron, film box office di gawai ketimbang di stasiun tv teresterial. Terkoneksi dengan medsos pun dilakukan mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali di malam hari. Apa saja dishare, apa saja dikomentari, mulai dari kuliner, tempat wisata, kondisi politik hingga masalah perdebatan fikih.

Dalam konteks kehidupan agama di Indonesia, perkembangan teknologi digital memiliki keterkaitan erat. Algoritma dapat membantu penyebaran konten-konten dakwah secara mudah dengan jangkauan luas. Masyarakat pun bisa menyaksikan langsung ceramah para ustadz sesuai dengan pilihan masing-masing. Media-media bernuasa agama pun tumbuh bak cendawan di musim hujan. Semuanya memiliki panggung untuk berebut audiens serta membagi gagasan dan ide tentang agama. Sehingga tidak ada lagi dominasi wacana, semuanya setara dan memiliki kemampuan untuk memopulerkan apa yang diyakini.

Algoritma telah melahirkan agama siber yang memiliki karakteristik tersendiri. Konten bermuatan agama yang tersebar secara terus menerus di dunia maya dengan bantuan mesin sehingga masyarakat mendapatkan informasi secara berlebihan. Pada awalnya konten agama di internet dijadikan wadah komunikasi bagi individu-individu. Namun, dalam perjalanannya terjadi proses kreatif yang menjadikan konten agama lebih menarik. Peran mesin menjadi dominan karena individu bisa melakukan multi interaksi, seperti chatbot, kendali jarak jauh hingga terciptanya sharia smart city.

Pemeluk agama menjadikan teknologi digital sebagai sumber informasi dengan simbol religius. Lebih dari itu, teknologi juga menjadikan ruang publik sebagai tempat untuk mengutarakan dan mengartikulasikan makna-makna religius yang telah mereka buat. Keluh kesah tentang kondisi agama semuanya tertuang di dalam media baru ini. Mesin yang kemudian memainkan peran akan dikemanakan konten-konten tersebut. Sehingga marak lah kehidupan maya kita dengan komentar, baik negatif atau positif, ciutan, meme, video dan lain sebagainya.

Begitu digdaya-nya algoritma hingga mampu mengubah konstalasi sosial politik di sebuah negara. Kegaduhan demi kegaduhan memenuhi ruang publik sehingga hal-hal privat ikut terbawa-bawa. Peci miring ustadz anu dibicarakan, bahkan sarung kepala negara ikut menjadi obyek pembicaraan. Dalam konteks politik, pemilu presiden dan kepala negara menjadi hot issue yang bisa tren berhari-hari. Petualang-petualang bermunculan dan menambah sesak kehidupan agama di dunia maya. Apalagi ditambahkan kemampuan mereka untuk memainkan algoritma secara cerdas.

Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan. Selain penegakkan hukum, upaya penyadaran terhadap warga negara tentang pentingnya internet yang sehat, baik melalui pendidikan dan pendekatan agama, harus dilakukan secara terus menerus. Manusia tidak boleh dikuasai mesin, karena aspek kemanusiaan tidak boleh hilang meski sudah secanggih apa pun teknologi sebuah negara. The real problem is not whether machines think but whether men do. (*)

Mohamad Fadhilah Zein
Peneliti Menara62 Institute