JAKARTA, MENARA62.COM — (10/11/2019), Pengamat politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Andriadi Achmad menilai berdirinya partai Gelora Indonesia tak jauh berbeda dengan berdirinya partai politik lainnya yaitu karena terjadi perpecahan dan keretakan internal parpol induknya. Seperti berdirinya Hanura (2006), Gerindra (2008), Nasdem (2011), Berkarya (2016), disebabkan keretakan internal Golkar atau PBR (2002) pecah dari PPP, atau PDP (2005) Roy BB Janis berdiri pecah kongsi dari PDIP, lalu PKBIB (2002) Yenni Wahid pasca PKB dikudeta Muhaimin dari Gus Dur, Partai Matahari Bangsa (2006) pecahan dari PAN. Begitu juga berdirinya partai Gelora Indonesia (2019), disebabkan retaknya internal PKS. Oleh karena itu, tidak ada yang istimewa dengan berdirinya partai Gelora Indonesia.
“Keretakan internal PKS menyebabkan lahirnya partai Gelora Indonesia. Jadi tidak ada yang istimewa. Sesuatu hal yang lumrah saja, layaknya berdiri partai baru karena persoalan internal dan pecah kongsi, kemudian untuk menyalurkan saluran politik fungsionaris yang terpental dengan mendirikan parpol baru,” jelas Andriadi Achmad kepada media saat diwawancara.
Direktur Eksekutif Nusantara Institute PolCom SRC (Political Communication Studies and Research Center) menjelaskan bahwa demokrasi di Indonesia belum mampu menjelma menjadi Political Consolidated (konsolidasi demokrasi). Pasalnya kualitas  politik Indonesia masih konvensional, primitif, dan primordial Isme. Misalnya dalam pilpres, tidak mungkin yang akan menjadi presiden Indonesia kalau bukan berlatar belakang suku Jawa. Karena secara kuantitas, suku Jawa mendominasi penduduk Indonesia. Lalu, kedewasaan berpolitik para politisi yang sangat rendah yaitu mudah ngambek, syahwat politik yang berlebihan bahkan meminjam teori Machiavelli berpolitik  untuk  mencapai  kekuasaan dengan segala cara.
“Demokrasi di Indonesia belum menunjukkan telah terkonsolidasi. Masih standar, low political quality, primordial. Jadi, jangan harap dan bermimpi dari suku lain akan terpilih menjadi presiden RI, kalau bukan dari suku Jawa. Kalau ngambek dengan parpol lama, mendirikan parpol baru,” tegas Andriadi di sela-sela wawancara.
Keretakan internal PKS, pada akhirnya berujung dengan berdirinya partai Gelora Indonesia sangat di sayangkan. Padahal secara kalkulasi politik dan ramalan politik para ilmuwan politik Indonesia diawal reformasi 20-an tahun lalu bahwa PKS akan menjadi parpol pemenang pemilu, cuma tidak terdeteksi waktunya (2014, 2019 atau 2024, 2029). Selain ramalan lain yaitu the rising star pemilu 2004 “Demokrat dan PKS”, SBY dan Demokrat menjadi pemenang pemilu (2009) – pilpres (2004 & 2009).
“Prediksi saya, jika tidak terjadi keretakan internal. PKS berpeluang menjadi pemenang pemilu dan menguasai Indonesia di pemilu 2024 atau 2029. Kalau dalam platform PKS yaitu tahapan mihwar dauli (berkuasa di tataran negara). Namun, setelah berdirinya parpol Gelora Indonesia, sepertinya sulit bagi PKS untuk mewujudkan impian tersebut. Kita lihat saja kedepan, karena politik itu begitu cair dan dinamis. Berubah-rubah terkadang tak terprediksi secara pasti dan tak terkendali. Siapa tahu suatu saat PKS dan Gelora Indonesia berkoalisi demi umat, bangsa dan negara,” demikian tutup Alumnus Pascapol FISIP UI ini mengakhiri wawancara.