Prof Thomas Djamaluddin (ketiga dari kanan) bertanya kepada siswa tuna netra tentang astronomi di Kampus Utama UAD Yogyakarta, Senin (11/11/2019). (foto : heri purwata)
close

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Dr. Muchlas, M.T., menandaskan UAD sedang mengembangkan Astronomi tidak hanya bisa dipelajari, dinikmati bagi orang normal saja. Namun, UAD sedang melakukan inovasi teknologi untuk pembelajaran astronomi agar bisa dipelajari oleh siapa saja, termasuk kaum difabel.

Muchlas mengemukakan hal tersebut saat memberikan sambutan pada General Lecture oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, M.Sc., di Amphitarium, Kampus 4 UAD Yogyakarta, Senin (11/11/2019). Kuliah umum diikuti sekitar 250 mahasiswa, komunitas astronomi, Dinas Pariwisata se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pusat tarjih PP Muhammadiyah, serta khalayak umum.

Lebih lanjut Muchlas menjelaskan kuliah umum ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran pengetahuan tentang astronomi bagi para mahasiswa dan publik, termasuk mereka yang masuk kategori difabel. Membangun komunikasi, kolaborasi, dan koordinasi antara LAPAN sebagai badan pemerintah pengambil kebijakan dan UAD sebagai pelaksana kebijakan.

Selain itu, kata Muchlas, memberikan akses yang lebih luas bagi publik dan sivitas akademika di lingkungan UAD untuk memperoleh pengetahuan astronomi. Mendukung dan meningkatkan penggunaan astronomi dalam pendidikan. Mendukung dan semakin meningkatkan keragaman komunitas astronomi yang inklusif dan egaliter.

Kemudian, mensosialisasikan kebijakan LAPAN dalam pengembangan antariksa dan kedirgantaraan. Mendorong kerjasama semua pihak untuk melakukan berbagai inovasi dalam pengembangan teknologi antariksa bagi para difabel

“Astronomi inklusi ini menjadi penting karena pada dasarnya setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan belajar yang sama, termasuk dalam bidang astronomi. Selama ini muncul pikiran bahwa astronomi hanyalah untuk mereka yang normal secara fisik saja,” kata Muchlas.

Padahal, jelas Muchlas, dengan kesadaran, kemauan bersama semua pihak, serta kemajuan teknologi yang semakin canggih menjadikan astronomi bisa di nikmati oleh semua orang. Karena isu ini relatif baru, maka diperlukan banyak inovasi pengembangan untuk mewujudkannya, termasuk adanya general lecture di UAD ini.

Sedang Dr. Yudhiakto, ketua panitia kegiatan ini sekaligus direktur Pusat Studi Astronomi UAD mengatakan semua orang berhak untuk belajar, apa pun kondisinya dan di mana pun tempatnya. “Astronomi untuk semuanya, ilmu pengetahuan untuk semuanya,” kata Yudhiakto.

Kuliah umum ini, lanjut Yudhiakto, didukung Pusat Studi Astromomi (PASTRON), Pusat studi CIRNOV, Pusat Studi Pariwisata dan Bisnis Kreatif (COTRES), Pusat studi PSLDA, serta FAI, LPSI dan Pusat Tarjih PP Muhammadiyah. Realisasi MoU dengan pusat-pusat studi yang ada di UAD berkaitan dengan aktivitas LAPAN. Misal, PASTRON melakukan kerjasama pengolahan data. COTRESS melakukan FGD potensi pengembangan wisata pada fasilitas LAPAN, PSLDa melakukan FGD fasilitas LAPAN yang ramah difabel.

Sementara Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan LAPAN memiliki empat kompetensi utama. Pertama, sains antariksa dan atmosfir. Kedua, teknologi penerbangan dan antariksa. Ketiga, penginderaan jarak jauh. Keempat, kajian kebijakan penerbangan dan antariksa.

“Kalau berbicara astronomi untuk disabilitas perlu ada metode dan peralatan peraga yang perlu disesuaikan. Di negara maju sudah ada teknologi atau pola pembelajaran astronomi untuk tuna netra. Sehingga disabilitas dapat mempelajari astronomi dan menikmati alam semesta. Astronomi dapat menambah keimanan kepada Allah SWT,” kata Djamaluddin.