Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat orasi ilmiah di Unair. (ist)
close

SURABAYA, MENARA62.COM – Riset dan inovasi dibidang kesehatan menjadi salah satu prioritas pemerintah. Riset ini kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang P. S. Brodjonegoro bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Pengembangan sumber daya manusia unggul salah satunya adalah manusia yang sehat yang harus dijaga dan disiapkan pelayanan kesehatannya yang prima tentunya dengan terjangkau baik akses maupun harga oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Menteri Bambang saat Orasi Ilmiah pada Sidang Senat Unair, dalam siaran persnya, Senin (11/11/2019).

Menteri Bambang mengungkapkan saat ini bahan baku obat-obatan dan alat kesehatan yang digunakan di rumah sakit Indonesia sebagian besar masih berasal dari luar negeri. Oleh karena itu, dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, lembaga riset dan perguruan tinggi Indonesia, perlu memperkuat riset dan inovasi di bidang kesehatan sehingga dapat dihasilkan produk obat-obatan dan alat kesehatan unggulan dalam negeri.

“Biodiversity yang cukup besar belum kita manfaatkan misalnya untuk bahan baku obat. Kita masih mengimpor sekitar 90 % bahan baku obat untuk memenuhi perbaikan pelayanan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu melakukan perubahan paradigma pembangunan kedepan dengan SDM yang unggul, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengubah paradigma pembangunan ekonomi kita dari Resource Based Economy ke Innovation Based Economy,” lanjutnya.

Menristek/Kepala BRIN menjelaskan perkembangan iptek kedokteran dan obat yang sangat cepat yang menuntut kesiapan SDM dan fasilitas pelayanan kesehatan di dalam negeri serta upaya-upaya penguasaan iptek kedokteran dengan cepat. Selain itu, daya saing dan kemandirian industri farmasi serta industri alat kesehatan Indonesia sebagai penopang utama penyediaan obat dan alat kesehatan dalam negeri perlu ditingkatkan.

“Inovasi tidak dilaksanakan sendiri-sendiri, akan tetapi harus dilakukan melalui sinergi antara semua stakeholders nasional antara lain Akademisi, Bisnis dan Pemerintah atau biasa disebut Triple-Helix,” jelasnya.

Menteri Bambang dalam orasi ilmiahnya mengapresiasi sumbangsih Unair yang telah melahirkan ratusan ribu lulusan serta  menghasilkan riset dan inovasi untuk mendukung pembangunan nasional sekarang dan dimasa yang akan datang. Unair saat ini telah banyak melahirkan inovasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan bangsa Indonesia terutama di bidang kesehatan, peternakan, dan lain sebagainya.

“Hasil riset dan inovasi seperti Stem-Cell yang merupakan metode pengobatan baru dalam berbagai penyakit, kapsul dari cangkang rumput laut yang selama ini bahan bakunya diimpor, dentolaser untuk kedokteran gigi, dan lain sebagainya. Ini membuktikan bahwa kita mampu untuk mengembangkan dan memproduksi sendiri obat-obatan dan alat kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” ungkap Menteri Bambang.

Lebih lanjut Menteri Bambang menjelaskan dalam rangka pelaksanaan strategi riset dan inovasi diperlukan dukungan penuh semua pihak untuk membawa hasil-hasil riset menjadi inovasi yang selanjutnya dikembangkan bisnis-bisnis baru atau membantu industri kesehatan dan industri lain nasional dalam meningkatkan daya saing.

Menteri Bambang berharap Unair terus berkembang dan melakukan inovasi-inovasi baru guna menghadapi tantangan masa depan yang perubahannya sangat cepat dan juga meyakini civitas akademika Unair selalu siap menghadapi tantangan perubahan sekarang dan masa yang akan datang sehingga Unair akan terus melahirkan sumber daya manusia unggul dan iptek untuk Indonesia maju.