Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat menghadiri Next Indonesian Unicorn Summit 2019 di Jimbaran Hub, Bali (ist)

DENPASAR, MENARA62.COM – Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan jika Indonesia ingin menjadi negara maju, maka sektor manufaktur harus juga bersiap maju, startup atau wirausaha harus bertambah banyak,  serta penguatan ekonomi berbasis digital harus terus dikembangkan.

“Peran Kemenristek/BRIN salah satunya adalah mengembangkan ekonomi digital. Kami turut bertanggung jawab untuk menciptakan sebanyak mungkin start up baru dan memastikan kontinuitas dari start up tersebut,” ujar Bambang saat menghadiri Next Indonesian Unicorn Summit 2019 di Jimbaran Hub, Bali dalam siaran persnya, Jumat (15/11).

Menteri Bambang menekankan pentingnya menciptakan technopreneur (pengusaha berbasis teknologi). Karena itu ia mendorong berbagai lapisan masyarakat untuk memperkuat riset, teknologi dan inovasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan jumlah kewirausahaan di Indonesia.

“Kita harus menciptakan ‘entrepreneur’ berbasis teknologi, atau di kementerian kami menyebutnya ‘technopreneur’. Menciptakan ‘technopreneur’ sangat penting, meskipun resiko gagal akan selalu ada, tapi kita harus tetap mencoba. Atau kita (Indonesia) hanya akan menjadi ‘big market’ dan tertinggal dalam menjadi produsen produk-produk inovatif,” lanjut Bambang.

Menteri Bambang mengapresiasi pendiri dan penggiat start up dalam menciptakan lapangan kerja baru. Dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini, akan banyak yang mengisi pekerjaan tersebut.

“Para pendiri dan penggiat start up merupakan pahlawan masa kini di era revolusi industri 4.0. Kalian akan menciptakan lapangan kerja baru, dimana dengan bonus demografi yang kita miliki akan banyak generasi millenial yang akan mengisi pekerjaan itu,” jelasnya.

Ketua Dewan Pembina NextICorn, Rudiantara mengatakan bahwa saat ini NextICorn telah menjadi yayasan independen, bersama dengan para pendiri dari berbagai perusahaan berskala global yang tergabung di dalamnya.

Dia mengatakan yayasan ini memiliki visi untuk menjadi motor penggerak inisiatif – inisiatif yang dapat memajukan sektor ekonomi baru di Indonesia, termasuk mendorong terciptanya unicorn baru. Hingga saat ini Indonesia memiliki 5 unicorn yaitu, OVO, Traveloka, Bukalapak, Tokopedia, dan Go-jek.

“Harapannya, melalui pertemuan pada summit ini dapat memicu terciptanya tiga unicorn baru di tahun depan. Sehingga dapat mendorong Indonesia untuk menjadi The New Economy Global Hub,” imbuhnya.

Selain berharap jumlah unicorn bertambah pada tahun depan, Ketua Yayasan NextICorn Daniel Tumiwa mengatakan melalui acara yang diselenggarakan hari ini juga merealisasikan minimal 1.500 pertemuan dari 4.800 permintaan yang sudah tercatat, antara 103 startup dan 169 investor selama 2 hari ke depan.

Dia mengatakan dengan banyaknya jumlah pertemuan yang terjalin, harapannya akan lebih meningkatkan kemungkinan terjadinya kesepakatan antara investor dengan perusahaan rintisan. Ia memprediksi ke depannya bahwa industri healthtech, agritech, edutech, logistik, fintech dan e-sports akan menjadi fokus utama incaran investor yang mau berinvestasi di sektor startup Indonesia.

Daniel menegaskan bahwa ajang ini bukan bertujuan untuk menciptakan lebih banyak startup lagi, namun untuk membantu perusahaan rintisan yang model bisnis dan strukturnya sudah kokoh, untuk naik kelas ke tingkatan selanjutnya.

“Untuk itu kami merumuskan standar yang komprehensif dalam mengkurasi startup ini. Jika dilihat dari pendanaannya, dari 103 perusahaan rintisan yang hadir kali ini, sekitar 20% sebelumnya sudah pernah mendapat pendanaan kurang dari US$ 1 juta. Sedangkan, 55% telah memperoleh pendanaan US$ 1 juta-US$ 5 juta, dan 25% di atas US$ 5 juta,” ujar Daniel.

Berdasarkan laporan terbaru dari Google dan Temasek, Indonesia kini merupakan salah satu negara ‘new economy’ dengan pertumbuhan ekonomi yang paling pesat dalam lima tahun terakhir di kawasan Asia Tenggara.

Oleh karena itu ‘research and development’ (R&D) harus kuat dalam mendukung Indonesia menjadi negara maju. Calon start up perlu melihat bagaimana meningkatkan nilai tambah dari komoditas-komoditas potensial yang dimiliki Indonesia.

Untuk mendukung peningkatan jumlah start up, Kemenristek/BRIN telah memiliki program PPBT (Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi) dimana startup terpilih, akan menerima sejumlah insentif/ pendanaan dan pembinaan. Selain itu, Kemenristek/BRIN juga memiliki beberapa ‘Science Techno Park (STP)’ potensial yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Agar inovasi yang dihasilkan dapat dikomersialisasikan menjadi produk massal, start up binaan Kemenristek didukung dengan ketersediaan inkubasi bisnis yang terdapat di berbagai STP tersebut.

“Artinya start up yang sudah kita bina, kita jaga track record nya agar menjadi ‘the next unicorn’, walaupun mungkin butuh waktu lama,” imbuh Menteri Bambang.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Ketua Dewan Pembina NextICorn Rudiantara, Ketua Yayasan NextICorn Daniel Tumiwa, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas T Lembong, serta tamu undangan lainnya.