Seorang kandidat PhD Indonesia saat berkonsultasi dengan profesor dari Belanda. (ist)
close

JAKARTA, MENARA62.COM – Nuffic Neso Indonesia bekerja sama dengan Academic Transfer kembali mengadakan PhD Recruitment. Acara ini memberikan kesempatan bagi para peneliti yang tertarik mengambil gelar PhD di Belanda untuk tatap muka dan berdiskusi langsung dengan para professor dan recruiter yang dapat menjadi pembimbing penelitian.

Kesempatan ini diharapkan dapat memfasilitasi kandidat PhD dari Indonesia untuk memperoleh Letter of Admission (LoA) dari pihak universitas Belanda yang nantinya akan membantu mewujudkan para peneliti untuk meraih gelar PhD.

Recuitment tersebut berlangsung di Erasmus Huis, Jakarta, Sabtu (17/11/2019). Sebanyak 148 calon peneliti Indonesia dari 415 kandidat yang mendaftar, melakukan temu janji dan berdiskusi secara langsung dengan professor dan recruiters penelitian dari universitas Belanda.

Temu janji kandidat PhD Indonesia diterima oleh 9 professor dan recruiters dari universitas Belanda. Ke-sembilan professor dan recruiters yang hadir dalam kesempatan PhD Recruitment tahun ini mempunyai bidang – bidang penelitian yang beragam seperti tekhnik, kewirausahaan, ilmu sosial, hukum, dan lainnya.

Sejumlah pendaftar yang tidak terseleksi nampak ikut hadir pada acara tersebut meski mereka tidak mendapatkan temu janji dengan professor dan recruiters. Mereka tetap diberikan kesempatan untuk berkonsultasi dengan Academic Transfer.  

Proses pendaftaran PhD Recruitment bermula dari para calon peneliti melakukan pendaftaran secara online. Mereka diwajibkan untuk melampirkan curriculum vitae dan riset proposal. Pendaftar juga diwajibkan untuk memilih calon professor dan recruiters dari universitas Belanda yang sesuai dengan background dan topik riset penelitian.

Kegiatan temu janji antara kandidat PhD Indonesia dengan para profesor dari Belanda. (ist)

Peter van Tuijl selaku Direktur Nuffic Neso Indonesia, dalam siaran persnya menyebutkan acara PhD Recruitment 2019 menunjukkan minat dari institusi pendidikan Belanda untuk menarik peneliti Indonesia yang berbakat.

“Melanjutkan studi di jenjang PhD adalah mimpi dan tingkat keunggulan akademik tertinggi yang dapai dicapai oleh generasi muda serta pendalaman substansi terhadap minat,” papar Peter.

Jeroen Sparla selaku CEO Academic Transfer menuturkan animo masyarakat Indonesia terhadap jenjang studi PhD semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan keseriusan para pendaftar dalam mengunggah riset proposal yang semakin beragam dalam pembahasan topik.

“Kemampuan bahasa Inggris dari para pendaftar semakin berkualitas dibuktikan dengan penyusunan kalimat yang jelas dalam menyusun proposal riset akademis,” jelasnya.

Melanjutkan PhD menurutnya membutuhkan kemampuan berbahasa Inggris yang di atas rata-rata. Karena mahasiswa PhD tidak hanya berkewajibkan menjelaskan ide kepada dirinya sendiri namun kepada supervisor dan khalayak ramai.

Pada umumnya, ada 3 (tiga) status PhD di Belanda yaitu PhD employer, PhD by scholarship, dan PhD dengan biaya sendiri.  Kondisi ketiga skema PhD tersebut relatif sama, namun untuk PhD employer biasanya ada tuntutan yang sedikit lebih tinggi karena para mahasiswa PhD menerima gaji dari universitas. Mereka memiliki jam kerja selama 40 jam per minggu yang berarti mempunyai kewajiban untuk berada di kampus pada hari Senin- Jum’at minimal 8 jam per hari.

Tahun pertama sebagai PhD student adalah tahun yang sangat menentukan. Setelah tahun  pertama, para mahasiswa PhD akan dilakukan assessment yang disebut Go/No Go Interview untuk menentukan apakah studi bisa dilanjutkan atau tidak. Selain menyelesaikan disertasi, para mahasiswa harus menyelesaikan 30 ECTS dalam kurun waktu 4 tahun.

Baca juga: