Pegiat TK ABA Dapat Penghargaan
Penyerahan penghargaan kepada penggiat TK ABA

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Pegiat TK ABA dapat penghargaan. Pada pembukaan Tanwir II ‘Aisyiyah di Yogyakarta, Jumat (16/11/2019), pegiat TK ABA dari berbagai daerah di Indonesia, diberi penghargaan. Penghargaan tersebut, diserahkanoleh Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Noordjannah Djohantini dan Menko PMK Muhadjir Effendy.

Aisyiyah, menurut Noordjannah, ingin meneguhkan diri sebagai gerakan perempuan Muslim berkemajuan.

“Kami akan terus berkhidmat pada negeri dengan keberadaan ‘Aisyiyah yang menyentuh pada kepentingan masyarakat luas. Pada agenda Tanwir kali ini, ‘Aisyiyah akan memperkokoh gerakan di akar rumput, karena ‘Aisyiyah dapat mengetahui secara langsung denyut kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Bangsa ini, ungkap Noordjannah, dihadapkan pada berbagai persoalan kehidupan, keumatan, dan kebangsaan, seperti kemiskinan, korupsi, dan kekerasan atas nama berbagai faktor. Dalam situasi tersebut, dakwah Islam berkemajuan menjadi sangat relevan. Islam Berkemajuan, yaitu Islam yang mengedepankan toleransi dan penghargaan kepada semua.

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah ini menyatakan, nilai Islam Berkemajuan akan menjadi pijakan yang jelas dalam dakwah berkemajuan ‘Aisyiyah, yang membawa pemeluknya untuk berihtiar sekuat mungkin menjadi manusia yang maju dan insan kamil yang berguna bagi kehidupan bangsa dan negara. Oleh karena itu, ia mengajak semua elemen untuk bekerja keras membangun negeri ini.

“Kalau kita ingin maju, kita tidak boleh berpangku tangan, kita harus berupaya sekuat tenaga,” ujarnya.

Islam berkemajuan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir juga mempertegas posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan. Saat memberikan sambutan, Haedar mengungkapkan, Muhammadiyah sejak berdirinya telah melahirkan gerakan pembaharuan untuk mengembalikan umat Islam dari kejumudan dan ketertinggalan baik dalam paham agama maupun seluruh aspek kehidupan.

“Di saat al-Quran hanya dipahami dan dihapal, tetapi al-Quran tidak memberikan perubahan untuk kemajuan umat, maka Kyai Dahlan dan nyai Walidah hadir dengan gerakan Islam berkemajuan. Perubahan zaman yang memerlukan pembaharuan maka Muhammadiyah mengembangkan pemahaman Quran dan Sunnah  dengan ijtihad dan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam,” ujarnya.

Dalam konteks memahami Islam, jelas Haedar, Muhammadiyah menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani, atau secara teks, ilmu pengetahuan, dan keruhanian atau spiritualitas Islam. Pendekatan tersebut menjadi penting, terutama ketika kita dihadapkan pada perubahan dalam orientasi keagamaan yang dialami oleh berbagai umat beragama.

Meningkatnya semangat keberagamaan perlu disambut positif sebagai keinginan untuk meneguhkan spirit keislaman karena perubahan kehidupan yang mengalami goncangan terutama pada kelas menengah ke atas, sehingga agama menjadi kanopi suci sebagai peneguh moral spiritual. Meski demikian, Haedar mengajak ‘Aisyiyah untuk terus memberikan dakwah pencerahan yang mengisi spirit keagamaan agar tidak terjadi bias.

Haedar memberikan contoh perihal semangat untuk hijrah antara lain melalui cara berpakaian. Saking semangatnya, atau kesimpulan dari paham tertentu sehingga mulai marak cara berpakaian dengan menutup muka dan tangan, sedangkan kesimpulan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah muka dan telapak tangan boleh terlihat.

“Tugas kita memahamkan apa yang menjadi pandangan Islam Muhammadiyah, tentu dengan cara yang hikmah dan mauidhoh hasanah,”  ajak Haedar, sambil mengutip ayat al-Qur’an tentang berdakwah dengan bijak, pengetahuan yang baik, dan berbantahan dengan cara yang baik.

Haedar menjelaskan, dalam beragama agar jangan berlebihan atau ekstrem dalam beragama.

Haedar sendiri menyayangkan munculnya kekerasan, konflik, dan maraknya kebencian karena orang kehilangan panduan dalam kehidupannya. Menurutnya, itu menjadi tugas Muhammadiyah dalam memberikan dakwah yang mencerahkan dan memajukan kehidupan.

\Ia berharap agar para pimpinan ‘Aisyiyah di seluruh tanah air, dalam merespon hal kontroversial, agar menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani serta pendekatan dakwah bil hikmah, mau’idhah hasanah, wa jaadilhum billatii hiya ahsan.