Jumpa pers terkait kegiatan Asia Pacific Future Trends Forum ke-12

JAKARTA, MENARA62.COM – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan The SMERU Research Institute, dan didukung oleh PT Novartis Indonesia, menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Asia Pacific Future Trends Forum ke-12. Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada 20-21 November 2019 tersebut merupakan forum internasional tahunan, di mana para pemangku kepentingan dari negara-negara Asia Pasifik bertemu dan berdiskusi tentang perkembangan dan tantangan yang dihadapi dalam sistem kesehatan.

Mengangkat tema “Roadmap to National Health Insurance: Acceleration through Public-Private Partnership” (Peta Jalan menuju Jaminan Kesehatan Nasional: Akselerasi melalui Kemitraan Pemerintah-Swasta), FTF ke-12 tersebut diisi oleh pembicara dari beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Vietnam, Taiwan, dan Thailand.

Sekjen Kemenkes drg Oscar Primadi menjelaskan Jaminan Kesehatan Nasional menjadi komitmen pemerintah untuk memajukan sumber daya manusia agar mencapai Indonesia Maju di tahun 2045. Program yang diterapkan sejak 2014 tersebut saat ini telah menjangkau lebih dari 265 juta penduduk Indonesia.

“Sekarang kita terus berupaya untuk meningkatkan dan menyempurnakan penerapannya,” kata Oscar dalam keterangan persnya.

Beberapa terobosan telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki system JKN ini. Diantaranya adalah memperkuat upaya-upaya promotif dan preventif pada fasilitas kesehatan tingkat pertama. Selain itu adalah memberdayakan generasi muda untuk terjun menjadi tenaga kesehatan di wilayah 3T seperti program Nusantara Sehat. Dengan cara seperti ini maka semua peserta JKN bisa terjangkau oleh tenaga kesehatan yang ada.

Hingga saat ini, masyarakat miskin dan tidak mampu yang dibiayai oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah berjumlah kurang lebih 135 juta jiwa atau sekitar setengah jumlah penduduk. Sebanyak 96,6 juta jiwa dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan 38,4 juta jiwa dibiayai melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebagai penduduk yang didaftarkan oleh pemerintah daerah.

Lebih lanjut Oscar menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk memperkuat program JKN.

“Luasnya cakupan serta banyaknya peserta yang perlu dikelola mendorong kita mengarahkan program-program kepada Health 4.0. Di mana, inovasi terkini seperti pemanfaatan big data dan digital, akan dapat meningkatkan informasi tentang patient’s journey serta memperkuat sistem kesehatan kita. Namun kami tidak dapat melakukannya sendiri, perlu adanya sinergi yang kuat antara sektor publik dan swasta,” lanjutnya.

Penerapan JKN di negara-negara Asia Pasifik memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan pelayanan kesehatan dan kesehatan masyarakat secara umum, khususnya dalam hal akses, baik akses terhadap obat-obatan, maupun terhadap pelayanan kesehatan. Guna mencapai hal tersebut, inisiatif digital dan teknologi dunia kesehatan perlu diterapkan secara luas. Pemanfaatan sistem informasi yang besar ini dapat memperluas jangkauan pelayanan kesehatan sehingga semakin mendorong peningkatan kesehatan setiap orang.

Widjajanti Isdijoso, M.Ec.St, Direktur The SMERU Research Institute menjelaskan FTF 2019 ini berupaya mengajak para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan dari negara-negara sahabat di Asia Pasifik untuk saling berbagi dan berdiskusi seputar praktik sistem kesehatan yang dilakukan guna mencapai sistem kesehatan yang inovatif dan lebih mapan.

“Dengan sistem JKN yang besar seperti Indonesia, pemanfaatan analitika big data menjadi sangat penting untuk memonitor dan meningkatkan pelayanan. Dan tentunya, ekosistem yang besar seperti JKN ini memerlukan platform teknologi digital yang andal untuk memastikan akurasi analisa yang dihasilkan,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Jorge Wagner, Presiden Direktur PT Novartis Indonesia, menyatakan Novartis sangat berkomitmen untuk secara aktif berperan dalam upaya peningkatan sistem kesehatan di Indonesia.

“Sebagai implementasi dari komitmen kami dalam re-imagine medicine, kami mengembangkan dan menemukan cara-cara baru guna meningkatkan kualitas hidup para pasien,” tukasnya.

Novartis Indonesia secara terus-menerus memberikan edukasi ilmiah berkelanjutan (CME) bagi para tenaga kesehatan di Indonesia, baik secara langsung maupun melalui sarana digital atau online webinar. Dari tahun 2017-2019, Novartis telah menjangkau lebih dari 10.000 tenaga kesehatan di Indonesia melalui program CME, untuk terapetik area: kardiovaskular, metabolik, onkologi, pulmonologi, dermatologi, optalmologi, imunologi, dan transplant.

Menurut Jorge, program CME sangat penting dilakukan untuk para tenaga kesehatan agar mereka dapat terus memperbaharui ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki sesuai dengan perkembangan inovasi dan teknologi terbaru guna mencapai diagnosis dan tatalaksana penyakit yang lebih baik.

“Sangat penting bagi para ahli dan pemangku kepentingan duduk bersama untuk merumuskan peningkatan pelayanan kesehatan yang menyeluruh melalui best practice sharing. Ini merupakan inti dari diselenggarakannya Future Trends Forum,” tutupnya.

Acara Future Trends Forum ke-12 ini berlangsung selama 2 hari di Jakarta dengan fokus pembahasan seputar Health Financing dan Pemanfaatan Big Data dan Digital, di mana hari pertama merupakan pertemuan dengan para ahli (expert meeting), sementara hari kedua adalah forum kebijakan tingkat tinggi.

Hadir sebagai pembicara utama pada forum internasional ini Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K), Menteri Kesehatan RI; Somil Nagpal, Senior Health Specialist, World Bank; Dr. Asep Suryahadi, The SMERU Research Institute; dan Jorge Wagner, Presiden Direktur PT Novartis Indonesia & Chairman of IPMG. Turut pula hadir, para pelaku teknologi untuk berbagi tentang sudut pandang inovasi teknologi dari Microsoft Asia, mClinica, sehatpedia.com, dan Allied World Healthcare (Reach 52).