Din: Tewasnya Kader IMM Kendari Merupakan Tragedi Demokrasi
Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Din: Tewasnya Kader IMM Kendari Merupakan Tragedi Demokrasi

Prof Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2010 dan 2010-2015) berkisah tentang almarhum Prof Bahtiar Effendy. Tadi pagi dlm perjalanan dari bandara ke rumah duka ada seorang wartawan bertanya ttg Almarhum Bahtiar Effendy dan saya menjawab ringkas:

Almarhum Bahtiar Effendy adalah sahabat karib saya sejak di Fakultas Ushuluddin IAIN (kini UIN) Jakarta pada 1980an hingga sama-sama melanjutkan studi ke Amerika pada 1986. Kami juga sama-sama mewakili pemuda Indonesia pada Konperensi Dunia Agama utk Perdamaian di Nairobi Tahun 1984. Sejak itu kami bersahabat dekat seperti saudara sendiri. Almarhum adalah teman sehati, mitra diskusi dan debat. Dan saya pula yang mengajaknya bergabung dan aktif di Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Almarhum Prof Bahtiar Effendy adalah sosok cendikiawan sejati, dan penulis. Pendidikannya di dua dunia, tradisi pesantren dan kebebasan Barat, membawanya kepada pemaduan pendekatan doktrinal dan empirikal tentang Islam dan umat Islam. Penguasaannya akan metode ilmu-ilmu sosial memberinya pisau analisa yang tajam dalam membaca fenomena sosiologis umat Islam.

Sebagai anak pesantren, komitmennya terhadap kepentingan umat Islam sangat kuat, maka dia concerned and engaged dlm problematika politik Islam di Indonesia. Terakhir almarhum geram jika ada perlakuan yang tidak adil terhadap umat Islam. Namun, dia tidak mau menyampaikannya secara terbuka, sehingga sering mendorong saya untuk berbicara. Almarhum adalah ilmuwan kritis tapi bukan tipe ilmuwan yang menggebu-gebu mengeritik di ruang publik.

Almarhum adalah pendiri sekaligus dekan pertama FISIP UIN Jakarta. Dia juga yang memulai ide pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Sebagai muhajirun di Muhammadiyah (almarhum berasal dari keluarga NU; ayahnya merupakan Bendahara NU di Ambarawa, dan adiknya Bendahara PP GP Ansor dan PPP).

“Almarhum menerima Muhammadiyah secara sejati dan cenderung fanatik, ditandai dengan kegeramannya terhadap pihak luar yang menjadikan Muhammadiyah “target politik”, atau perilaku orang dalam yang dinilainya merugikan Muhammadiyah. Selama saya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2019 dan 2010-2015 saya banyak mendengar kritik dan sarannya. Nyaris almarhum menjadi “penasehat politik” bagi saya, dan saya berperan sebagai semacam “penasehat spritual” baginya. Almarhum kemudian terpilih sebagai anggota PP Muhammadiyah Periode 2015-2020 sebagai Ketua membidangi Hubungan dan Kerja sama Luar Negeri hingga akhir hayatnya,” ujar Din Syamsuddin.

Masih ada obsesi almarhum yang sejalan dengan obsesi saya, dan belum menjadi kenyataan adalah relasi Islam dan negara di Indonesia yang belum simbiotik-mutualistik dan proporsional.

Semoga semua jasanya menjadi amal jariah yang diganjari Allah SWT, dan semoga sakit yang dideritanya sejak lama menjadi penghapus dosa-dosanya.