Wakaf Muhammadiyah
Afnan Hadikusumo

Pra kemerdekaan, banyak sekali ditemukan masyarakat yang belum mendapatkan pendidikan dengan baik. Pemerintah kolonial membatasi penduduk pribumi mengenyam pendidikan dengan mengenakan biaya yang mahal.

Boleh dikata, yang bisa bersekolah di sekolah-sekolah resmi hanyalah anak-anak orang Eropa dan anak pribumi kaya. Belanda sengaja mengambil kebijakan tersebut untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan pemerintahan dan ekonomi di tanah jajahan. Sehingga tidak heran, jika masyarakat pada umumnya sengaja dibuat bodoh, terbelakang, dan miskin.

Pada tahun 1916, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerima usul dari sebuah komisi tentang pentingnya membuka jalur pendidikan elit setara Sekolah Menengah Atas dengan istilah Algemeene Middelbare School (AMS). Jalur pendidikan menengah ini ditempuh selama enam tahun dalam dua bagian. Bagian bawahnya disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) afdeling der AMS – pendidikan menengah umum bagian pendidikan dasar yang diperluas, kemudian bagian kedua/atas disebut Voorbereidend Hoger  Onderwijs afdeling der Algemeene Middelbare School (VWO AMS) (pendidikan menengah umum bagian persiapan pendidikan tinggi).

Menyadari ketidak adilan yang dilakukan penjajah, maka bu Nyai Walidah (istri KHA Dahlan) mengadakan perlawanan tipis-tipis. Perlawanan dilakukan dengan mendirikan kelompok pengajian bagi kaum perempuan. Kegiatan ini diisi dengan kursus Al-Qur’an yang diperuntukkan bagi gadis-gadis di Kauman yang masuk sekolah netral. Pengajian ini semakin lama semakin berkembang sampai Lempuyangan, Karangkajen, dan Pakualaman. Karena pengajian dilakukan setelah Ashar, maka kegiatan ini diberi nama pengajian Wal ‘Ashri.

Perlawanan tipis-tipis terhadap ketidakadilan pendidikan ini semakin menggelora di dada bu Nyai. Beliau tidak rela jika kaum perempuan tertinggal, oleh karenanya melalui organisasi ‘Aisyiyah, bu Nyai mendirikan pengajian ba’dal Maghrib bagi para para buruh batik di Kauman yang sulit mengakses pendidikan. Materi pengajarannya selain agama juga dilatih cara membaca (huruf latin, Arab gundul, maupun Arab gondrong), menulis, serta berhitung (calistung).

Maghribi School

Dalam perkembangannya karena materi yang disampaikan sangat bagus, masyarakat umum yang ekonomiya lemah akhirnya bergabung ke situ. Penamaan pengajian ini disesuaikan dengan jam diadakannya pengajian yaitu ba’dal magrib, sehingga pengajian ini dinamakan Maghribi School.

Para siswi Aisyiyah Maghribi School ini senang dan bangga memperoleh ketrampilan yang sangat langka pada jamannya, yakni membaca, menulis dan berhitung. Sebuah ketrampilan, sebagaimana dimiliki anak-anak pribumi kaya dan anak-anak orang Eropa, yang belajar di Algemeene Middelbare School (AMS).

Setiap kali ada masyarakat menanyakan di mana tempat belajarnya. Mereka dengan mantab akan menjawab “Kami sekolah di AMS”, padahal maksudnya ikut belajar di waktu ba’dal maghrib yang diselenggarakan oleh ‘Aisyiyah. Tentu saja mereka tidak ikut Ujian Nasional dan tidak memilik ijazah.

Penulis: Afnan Hadikusumo/Ketua Umum PP Tapak Suci