Dari kiri ke kanan: Ida Puspita (UAD), Michael Fuller dan Nadine Sulkowski (UOG), dan Wiryono Raharjo (UII) di Kampus UAD Yogyakarta, Selasa (3/12/2019). (foto : heri purwata)
close

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mendapat dana hibah dari Erasmus+ sebesar Rp 1,1 miliar untuk meningkatkan kapasitas kebencanaan. Selain UAD, ada tujuh perguruan tinggi yang masuk dalam konsorsium dan mendapatkan dana hibah serupa yaitu Universitas Islam Indonesia, President University, Universitas Andalas, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Surabaya, Universitas Khairun Ternate, dan Universitas Muhammadiyah Palu.

“Hibah Erasmus+ ini mempunyai tema BUiLD (Building Universities in Leading Disaster Resilience) dengan dana sebesar Rp1,1 miliar selama tiga tahun (2019 – 2022). Hibah ini fokus pada membangun kapasitas universitas menjadi perguruan tinggi yang memiliki disaster awareness (pra bencana) dan kemampuan menangani bencana (mitigasi dan pemulihan),” kata Ida Puspita, M.A. Res., Kantor Urusan Internasional UAD kepada wartawan di Yogyakart, Selasa (3/12/2019).

Dijelaskan Ida Puspita, untuk pelaksanaan proyek BUiLD ini dikoordinir University of Gloucestershire Unite Kingdom. Sedang Universitas Eropa yang bergabung dalam konsorsium proyek ini adalah University of Gloucestershire dari Inggris, University College Copenhagen dari Denmark, Polytechnic Institute of Porto dari Portugal, dan Hafelakar Innsbruck dari Austria.

Proyek BUiLD, jelas Ida, mencakup peninjauan kurikulum, riset kebencanaan dalam beberapa program studi (Prodi) terkait sehingga konsorsium akan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi (Dikti). Hibah ini juga akan memberikan peralatan yang terkait pada upaya membangun disaster awareness bagi masyarakat.

Tujuan hibah, kata Ida, membangun kapasitas universitas yang tergabung dalam konsorsium menjadi Center of Excellence dalam hal penangananan bencana. Mitra yang akan dilibatkan di antaranya, Dikti, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, Basarnas, BMKG, dan ACT.

Saat ini, UAD telah memiliki Pusat Studi Mitigasi dan Penanggulangan Bencana (PSPMB) sejak tahun 2012. “Unit inilah yang akan terlibat aktif dalam project BUiLD bersama beberapa Prodi yang relevan di antaranya Kedokteran, Psikologi, Kesehatan Masyarakat, sebagian prodi di FKIP, Farmasi, dan lain-lain,” kata Ida.

Bagi UAD, kata Ida, hibah dari Erasmus+ merupakan kedua kalinya program Capacity Building of Higher Education (CBHE) dalam program disaster management. Sebelumnya UAD mendapat hibah Rp 1,2 miliar dengan tema GITA (Growing Indonesia: a Triangular Approach) yang fokus pada pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi selama tiga tahun (2017 – 2020),” kata Ida.

Sedang Nadine Sulkowski, Koordinator BUiLD dari Universitas Gloucestershire Inggris mengatakan kick-off meeting BUiLD di UII dan UAD, Senin-Selasa (2-3/12/2019) ini membahas pengalaman universitas yang tergabung dalam konsorsium Indonesia dan Eropa. Mereka bertukar pengalaman penanganan bencana yang dapat dijadikan materi untuk penyusunan kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat. “Konsorsium Eropa tidak hanya memberi pengalaman penanganan bencana, tetapi juga menyerap pengalaman dari perguruan tinggi Indonesia,” kata Nadine.