Menristek Bambang berfoto bersama peserta Simposium Program Gelar RISETPro. (ist/humasristek)

JAKARTA, MENARA62.COM – Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang P.S Brodjonegoro mengatakan salah satu faktor penting dalam membangun ekosistem riset adalah sumber daya manusia (SDM) peneliti dan perekayasa yang unggul dan berdaya saing. Peningkatan kapasitas, kompetensi dan kualifikasi SDM peneliti dan perekayasa tersebut tentunya harus mengacu pada kebutuhan nasional dan industri di masa mendatang.

Menristek/Ka.BRIN  Bambang Brodjonegoro  mengungkapkan Program Beasiswa ‘Research & Innovation Science & Technology Project (RISETPro)’ merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan daya saing peneliti dan perekayasa Indonesia.

“RISETKPro merupakan salah satu program SDM unggul penting dalam pengembangan  ekosistem riset di Indonesia.  Program ini merupakan  salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas SDM peneliti dan perekayasa nasional. Jadi apapun penelitian yang dilakukan di Indonesia, pasti terpusat pada SDM unggul,” kata Menteri Bambang saat menjadi Pembicara Kunci pada Simposium Program Gelar RISETPro di Grand Sahid Hotel Jakarta (3/12).

Dalam siaran persnya, Menteri Bambang menekankan selain mendapatkan ilmu dan pengetahuan memahami perkembangan sains dan teknologi terbaru, hal terpenting bagi peneliti dan perekayasa saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi terbaik di luar negeri adalah mereka dapat merasakan,  mempelajari dan terlibat di  lingkungan riset perguruan tinggi di negara maju.

Ia berharap para peneliti, perekayasa dan akademisi yang telah menyelesaikan studi dapat mengadopsi lingkungan riset (research environment) dan menerapkannya di instansi masing-masing, sekembalinya mereka ke Indonesia.

“Tentu program beasiswa ini sangat dibutuhkan karena sebagian besar peneliti Indonesia menempuh studi di luar negeri. Disamping mendapatkan ilmunya, SDM unggul Indonesia diharapkan dapat menguasai  teknologi yang paling baru dan mutakhir. Akan tetapi, tetap saya prioritaskan agar   penerima beasiswa RisetPro untuk mempelajari secara seksama tentang ‘research environment’, yang memang sudah terbangun dengan baik di negara negara maju, di kalangan universitas kelas dunia,” terangnya.

Bambang menegaskan pemerintah akan tetap melanjutkan program ini di tahun depan, karena program ini sangat penting bagi penguatan kualitas SDM peneliti dan perekayasa Indonesia, agar mampu berkontribusi bagi pembangunan ekonomi berbasis riset dan inovasi.

Berbeda dari beasiswa pascasarjana lain seperti dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), RISETPro lebih spesifik ditujukan untuk  menciptakan lingkungan kondusif bagi penelitian dan pengembangan di bidang Iptek, memperkuat kinerja insentif, serta  meningkatkan kapasitas SDM di Kelembagaan Iptek.

“Program ini tentu harus dilanjutkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) melalui penguatan SDM peneliti dengan penguasaan inovasi dan teknologi,” ujarnya.

Menteri Bambang menyampaikan, untuk menyambut bonus demografi  2045, Indonesia harus bergerak cepat menyiapkan generasi yang siap bersaing dan atau berkolaborasi di bidang riset dan inovasi.  Ia berharap simposium RISETPro  ini menampilkan hasil-hasil yang didapat alumni selama kuliah di luar negeri dan juga hasil-hasil riset dan inovasi mereka setelah kembali ke unit kerja masing-masing. Selain itu, forum ini juga mempertemukan alumni RisetPro dengan Kantor Sains dan Teknologi (KST) beserta mitra industri KST serta lembaga pendanaan riset. Sehingga terwujud kolaborasi riset dan inovasi dengan industri dan lembaga pendanaan riset (Triple Helix).

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Ali Ghufron Mukti menjelaskan Program RISETPro merupakan inisiatif Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia melalui Loan No. 8245-ID, yang dimulai sejak 2013 lalu.

Namun ia menjelaskan, tidak semua beasiswa yang dibiayai Bank Dunia Berkelanjutan. Bank Dunia melihat efektifitas dana yang disalurkan melalui outcome dari peserta beasiswa.

Ghufron mengatakan RISETPro ini memberikan manfaat yang besar baik bagi peneliti dan perekayasa maupun bagi instansinya yaitu Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK). Melalui program ini para peneliti dan perekayasa selain dapat menempuh studi di perguruan kelas dunia di luar negeri, mereka juga mampu membangun jejaring dengan peneliti terkemuka di di luar negeri. Jejaring ini harus terus dibina dan dimanfaatkan dengan baik instansi tempat mereka bekerja untuk membangun kolaborasi riset yang baik antara instansi riset dalam dengan luar negeri.

“ Semua alumni merasakan manfaat luar biasa, tidak hanya bagi individu namun untuk institusi penelitian masing-masing,” tuturnya.

Turut hadir dalam acara tersebut Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ali Ghufron Mukti, Plt Direktur Kualifikasi SDM Juniarti Duwi Lestari, peneliti dan perekayasa yang telah menempuh pendidikan gelar di berbagai institusi pendidikan di Jepang, Australia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, melalui pendanaan dari Program RISET-Pro, yang tergabung dalam Ikatan Alumni RISET-Pro (IASPro), serta tamu undangan lainnya.