close

JAKARTA, MENARA62.COM — Media sosial dihebohkan dengan kabar orang yang mengaku psikolog menyalahgunakan hubungannya dengan klien untuk kepentingan pribadi. Padahal hubungan antara psikolog dengan klien memiliki beberapa aturan yang seharusnya tidak dilanggar, salah satunya soal pertemanan. Bagaimana sebenarnya etika hubungan klien dan psikolog?

Hubungan antara psikolog dengan klien

Hubungan antara psikolog dengan kliennya menjadi salah satu faktor keberhasilan dari sesi terapi yang dijalani oleh seseorang. Kualitas hubungan tersebut tidak hanya dilihat berdasarkan kedekatan antara terapis dengan pasiennya, melainkan juga berdasarkan beberapa faktor, seperti:

  • kesepakatan tujuan terapi
  • ikatan hubungan
  • persetujuan terhadap tugas perawatan yang dilakukan terapis

Ketiga aspek tersebut cukup penting untuk menumbuhkan empati dalam hubungan psikolog dan klien. Hal ini bertujuan agar klien yang sedang menjalani perawatan dapat berubah ke arah yang lebih positif.

Dilansir dari laman Psychology Today, psikolog yang baik biasanya memiliki ketertarikan serius terhadap klien dan melihatnya sebagai individu. Selain itu, mereka juga akan ‘mendekatkan’ diri dengan klien secara sensitif, tetapi sesuai dengan kebutuhan orang tersebut.

Tidak ada satu metode terapi yang cocok untuk semua pengobatan karena setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda. Agar terapi ini berjalan lancar, hubungan ini perlu dibangun berdasarkan rasa percaya dan saling mengerti.

Oleh karena itu, kunci penting dari menjadi seorang psikolog adalah menjadi manusia dengan perasaan yang tulus dan sama-sama selaras dengan klien. Akan tetapi, ternyata niat tulus dari psikolog yang benar-benar bertujuan membantu sesama tercoreng oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kasus-kasus pelecehan dalam hubungan antara psikolog dengan klien ternyata cukup banyak. Bahkan, baru-baru ini masyarakat di Indonesia dikejutkan dengan ‘tawaran’ seorang pria yang mengaku sebagai psikolog kepada kliennya untuk menjalani terapi di kamar hotelnya.

Tawaran tersebut jelas termasuk melanggar etika antara terapis dengan pasiennya. Mengapa demikian?

Alasan psikolog dan klien tidak boleh memiliki hubungan spesial

Selama proses terapi berlangsung, Anda sebagai klien mungkin merasa lebih dekat dengan terapis. Berbagi kisah yang sangat pribadi dalam sebuah ruangan membuat klien atau psikolog merasa sangat intim saat itu.

Akan tetapi, curahan hati saat itu ternyata tidak boleh membuat hubungan psikolog dengan terapis mengikat sebuah ikatan pertemanan, atau lebih. Pertemanan antara terapis dan klien tidak diperbolehkan karena dianggap melanggar etika dan disebut sebagai hubungan ganda atau dual relationship.

Hubungan ganda adalah ikatan yang terjadi ketika seseorang berada dalam dua jenis hubungan yang sangat berbeda dan terjadi dalam waktu yang bersamaan. Misal, terapis yang memperlakukan klien sebagai teman atau memiliki hubungan seksual. Itu tidak etis.

Hubungan ganda juga dapat menimbulkan masalah dalam proses penyembuhan pasien. Apabila Anda sebagai klien marah kepada psikolog karena lupa mengabari atau masalah lainnya, akan sulit untuk membuka diri selama proses terapi.

Selain itu, ketika hubungan seksual dilakukan di antara psikolog dan klien ternyata dapat mengeksploitasi emosi dalam terapi. Hubungan seksual ini dapat terjadi dalam berbagai macam, entah itu terjadi pelecehan seksual selama terapi berlangsung atau berpacaran.

Sementara itu, ikatan pertemanan atau lebih ketika perawatan selesai bisa terjadi meskipun sangat tidak umum. Kondisi ini jarang terjadi karena hubungan yang terbentuk dari sesi-sesi terapi tidak pernah hilang sepenuhnya dan dapat memengaruhi hubungan tersebut.

Oleh karena itu, hubungan antara psikolog dan klien hanya diperbolehkan sebatas terapi saja agar tidak mengganggu proses tersebut secara keseluruhan.

Tips memilih psikolog yang profesional

Gangguan terhadap klien, termasuk pelecehan seksual bisa jadi berasal dari sikap psikolog yang tidak profesional. Agar hal ini tidak terjadi pada Anda, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memilih psikolog:

  • bertanya kepada teman, apakah mereka memiliki referensi psikolog
  • melihat pendekatan yang dipakai oleh psikolog
  • bukti psikolog sudah memiliki izin praktik atau sertifikasi dari training tertentu
  • berapa lama psikolog pilihan sudah bekerja
  • mencari rujukan dari dokter langganan atau penyedia asuransi

Perlu diingat bahwa tidak semua psikolog atau terapis memiliki metode pendekatan yang efektif terhadap masalah yang sedang dialami. Maka itu, kemungkinan mencoba beberapa psikolog yang berbeda dapat dilakukan untuk menemukan yang cocok dengan Anda.

Intinya, psikolog dengan klien tidak disarankan memiliki hubungan lebih karena dapat mengganggu proses perawatan. Oleh karena itu, memilih terapis tidak dapat dilakukan asal-asalan mengingat hal ini berkaitan dengan kesehatan mental Anda. ( – hellosehat.com)