Didi Junaedi
Didi Junaedi
close

Kokohnya pondasi iman seseorang, tidak akan berarti banyak tanpa ‎dibekali dengan ilmu yang memadai. Iman adalah dasar pijakan seseorang ‎melangkah dan menjalani kehidupan ini. Sedangkan ilmu adalah cahaya yang ‎akan menerangi langkah seseorang menapaki jalan kehidupan ini menuju ‎tujuan akhirnya.‎

‎“Law laa al-‘ilm lakaana an-naasu ka al-bahaaim”, kalaulah bukan ‎karena ilmu, niscaya manusia seperti binatang. Demikian bunyi sebuah ‎ungkapan hikmah dalam bahasa Arab, yang menunjukkan betapa pentingnya ‎ilmu bagi kehidupan manusia.‎

Memang, pada kenyataannya perbedaan paling mendasar antara ‎manusia dengan makhluk Allah yang lain terletak pada anugerah akal yang ‎diberikan Allah kepada manusia. Ini yang menjadi ciri khas manusia dibanding ‎binatang. Binatang tidak diberi akal. Binatang hanya diberi nafsu serta insting (naluri), ‎sehingga binatang tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang ‎buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan mana ‎yang haram.‎

Di sisi lain, selain dilengkapi dengan akal, manusia juga diberi nafsu. ‎Hal ini juga yang membedakan manusia dengan malaikat. Malaikat hanya ‎diberi akal tetapi tidak diberi nafsu. Sehingga pantas saja malaikat selalu ‎tunduk kepada perintah Allah dan tidak pernah melanggar larangan-Nya.‎

Kenyataan berbeda terjadi pada manusia. Dengan memiliki dua ‎perangkat berupa akal dan nafsu, maka manusia dapat menjadi lebih mulia ‎dari malaikat. Manusia menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-‎Nya. Semua itu dilakukan dengan mengendalikan nafsunya di bawah bimbingan akal, tetapi juga ‎mungkin bisa menjadi lebih rendah dari binatang, ketika nafsunya yang ‎mengendalikan akalnya.‎

Satu lagi perangkat yang Allah anugerahkan kepada manusia untuk ‎menjalani hidup di dunia ini sebagai khalifah-Nya, yakni hati. Hati ini akan ‎menjadi penyeimbang antara akal dan nafsu. Hati ini sesungguhnya yang ‎menentukan setiap langkah serta tindakan manusia. Meski, kadang-kadang, ‎hati yang sudah dibutakan oleh nafsu tidak akan bisa berbuat banyak. ‎Seseorang akan menyadari kesalahannya dengan hati yang jernih, ketika ‎sudah merasakan dampak buruk dari perilaku serta tindakan yang ‎dilakukannya.‎

Di sinilah posisi akal berperan. Mereka yang menggunakan akalnya ‎dengan baik, membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang memadai, akan ‎berpikir beberapa kali jauh ke depan sebelum melakukan suatu tindakan. ‎‎“Fakkir qabla an ta’zima”, berpikirlah sebelum bertindak, demikian petuah bijak ‎menganjurkan.‎

Sesal

Betapa banyak manusia yang meratap menyesali perbuatannya di ‎kemudian hari, setelah melakukan tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan. ‎Bahkan, betapa banyak yang akhirnya mendekam di penjara karena ‎melakukan tindak kejahatan atau kriminal. Hal ini terjadi, karena mereka tidak ‎menggunakan akal pikirannya dengan baik sebelum bertindak. Penyesalan ‎selalu datang terlambat. Sesal kemudian tiada berguna.‎

Di sinilah pentingnya ilmu. Dengan ilmu, seseorang menjadi lebih hati-‎hati dalam bertindak, dengan ilmu pula seseorang akan menjadi lebih bijak ‎dan berpikir jauh ke depan sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu.‎

Ruang Inspirasi, Senin, 13 Januari 2020.