close

NUSA TENGGARA TIMUR, MENARA62.COM — Bertepatan sehari menjelang Natal tiba pada Tahun 2017 lalu, di Cafe Kopi Mane Inspiration, Ruteng, Ahad, (24/12/2017), diadakan acara diskusi buku “No Justice, no Peace” yang memuat percikan pemikiran Benny K Harman tentang penegakan Hukum, HAM, Kemiskinan dan Permasalahan NTT, karya Rochmad Widodo dan Dede Sulaiman.

Acara diadakan dengan format Ngopi Bareng itu berlangsung sejak pagi menjelang siang dalam suasana akrab dan menonjolnya warna tradisi intelektual. Selain diisi dengan diskusi para narasumber, peserta yang hadir juga diberikan kesempatan untuk memberikan pendapatnya terkait isi buku dan juga sisi lain dari Benny K Harman.

Topik utama yang sangat hangat diperbincangkan adalah terkait permasalahan-permasalahan NTT. Terlebih pada problem kemiskinan yang berkepanjangan tak kunjung terurai, human trafficking, dan permasalahan lain NTT, mencakup angka pengangguran yang tinggi, kurang gizi dan gizi buruk yang masih dialami sebagian masyarakat, problem pendidikan, korupsi, dan sebagainya.

Buku yang diterbitkan Penerbit Biografi Indonesia itu merupakan seri buku gagasan tokoh. Sosok Benny K Harman -sebagaimana dijelaskan pada prakata penulis di buku tersebut- dipilih untuk mewakili figur yang konsisten dalam penegakan hukum dan keadilan.

Proses nama Benny K  Harman hingga dipilih -dijelaskan oleh redaksi- melalui proses seleksi dan diskusi panjang dengan sejumlah nama tokoh lain. Namun akhirnya nama Benny K Harman dipilih, karena diyakini gagasan dan sepakterjangnya di penegakan hukum telah senafas dan selaras, sehingga cita-cita Penerbit Biografi Indonesia dengan diwujudkannya buku itu bisa memunculkan sepaket figur dan gagasannya dalam penegakan hukum dan keadilan, bisa tercapai.

Peniliti Senior CSIS (Center for Strategic and International Studies), J. Kristiadi, bahkan juga mengaminkan pendapat redaksi Penerbit Biografi Indonesia. Pada kata pengantar untuk buku tersebut, J. Kristiadi mengatakan bahwa, “Mengangkat Benny K Harman sebagai figur sekaligus pemikirannya cukup relevan. Benny sebagai wakil rakyat di bidang hukum yang berlatar belakang aktivis dan akademisi telah banyak berbuat sesuatu demi tegaknya hukum dan keadilan di negeri ini. Gagasan dan pemikirannya juga sedikit banyak turut mewarnai hal itu. Terlebih jika dikaitkan dengan daerah asalnya, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tingkat keadilan sosialnya masih sangat memprihatinkan dengan kesejahteraan hidup masyarakatnya yang masih sangat jauh dari harapan sebagai provinsi termiskin ketiga di Indonesia, dan menjadi provinsi terbesar kasus human trafficking-nya.”

Para tokoh nasional juga turut mengapresiasi atas terbitnya buku itu, di antaranya Kartorius Sinaga, Sosiolog dan Mantan Penasehat Ahli Kapolri, Hendardi, Ketua Setara Institute, Prof. Robertus Robert, Sosiolog, Prof. Rocky Gerung, Romo Benny Susetyo, Ulil Absar Abdalla, dan juga Praktisi Komunikasi, Dr. Leila Mona Ganaiem.

Di acara yang dihadiri dari berbagai elemen, yaitu politisi, tokoh masyarakat, dan mahasiswa tersebut juga muncul pembahasan tentang pencalonan Benny K Harman sebagai Gubernur NTT di Pilgub 2018. Meski atas terbitnya buku tersebut, dari Penerbit Biografi Indonesia, sejatinya tidak ada muatan politis terkait dengan Pilgub 2018.

Adapun langkah pencalonan Benny K Harman sebagai Cagub NTT, justru disambut hangat oleh para peserta diskusi. Bahkan hal itu turut dimaknai sebagai bentuk, bahwa Benny K Harman tidak hanya sekadar berwacana dengan buku itu. Namun juga menunjukkan aksi nyata dengan terjun langsung ke gelanggang dan mengambil peran untuk merealisasikan gagasannya mengurai permasalahan bumi tempat kelahirannya itu. (RW)