Teguh Kusriyanto, Quality Assurance Manager PT Kencana Gemilang (istimewa/bsn)
close

JAKARTA, MENARA62.COM– Komitmen PT. Kencana Gemilang terhadap Standarisasi Nasional Indonesia atau SNI patut diacungi jempol. Melalui  produknya bermerek Miyako, perusahaan tersebut telah menerapkan SNI untuk seluruh produk yang dihasilkan baik produk dengan kategori SNI wajib maupun produk dengan kategori SNI sukarela.

“Bagi kami SNI itu bukan sekedar bukti kepatuhan terhadap aturan pemerintah. SNI adalah bagian dari komitmen kami untuk melindungi keamanan, keselamatan dan kesehatan konsumen,” kata Teguh Kusriyanto, Quality Assurance Manager PT Kencana Gemilang di sela ngobrol santai (Ngobras) tentang SNI bersama media, Jumat (14/12).

Karena itu meski 12 dari 22 produk yang dihasilkan belum masuk kategori SNI wajib, perusahaan tersebut sudah menerapkan SNI sejak awal produk diluncurkan. Misalnya penanak nasi, blender, mixer, dispenser, penampung beras, kompor komersiil, pengering rambut, juicer, pemanggang roti, dan lainnya.

Diakui, mengurus sertifikasi SNI bukanlah pekerjaan mudah. Banyak tahapan yang harus dilalui dengan biaya yang tidak murah.

“Setidaknya kami harus bolak-balik ke laboratorium uji untuk mendapatkan produk yang benar-benar sesuai dengan parameter yang diharuskan. Tidak dua atau tiga kali langsung jadi. Selalu ada komponen atau bagian yang harus terus diperbaiki,” lanjut Teguh.

Padahal menerapkan SNI tidak serta merta membuat omset penjualan produk Miyako di pasaran terus menanjak. Membutuhkan waktu lama untuk melihat pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan pasar dan tingkat penjualan.

“SNI sudah kami terapkan sejak 2009, tetapi terus terang masyarakat mulai peduli dengan produk ber-SNI sekitar dua tahun belakangan ini, setelah BSN gencar mengkampanyekan pentingnya SNI,” tambahnya.

Teguh mengakui menerapkan SNI membawa konsekuensi pembiayaan tak sedikit pada setiap produknya. Karena itu produk Miyako seringkali dijual dengan harga lebih tinggi dibanding produk sejenis di pasaran. Kisarannya bisa 10 persen hingga 15 persen dan itu cukup menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih produk bermerek lain.

Meski mendapati fakta pasar yang demikian, Miyako lanjut Teguh tetap memperkuat komitmennya untuk menerapkan SNI. Bahkan terhadap komponen yang terpaksa harus diimpor, Miyako mewajibkan produsen negara asal untuk mengurus SNI-nya.

“Kami malah membantu perusahaan dimana kami mengimpor komponen produk untuk mengurus SNI agar hubungan kerjasama berlanjut. Ada yang kami bantu mengurus SNI. Beberapa yang menolak, terpaksa kami ganti,” tukas Teguh.

Salah satu aktivitas produksi pada pabrik PT Kencana Gemilang yang memproduksi Miyako

Komitmen menerapkan SNI tersebut juga ditunjukkan dengan penambahan parameter yang lebih tinggi antara 20 hingga 50 persen pengujian diluar parameter SNI. Artinya, parameter yang digunakan produk Miyako, tidak sekedar parameter standar minimal seperti tertera dalam SNI. Misalnya untuk menguji kabel, pada parameter SNI, kabel harus dilipat buka sampai 10 ribu kali, maka Miyako menerapkan 12 ribu kali.

Produk Miyako lain yang parameter ujinya ditingkatkan adalah rice cooker. Peningkatan parameter uji dilakukan untuk uji ketahanan lapisan non stick coating, uji kekuatan top cover spring, uji kekuatan clamp knop spring, uji kekuatan knop spring dan uji kekuatan part plastik pada sistem buka tutup top cover assy. Juga pada produk strika untuk uji kekuatan lapisan coating.

Menjadi strategi marketing

Selain dapat dijadikan strategi marketing, menurut Teguh, SNI sangat penting untuk memeriksa pemenuhan segi keamanan dan keselamatan dari suatu produk terhadap standarnya. SNI sukarela menjadi nilai lebih terhadap produk bagi konsumen yang telah memahami pentingnya SNI untuk menjamin keselamatan. Selain itu SNI penting untuk memperluas pemasaran hingga ke pasar regional maupun global.

“Semua negara mewajibkan standar tertentu untuk produk yang masuk ke negara mereka. Beberapa negara menerima SNI. Tetapi ada juga negara yang perlu kita lakukan harmonisasi karena mereka memiliki parameter standar sendiri,” tambah Teguh.

Berkat konsistensi Miyako menerapkan SNI, saat ini produk-produk bermerek Miyako menjadi salah satu produk pilihan utama konsumen. Selain itu Miyako juga mulai menembus pasar regional antara lain ke Sri Lanka, Vietnam dan Bangladesh meski prosentasenya masih 5 persen.

Sementara itu Kepala Biro Hukum, Organisasi dan Humas BSN Iryana Margahayu menyampaikan apresiasinya untuk Miyako. Perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan yang memiliki komitmen sangat tinggi untuk menerapkan SNI.

“Miyako selevel lebih tinggi dibandingkan perusahaan penerap SNI lainnya,” papar Iryana.

Tak hanya menjadi penerap SNI, Miyako lanjut Iryana juga menjadi salah satu tim penyusun parameter SNI untuk sejumlah produk elektronik rumah tangga dari unsur badan usaha. Keaktifan Miyako dalam penyusunan standar SNI ini diharapkan memberikan inspirasi bagi perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama.

“SNI itu disusun dengan cara yang Pancasilais mengutip kata-kata Pak Bambang, Kepala BSN. Mengapa? Karena azas musyawarah dan mufakat antar pengambil keputusan mulai dari pelaku usaha, perwakilan pemerintah, akademisi, masyarakat dan unsur lainnya dalam menyusun parameter SNI benar-benar kita ke depankan,” tutup Iryana.