close

JAKARTA, MENARA62.COM — Sejak kemunculannya pada akhir 2019, novel coronavirus  di China telah menginfeksi lebih dari 400 orang di beberapa negara. Kemunculan novel coronavirus juga kian menyebabkan kekhawatiran karena penyebarannya begitu cepat dan gejala yang ditimbulkannya sangat mirip dengan gangguan pernapasan pada umumnya.

Meski demikian, World Health Organization (WHO) mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dalam bentuk apa pun. Mengenali gejala yang muncul, akan membantu dalam mendiagnosis infeksi yang tengah merebak ini.

Gejala novel coronavirus yang perlu diwaspadai

Coronavirus adalah jenis virus yang menyerang saluran pernapasan mamalia, termasuk manusia. Virus ini bisa menyebabkan beragam gangguan pernapasan, dari pilek biasa, pneumonia, hingga Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Sejauh ini, sudah ditemukan enam tipe coronavirus yang menginfeksi manusia. Novel coronavirus asal China yang kini dikenal sebagai 2019-nCoV adalah tipe virus ketujuh yang ditemukan.

Infeksi novel coronavirus menimbulkan gejala yang sama dengan serangan coronavirus pada umumnya, yakni:

  • demam tinggi
  • batuk
  • hidung meler
  • sakit tenggorokan
  • sakit kepala
  • tidak enak badan

Kendati demikian, WHO turut melaporkan kumpulan gejala lain yang ditemukan pada pasien selama beberapa bulan ini. Pasien mengalami sesak napas dan ketika diperiksa dengan rontgen dada, terdapat bercak pada paru-paru yang mirip dengan pneumonia.

Kriteria pasien yang perlu diinvestigasi

Gejala yang dialami oleh beberapa pasien pertama di Wuhan, China, awalnya dikaitkan dengan pneumonia, hingga otoritas kesehatan China akhirnya mengarahkan investigasi pada infeksi novel coronavirus.

Saat ini, hanya Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang berwenang melakukan pengujian untuk mendiagnosis novel coronavirus. Negara yang melaporkan infeksi virus ini wajib mengambil sampel virus dari pasien yang diduga terinfeksi, lalu mengirimkannya ke CDC.

Sebelum mengambil sampel virus, otoritas kesehatan setiap negara perlu memastikan bahwa pasien tersebut memenuhi kriteria yang ditentukan oleh CDC. Kriteria pasien novel coronavirus dilihat dari gejala yang muncul dan faktor risikonya, yakni:

Kriteria pertama

Pasien mengalami demam dan gejala gangguan pernapasan bawah seperti batuk dan sesak napas. Selama 14 hari sebelum gejala muncul, pasien juga pernah bepergian ke kota Wuhan atau melakukan kontak dekat dengan orang yang diduga terinfeksi novel coronavirus.

Kriteria kedua

Pasien mengalami demam atau gejala gangguan pernapasan bawah seperti batuk dan sesak napas. Selama 14 hari terakhir, pasien juga pernah melakukan kontak dekat dengan pasien yang sudah didiagnosis terinfeksi novel coronavirus.

Metode diagnosis novel coronavirus

Setelah memastikan gejala dan kriteria pasien, rangkaian proses diagnosis dimulai dengan mengambil sampel novel coronavirus dari pasien. CDC memberikan panduan pengambilan sampel bagi tenaga kesehatan dengan langkah berikut:

1. Mengambil sampel dari saluran pernapasan

Pengambilan sampel dari saluran pernapasan terdiri dari dua bagian, yakni dari saluran pernapasan atas dan saluran pernapasan bawah. Petugas akan mengambil sampel dahak sebanyak 2-3 mL, lalu menyimpannya dalam suhu 2-8 derajat celsius.

Setelah itu, petugas akan mengambil sampel lendir dari lubang hidung dan langit-langit mulut menggunakan kapas khusus. Kapas beserta sampel lendir lalu dimasukkan ke dalam tabung khusus sebelum dikirim.

2. Mengambil sampel serum darah

Serum merupakan bagian cair darah yang tidak mengandung sel-sel darah. Pada orang dewasa dan anak-anak, serum yang dibutuhkan adalah sebanyak 5-10 mL. Sementara pada balita, jumlah serum yang perlu diambil minimum 1 mL.

Sampel dari pasien yang menunjukkan gejala serta kriteria novel coronavirus lalu dikirimkan ke CDC. CDC kemudian akan melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel tersebut. Jika terbukti positif, pasien akan menjalani isolasi dan pengobatan intensif. ( – hellosehat.com)