close

JAKARTA, MENARA62.COM — Wabah coronavirus COVID-19 telah menyebabkan lebih dari 75.000 kasus di seluruh dunia dan menelan sekitar 2.000 korban jiwa. Di antara puluhan ribu kasus tersebut, ternyata terdapat lebih dari 14.000 pasien COVID-19 yang sembuh total setelah menjalani perawatan intensif.

Salah satu dari belasan ribu pasien tersebut termasuk WNI di Singapura yang sudah dipulangkan dari rumah sakit dan dinyatakan sembuh total.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan di Singapura, kasus WNI yang terinfeksi ditandai dengan nomor 21 , termasuk pasien yang dinyatakan sembuh oleh dokter.

Temuan tersebut tentu membuat masyarakat penasaran, bagaimana pengobatan yang didapatkan agar tubuh dapat melawan virus yang sudah menyebar ke berbagai negara ini?

Perawatan yang dijalani pasien COVID-19 hingga sembuh

Menurut CDC, sampai saat ini para ahli masih meneliti dan menggabungkan berbagai obat untuk menciptakan obat yang dapat melawan COVID-19 di tubuh manusia.

Mulai dari gabungan obat HIV dengan obat flu, hingga obat antiviral dan malaria diteliti efektivitasnya untuk menghancurkan virus yang dapat mengembangkan gejala pneumonia.

Selama penelitian berlangsung, pasien yang dikonfirmasi terinfeksi COVID-19 akan menerima perawatan yang bertujuan untuk meringankan gejala yang dialami. Pada beberapa kasus yang parah, pasien akan menjalani pengobatan yang dapat mendukung fungsi organ vital.

Berikut ini beberapa jenis perawatan yang dijalani oleh pasien coronavirus dilansir dari WHO, seperti:

1. Terapi oksigen tambahan

Salah satu perawatan yang dijalani oleh pasien COVID-19 hingga sembuh dari gejala yang dialami adalah terapi oksigen tambahan.

Umumnya, terapi oksigen diberikan kepada memiliki gangguan pada sistem pernapasan dan kekurangan oksigen di dalam tubuh. Kondisi ini ternyata bisa bila paru-paru kurang mampu menyerap oksigen, sehingga tidak cukup untuk seluruh tubuh.

Terapi yang digunakan dalam mengobati gejala pada COVID-19 ini mempunyai beberapa jenis, tergantung fungsi dan kebutuhan pasien, seperti:

Kebanyakan pasien yang menjalani terapi oksigen biasanya menjalani hidup normal dan aktif. Hal ini dikarenakan terapi dapat membuat aktivitas lebih mudah, meningkatkan stamina, dan mengurangi gejala sesak napas.

Dengan begitu, tubuh para pasien COVID-19 dapat melawan virus yang ada di dalam tubuhnya sampai sembuh karena gejala yang mengganggu daya tahan tubuhnya berkurang.

2. Konsumsi obat antimikroba

Selain mendapatkan terapi oksigen tambahan, perawatan yang dijalani pasien COVID-19 hingga sembuh dari gejala adalah mengonsumsi obat antimikroba atau antibiotik.

Konsumsi antibiotik dilakukan agar patogen dalam tubuh pasien yang mengganggu sistem kekebalan tubuhnya untuk melawan virus dapat berkurang hingga hilang sama sekali.

Pemberian obat antimikroba ini biasanya dilakukan satu jam setelah teridentifikasi adanya sepsis dalam tubuh.

Selain itu, perawatan ini juga bertujuan untuk menghambat neuraminidase. Neuraminidase adalah protein enzim yang ada pada permukaan virus, terutama virus influenza.

Maka itu, obat-obatan yang sifatnya mengobati gejala flu, seperti Oseltamivir digunakan untuk mengurangi gejala yang dialami oleh pasien COVID-19. Dengan begitu, pasien yang terinfeksi COVID-19 memulihkan kembali sistem kekebalan tubuh untuk melawan coronavirus.

3. Diawasi oleh dokter selama 24 jam

Selama proses perawatan berlangsung, pasien COVID-19 pun mendapatkan pengawasan dari dokter selama 24 jam di ruang isolasi sampai mereka sembuh.

Hal ini dilakukan agar tenaga kesehatan dapat mencegah komplikasi dari gejala yang ditimbulkan oleh COVID-19. Sebagai contoh, dokter menggunakan beberapa cara untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi pada pasien yang mengembangkan gejala pneumonia dan sedang menggunakan ventilator, seperti:

  • menjaga pasien dalam posisi semi-telentang
  • memakai sistem pengisapan tertutup dan membuang cairan dalam tabung
  • menggunakan sirkuit ventilator baru pada setiap pasien ketika kotor atau rusak
  • mengubah pengganti kelembapan panas setiap 5-7 hari sekali

Selain itu, pasien atau anggota keluarga yang menjadi penanggung jawab pasien juga perlu menentukan terapi apa yang perlu dilanjutkan dan mana yang harus dihentikan.

Para dokter pun perlu berkomunikasi dan mendukung mereka dengan informasi yang diperlukan. Dengan begitu, pasien dan anggota keluarga mengetahui apa yang sebenarnya sedang dilakukan untuk melawan virus COVID-19 hingga sembuh dari gejala yang dialami.

Bagaimana pengobatan pasien COVID-19 yang sedang hamil?

Sebenarnya, perawatan yang dijalani oleh pasien COVID-19 dan dalam keadaan hamil mirip dengan pengobatan pada umumnya sampai sembuh.

Akan tetapi, dokter juga turut mempertimbangkan kondisi kehamilan saat itu. Hal ini bertujuan agar mereka tidak salah memberikan obat yang mungkin tidak dapat diterima oleh tubuh pasien.

Oleh karena itu, tim dokter perlu menganalisis manfaat dan risiko kehamilan karena menyangkut keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya. Perawatan untuk COVID-19 ini pun juga mendapatkan konsultasi dari dokter spesialis kebidanan.

Apabila keputusan harus dibuat selama masa perawatan seperti persalinan darurat atau menggugurkan kandungan, hal tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:

  • usia kehamilan
  • kondisi kesehatan ibu
  • kondisi janin

Maka itu, ibu hamil yang terinfeksi COVID-19 perlu mendapatkan pengawasan ekstra, baik dari tim dokter biasa maupun dokter kandungan.

Sebenarnya, perawatan yang dijalani oleh pasien COVID-19 hingga sembuh tergantung pada tingkat gejala yang mereka alami. Oleh karena itu, ketika Anda mengalami gejala terkait COVID-19, segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi atau tidak. ( – hellosehat.com)