close

Perjalanan menuju Desa Cepak Buah, Lebak, Banten, dipenuhi eksotisme alam yang indah. Di sekeliling jalan banyak pepohonan rindang dan rumah tradisional. Mendekati desa, ada jurang cukup dalam di sisi kiri atau kanan jalan. Hal itu merupakan pemandangan biasa bagi warga setempat. Sungai di dalam jurang menjadi teman kehidupan mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi pengunjung, khususnya yang dari kota, tentunya pemandangan itu menambah eksotisme travelling. Penat selama empat jam dari tol Jakarta hingga Serang, hilang lantaran keindahan di Lebak. Tidak berlebihan, pemandangan di sini memang luar biasa. Bahkan, “negeri di atas awan” yang sempat viral di media sosial, bisa dicapai dari desa ini dengan perjalanan beberapa jam saja.

Desa Cepak Buah masuk kategori Desa Badui Luar, yakni lokasi bagi warga Badui yang tidak lagi terikat dengan ajaran-ajaran adat. Sekitar 300 meter dari desa ini, terdapat Desa Badui Adat yang dikhususkan bagi warga Badui yang masih memegang teguh ajaran leluhur. Namanya desa Ciboleger. Pengunjung tidak boleh sembarangan di desa tersebut. Semua harus mengikuti aturan, karena jika melanggar akan mendapat teguran dari tetua adat. Kondisi berbeda ketika berada di Badui Luar. Warga yang sudah keluar dari desa adat, memiliki kebebasan untuk memiliki sejumlah barang, mulai dari telepon seluler hingga naik mobil.

Di antara Badui Luar, ada warga muslim atau yang lebih dikenal Badui mualaf. Meski sudah keluar, mereka tetap berinteraksi secara harmonis dengan warga Badui Adat. Jumlah mereka bertambah setiap tahun seiring dengan meningkatnya aktivitas dakwah di sana. Beberapa organisasi masyarakat (ormas) Islam intensif memberikan bantuan kepada warga Badui yang masuk Islam tanpa ada paksaan. Hal ini menjadi penting, jika ada kelompok yang memaksa atau mengajak warga Badui pindah agama, akan menimbulkan penolakan dari kelompok adat dan bisa saja memicu konflik sosial.

Salah satu ormas yang aktif membina mualaf adalah Muhammadiyah. Melalui Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah, pembinaan terhadap Badui Mualaf gencar dilakukan. Ada sosok penting perjalanan dakwah di Badui, yakni Muhammad Kasja. Putra Badui asli yang mualaf sejak 1990, kemudian bergabung dengan Muhammadiyah. Baginya, perjalanan dakwah di Badui penuh dengan suka dan duka. Dia tumbuh dalam kehidupan adat Badui yang kemudian melanjutkan hidupnya sebagai dai.

Amanah membina muallaf diembannya hingga saat ini. Hidupnya bersahaja. Kesederhanaan tampak dari rumah yang ditinggalinya bersama keluarga. Di samping rumah, ada masjid dan madrasah yang dibangun dari bantuan banyak pihak. Di masjid ini, dakwah Islam gencar dilakukan untuk menebar cahaya Ilahi.

“Kehidupan warga Badui Mualaf sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Badui Adat. Mereka saling membaur dan penuh dengan keharmonisan,” kata Kasja saat ditemui di kediamannya.

Kesederhanaan Dai LDK Muhammadiyah, Muhammad Kasja, yang membina Badui Mualaf

Dakwah tanpa memaksa adalah kunci yang dipegang Kasja selama ini. Memang demikian yang terjadi sebenarnya. Selama puluhan tahun berdakwah di Badui, dia tidak pernah meminta warga untuk pindah agama. Prinsip itu dipegangnya demi menjaga keharmonisan sosial.

“Kita tidak mengajak warga Badui untuk masuk Islam. Tetapi, ada keinginan dari diri mereka sendiri untuk mengenal Islam,” jelasnya.

Jumlah Badui Muallaf di Lebak mencapai 500 kepala keluarga (KK). Ini prestasi dakwah yang digapai melalui perjalanan penuh liku. Kasja tentu tidak sendiri. Dia dibantu oleh banyak organisasi. Selain Muhammadiyah, ada pula Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Lembaga ini mengoordinasikan pembangunan rumah untuk Badui Mualaf, yang lokasinya masih berdekatan. Satu komplek perumahan masih dalam proses pembangunan yang dilakukan secara bertahap.

Komplek Perumahan Badui Mualaf di Kampung Ciater, Lebak, Banten

“Ketika diterjunkan di desa ini tahun 2005,  saya dibekali uang hanya seratus ribu rupiah untuk tiga bulan. Bukan hanya saya sendiri, melainkan juga untuk menghidupi keluarga,” kenang Kasja menceritakan suka duka dalam berdakwah.

Dia pun bercerita pernah didatangi preman dan dimintai duit. Bahkan, para preman itu datang ke rumahnya sambil membawa senjata tajam.

“Boro-boro memberi duit, lah untuk diri kita sendiri saja kesulitan,”kenang Kasja lagi.

Kasja tentu bersyukur kondisi kehidupannya kian lebih baik. Banyak pihak yang peduli dengan dakwah di Badui, tentunya berimplikasi pada membaiknya roda kehidupan di daerah tersebut. Apakah Kasja dan Badui Mualaf lainnya mengekslusifkan diri?

“Kita tetap bergaul dengan warga Badui Adat. Ada juga Badui Muallaf yang keluarganya masih di desa adat. Tidak mungkin mereka memutuskan silaturahmi,” katanya.

Inilah keindahan dan keharmonisan warga Badui yang memang dipenuhi kebersamaan. Kasja mengakui sejak dahulu, warga Badui memang terkenal dengan keramahan dan gotong royong. Artikulasi dakwah yang dilakukannya selalu menitikberatkan pada keharmonisan dan keramahan. Salah satu buktinya ada pada tradisi tanam padi yang dilakukan warga.

Jangan bayangkan menanam padi di Badui seperti di sawah pada umumnya. Kontur perbukitan menjadikan tradisi bercocok tanam sangat berbeda dengan wilayah lain. Menanam padi dilakukan secara gotong royong dan penuh kebersamaan. Bagi Kasja, tradisi seperti itu menjadi kesempatan bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Tradisi Ngasek Pare, bercocok tanam ala Badui

“Di sini memang mayoritas berprofesi sebagai petani,” kata Kasja.

Salah satu warga, Samin, menjelaskan tradisi menanam padi di Badui terbilang unik. Sekelompok pria melangkah sambil menumbuk tanah dengan kayu dan diikuti wanita di belakangnya yang menebar bibit padi. Di situ letak keunikannya.

“Begini memang tradisi menanam padi di Badui. Nanti, pindah lagi ke ladang yang lain,” kata Samin saat menunjukkan aktivitas warga Badui di salah satu ladang.

Ada istilahnya menanam padi seperti itu, yakni ngasek pare. Bagi warga Badui, ngasek pare merupakan peninggalan leluhur yang harus diikuti. Bibit yang ditanam dibiarkan begitu saja. Biasanya, enam bulan kemudian mereka kembali ke ladang untuk panen. Ada kewajiban bagi warga Badui yang sudah berkeluarga, yakni harus terlibat dalam ngasek pare. Suaminya menumbuh tanah dengan kayu, diikuti istrinya di belakang yang menebar bibit.

“Jumlah padi yang dipanen tergantung berapa banyak yang tumbuh. Biasanya diikat, kadang ada seratus ikat, ada juga lima puluh ikat. Itu tergantung keluasan tanah,” kata kepala suku Badui adat, Amin, saat ditemui di ladang.

Kepala Suku Badui, Amin, saat ditemui di ladang

Bertani ala Badui berbeda dengan kebanyakan. Mereka tidak mengenal traktor, pupuk, pestisida ataupun teknologi pertanian lainnya. Semua digantungkan pada kondisi alam. Ini pula yang menjadi aturan atau larangan berlaku bagi warga Badui adat. Tidak boleh menggunakan peralatan modern. Bahkan, saat memanen padi, mereka masih menggunakan alu atau antam untuk memisahkan sekam dari beras. Alu ditumbuk ke lesung yang terbuat dari kayu. Di dalam lesung itu, ada sekam padi yang kemudian menghasilkan beras. Ada larangan juga bagi wanita yang menumbuk beras di lesung, yakni mereka dilarang berbicara.

Beras kemudian dikarungkan dan dimasukkan ke dalam lumbung padi yang disebut leuit. Leuit ini berupa bangunan kecil dindingnya terbuat dari anyaman bambu beratap daun rumbia yang biasanya ada di setiap rumah warga. Padi dari hasil panen ini menjadi kekayaan warga Badui, karena selain untuk konsumsi pribadi, sebagian lain dijual ke pasar.

Kondisi ini yang membedakan antara warga Badui Adat dan Badui Mualaf. Bangunan rumah warga Badui adat tidak boleh menggunakan batu bata atau tembok, namun harus berbentuk panggung dan berbahan kayu atau bambu. Perbedaan lainnya ketika menyimpan beras. Badui Mualaf menyimpan padi di dalam rumah, tidak harus di leuit.

Cara berpakaian pun menunjukkan perbedaan. Warga Badui Adat masih mengenakan jamang sangsang, yakni baju berlengan panjang dengan cara pakai hanya disangsangkan atau hanya dilekatkan pada tubuh. Desain baju sangsang berlubang pada bagian leher sampai dada serta tidak menggunakan kerah, kancing, dan kantong. Baju adat ini didominasi dengan warna putih dan tidak boleh dijahit menggunakan mesin jahit. Warna putih pada baju diartikan dengan kehidupan mereka yang suci dan tidak terpengaruh budaya luar.

Badui Mualaf seperti kita kebanyakan, mereka mengenakan kaos dan celana panjang. Perbedaan ini yang kemudian mencirikan bahwa warga sudah tidak terikat dengan aturan adat.

 

Islam Agama Pembebasan

Meningkatnya jumlah mualaf di Badui tidak lepas dari sikap warga yang mulai “jenuh” dengan banyaknya aturan adat. Kehidupan modern sedikit demi sedikit menggoda mereka dan itu yang kemudian melunturkan kepercayaan terhadap kehidupan adat. Tidak boleh punya telepon seluler, tidak boleh memiliki televisi, tidak boleh naik mobil, menjadi “kejenuhan” bagi sebagian warga Badui. Terlalu banyak “ketidakbolehan” mengantarkan warga Badui untuk keluar dari kehidupan adat dan akhirnya bersinggah ke Islam.

Seperti yang diceritakan Samin, dirinya sudah tidak betah berada dalam kehidupan adat. Dia mengaku tidak ingin “mengotori” agama Badui Adat karena ingin keluar dari kehidupan adat. Ketika ditemui di rumahnya, Samin sudah memiliki alat-alat modern, mulai televisi, kulkas, kipas angin hingga telepon seluler.

Badui mualaf, Hamzah, yang tengah mendirikan shalat di rumahnya.

“Saya tidak mau mengotori agama yang di dalam itu, saya mencari tahu bagaimana caranya keluar. Kebetulan ada ustaz di sini, saya ngobrol-ngobrol dengan dia. Pak, saya mau masuk Islam. Awalnya, pak ustaz tidak begitu menanggapi, setelah dua dan tiga kali saya tanya, baru dia menanggapi. Saya lalu dibawa ke Cilegon,” kenang pria ini saat pertama kali masuk Islam.

Dia pun mengisahkan perjalanannya menjemput hidayah tanpa ada paksaan siapa pun.

“Tidak ada yang memaksa. Ini dari diri saya sendiri ingin menjadi muslim,” terangnya.

Pendapat yang sama disampaikan Hamzah, pria yang kini sudah memiliki rumah di kompek perumahan Badui Mualaf. Dia mengisahkan awalnya hanya bersilaturahmi dengan sekelompok muslim, lalu merasa tertarik untuk masuk Islam.

“Kalau di Islam tidak banyak larangan, tapi di adat banyak tidak bolehnya,” kata Hamzah saat ditemui di rumahnya yang baru ditempati enam bulan.

Sebagai organisasi dakwah, Muhammadiyah tentu aktif menjalankan tugas dan fungsinya membina Badui Mualaf. LDK Muhammadiyah memainkan peran bersama elemen dakwah lainnya menebar rahmat dan hidayah Ilahi. Seperti yang diungkapkan Kasja, dakwah di Badui bersifat pasif. Hal itu dilakukan untuk menghindari penolakan dari tetua Badui adat yang bisa saja berujung pada konflik sosial. Tentu hal itu akan memperburuk citra dakwah di sana.

“Paling penting adalah membina para Badui yang sudah muslim. Mereka kita berdayakan secara ekonomi, lalu kita teguhkan iman dan Islam mereka melalui pengajian dan beribadah bersama-sama,” kata Kasja.

Masjid tempat dakwah di Desa Badui Luar

Sebagai dai pelopor di Badui Luar, Kasja menyelenggarakan pengajian secara rutin. Dia pun berbaur dengan mualaf untuk mengetahui perkembangan pemahaman agama. Pendekatan dari hati ke hati membuat mualaf yang dibinanya kian dekat. Tidak ada jarak antara Kasja dengan warga mualaf lainnya. Masjid di desa ini menjadi saksi bagaimana perjuangan Kasja mengenalkan Islam tidak mudah dan melalui jalan yang terjal.

“Saat ini kita membina pada Badui Mualaf dengan menyediakan tempat tinggal,” kata Kasja.

Rumah menjadi kebutuhan tidak terelakkan bagi Badui Mualaf. Sejak mengikrarkan syahadat, otomatis warga Badui “terusir” dari lingkungan adat. Mereka pun pindah ke rumah tetangga atau saudara yang sudah berada di Badui Luar.

Pembangunan perumahan Badui mualaf berada di Kampung Ciater, Desa Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Pembangunan perumahan ini berada di atas tanah seluas 10 hektar. Hingga 2019, sudah dibangun 40 unit dari total 120 rumah. Sisanya, akan dilakukan pembangunan secara bertahap. Bantuan pun datang silih berganti dari berbagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan Badui Mualaf. Di komplek perumahan itu pun dibangun masjid yang menjadi pusat kegiatan agama. Semarak peribadatan diharapkan mampu menumbuhkan semangat keagamaan bagi warga Badui yang telah tersentuh dengan Islam. Mereka pun semangat untuk mempelajari Islam demi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.