Guru-guru saat mengikuti pelatihan program MiKIR (ist)
close

RANI Saputri, guru MI Tarbiyah Islamiyah Muara Tebo, Rimbo Bujang, Jambi bersama enam puluh sembilan peserta lainnya selama tiga hari tampak antusias mengikuti pelatihan pembelajaran dan budaya baca untuk guru SD dan MI yang diselenggarakan Program PINTAR Tanoto Foundation, di Aula STIT Al Falah Rimbo Bujang, Rabu, (12/2/2020).

Rani mengaku beruntung menjadi salah satu peserta untuk meningkatkan kompetensinya sebagai guru, apalagi ia merupakan guru madrasah.

“Saya senang, ditunjuk menjadi salah satu peserta, pelatihannya menarik dan bagus untuk pengembangan diri guru,” ujarnya.

Rani menambahkan, selama mengikuti pelatihan semua peserta dituntut aktif dan berdiskusi dengan peserta lainnya. Banyak hal yang Rani pelajari, seperti pembelajaran MIKiR, yang merupakan singkatan dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi.

“Setelah diperkenalkan pembelajaran aktif melalui langkah-langkah MIKiR tadi, saya yakin siswa madrasah kami akan semakin baik kedepan,” tambahnya.

Selain MIKiR, para peserta diperkenalkan “kunjung karya”, yaitu para peserta mengunjungi karya hasil kelompok lainnya, PIT alias Pertanyaan Imajinatif dan Terbuka, dan MIA yang merupakan singkatan dari Mobilitas, Interaksi, dan Akses siswa ketika belajar di kelas.

“Siswa jadi lebih aktif, berani dan terbuka untuk menyampaikan pendapat,” kata Irman Sucipto, guru SDN 118/VIII Wirotho Agung Rimbo Bujang.

Peserta lainnya, mengaku dengan pembelajaran yang dikembangkan Program PINTAR, tentu menjawab tantangan guru ketika pembelajaran di kelas. Sehingga siswa yang awalnya pendiam pun menjadi lebih berani mengungkapkan pendapat berkat pembelajaran aktif.

“Satu hal yang menarik dari pelatihan ini adalah peserta menyampaikan gagasan secara terbuka di depan kekompok lainnya, saya akan melakukan hal yang sama ketika mengajar nanti,” ujar Ngatiman, guru SDN 60/VIII Perintis Rimbo Bujang.

Dukung Pembelajaran Abad 21

Heru Purnomo, SE, mengatakan Program PINTAR Tanoto Foundation sejalan dengan Dinas Pendidikan dalam mendorong guru dalam melaksanakan pembelajaran aktif di kelas.

“Tentu ya, sangat bagus sekali, sejalan dengan Dinas Pendidikan, guru harus menerapkan hasil pelatihan ketika mereka kembali ke sekolah masing-masing,” ujar pria yang menjabat Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tebo.

Heru berharap setelah pelatihan ini imbasnya membuat siswa lebih berani berpendapat, sekolah memiliki karakter, keterampilan, dan berfikir ilmiah,

“Harapannya tentu seperti itu ya, sehingga outputnya adalah siswa di Kabupaten Tebo ini berprestasi,” tambahnya.

Fitria Hima Mahligai, Training Specialist Primary Tanoto Foundation Jambi, kedepannya dengan pembelajaran MIKiR, guru akan mendorong siswa untuk menanya, mengamati, mencoba, berpendapat, dan merefleksikan pembelajaran yang dibutuhkan abad 21, yaitu siswa berpikir kreatif dan kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan mampu memecahkan masalah.

“Pandangan guru tentang berfikir kreatif misalnya saat mengidentifikasi kegiatan pembelajaran, seperti unsur mengalami, maka guru mengarahkan pikiran pada ‘kemampuan apa yang akan dikembangkan siswa,” ujarnya.

Fitria juga mencontohkan hal lainnya seperti, “Mampu mengenal struktur tulang daun’, maka kegiatan ‘mengalami’nya adalah mengamati berbagai daun; lalu ‘mampu menulis puisi’ siswa harus menulis puisi; dan sebagainya. Ini butuh komitmen dan kreativitas guru,” ungkapnya. (ahmad syaiful bahri)