Beranda Headline Kemenristek akan Kembangkan Vaksin COVID-19 Sekitar 12 Bulan

Kemenristek akan Kembangkan Vaksin COVID-19 Sekitar 12 Bulan

Menristek Bambang Brodjonegoro
close

JAKARTA, MENARA62.COM  – Kementerian Riset dan Teknologi /Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Konsorsium COVID-19 akan berjuang keras mengembangkan vaksin COVID-19 sekitar 12 bulan.

“Selain itu tentunya dengan terlibat dalam pengujian sampel kita harapkan dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Kita coba untuk mengembangkan vaksin untuk COVID-19,” kata Menristek Bambang Brodjonegoro pada konferensi video bersama awak media di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis (26/3/2020).

Menurutnya waktu 12 bulan untuk pengembangan vaksin terbilang cukup cepat, namun akan diupayakan berbagai cara jika sekiranya dapat dikembangkan dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Kemristek juga membuka kemungkinan untuk bekerja sama dengan pihak luar negeri yang juga ingin atau sedang mengembangkan vaksin untuk COVID-19 dalam rangka percepatan pengembangan vaksin itu.

“Secepat dan seakurat mungkin kita bisa menciptakan vaksin untuk penanganan COVID-19,” ujar Menristek Bambang.

Meskipun jika ada pihak luar negeri yang berhasil memproduksi vaksin, bukan berarti Indonesia tidak menciptakan vaksin itu. Menurut Bambang, Indonesia sendiri harus mempunyai kemampuan untuk memproduksi vaksin tersebut karena vaksin COVID-19 dibutuhkan semua penduduk Indonesia. Selain itu, dunia juga membutuhkan vaksin itu.

Apalagi jika produksi vaksin COVID-19 di luar negeri itu masih terbatas untuk diekspor karena tentu akan terlebih dulu memenuhi kebutuhan penduduk dalam negeri masing-masing. Oleh karena itu, kemandirian bangsa Indonesia sangat dibutuhkan dalam memproduksi vaksin COVID-19 agar tidak bergantung pada luar negeri dan akan menjadi masalah ketika vaksin dibutuhkan dalam jumlah banyak secara mendesak, tapi suplai impor tidak mampu mendukung.

“Jadi kemampuan kita secara mandiri membuat vaksin itu sangat diperlukan dan tentunya komunitas Ristek/BRIN sudah siap untuk mengembangkan vaksin tersebut dengan didukung fasilitas yang sangat memadai seperi laboratorium bio safety level 3 di Eikjman dan LIPI,” tuturnya.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan pihaknya sedang mendiskusikan pengembangan vaksin dengan para peneliti dan PT Bio Farma.

“Kami merencanakan akan membuat satu vaksin mengingat waktunya yang cukup pendek dan dikaitkan dengan ‘feasibility;-nya (kelayakannya), dan diharapkan bisa membangkitkan respon imun yang sangat baik,” tutur Amin.

Vaksin itu diharapkan bisa membangkitkan atau menstimulasi pembentukan anti bodi sehingga bisa melawan serangan virus corona penyebab COVID-19 dengan demikian virus itu tidak mampu menginfeksi tubuh.

“Tentunya anti bodi harus bisa mempunyai sifat protektif artinya melindungi dari infeksi virus mudah-mudahan tidak terjadi infeksi kalau terjadi infeksi juga tidak berat,” ujarnya.

Vaksin tersebut dikembangkan juga harus memiliki sifat proteksi silang (cross protection) antara antigen vaksin terhadap virus Corona yang sedang beredar.

Pihaknya berharap vaksin yang dikembangkan itu bisa melindungi masyarakat Indonesia dari infeksi virus corona yang berikutnya, karena hingga saat ini sudah ada tiga jenis virus corona yang menyerang yakni Middle East respiratory syndrome-related coronavirus (MERS-CoV), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV), dan Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2).

“Proses pengembangan vaksinnya butuh waktu yang cukup lama sekitar 12 bulan walaupun kami berharap bisa lebih pendek tapi mungkin ketika vaksin ini tersedia Insya Allah pandemi (COVID-19) yang saat ini berlangsung sudah turun tapi kemampuan ini harus tetap dijaga dan dipelihara sehingga nanti kalau ada ancaman berikutnya kita tinggal hanya pencet tombol saja langsung bisa memproduksi vaksin dalam jumlah cukup besar,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, Lembaga Eijkman akan berkirim surat ke semua institusi potensial untuk terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19.

Lembaga Eijkman membutuhkan ahli dari berbagai bidang di antaranya imunologi, vaksinologi, virologi, percobaan pada hewan, dan kloning molekuler, dan mengajak ahli-ahli di bidang tersebut untuk bergabung di Konsorsium COVID-19.