Didi Junaedi
Jadilah Pendamai
close

Masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah waktu di mana kita berada ‎saat ini, masa depan adalah ketidakpastian, mungkin kita jumpai mungkin ‎juga tidak.‎

Setiap orang punya masa lalu, baik yang kelam menyakitkan atau ‎terang membahagiakan. Tidak penting seberapa kelamnya masa lalu kita, pun ‎tidak penting pula seberapa terangnya masa lalu itu. Hal terpenting adalah kondisi kita ‎saat ini. Juga persiapan kita untuk masa depan nanti. So, lupakan saja masa ‎lalu itu.‎

Apa yang saya ungkapkan ini bukan tanpa alasan. Mengapa masa lalu ‎tidak terlalu penting, dan lebih baik kita lupakan? Ada beberapa alasan yang ‎ingin saya sampaikan:‎

Pertama, jika masa lalu kita begitu kelam dan menyakitkan, kemudian ‎terus kita kenang hingga saat ini, yang akan muncul adalah perasaan trauma. ‎Akibatnya, perasaan kita selalu dihinggapi was-was dan pikiran-pikiran negatif ‎akibat dari masa lalu yang selalu kita kenang itu. Yang terbaik, tentu kita ‎mengambil pelajaran dari masa lalu itu, betapa pun pahit dan kelamnya, agar ‎kehidupan kita selanjutnya menjadi lebih baik.‎

Kedua, jika masa lalu kita begitu terang dan membahagiakan, ‎kemudian kita terus mengenangnya hingga saat ini. Padahal kondisi saat ini, ‎jauh berbeda dari kondisi masa lalu kita, yang akan muncul adalah ‎romantisme sejarah. Akibatnya, seringkali kita tidak bisa move on. Kita selalu ‎mengingat masa lalu yang penuh sanjung puji dan tepuk sorak, padahal saat ‎ini kita bukanlah siapa-siapa. Yang terbaik tentu, kita memetik hikmah atas ‎kisah manis masa lalu kita untuk menjadi motivasi hidup di saat ini.‎
‎ ‎
So, hidup kita yang sesungguhnya adalah saat ini. Fokus mengerjakan ‎yang terbaik sebagai bekal masa depan. ‎

King Abdul Aziz Airport, Ahad (19/1/2020), Pukul. 00. 52. am. (Ngantri cek pasport).