close

JAKARTA, MENARA62.COM — “Saya tidak pernah malu dengan latar belakang saya pernah menjadi buruh cuci, jualan sayur, hidup dalam selimut kemiskinan, dan harus berjuang keras demi adik-adik saya agar bisa makan. Justru saya bangga pernah mengalami itu semua. Sehingga, memupuk semangat saya untuk bangkit dan berjuang, hingga bisa mendapatkan semua yang saya miliki saat ini,” kata Tini Martini Arifin di buku, “My Life, My Beauty, My Destiny,” yang memuat tentang perjalanan hidup sekaligus gagasan pemikirannya tentang menjadikan perempuan cantik dan berdaya sebagai visi dan misi Rengganis Salon Khusus Wanita.

Pada 22 Desember 2019, bertepatan dengan “Hari Ibu”, di dalam buku keduanya, seri dari buku pertama, “My Beauty, My Future”, Tini Martini Arifin membahas tiga hal yang menjadi benang merah dalam kehidupannya, yakni tentang hidup, kecantikan, dan takdir.

Kehidupan perempuan keturunan Cirebon itu memang sangat sarat keprihatinan dan penuh perjuangan di kala masih kecil, menginjak remaja, bahkan hingga dewasa. Karena himpitan ekonomi keluarga, memaksanya turut banting tulang sedari kelas 4 SD, berjualan sayur, buah, dan menjadi buruh cuci. Otaknya terus berputar mencari peluang bagaimana agar mendapatkan uang dan bisa membantu orang tuanya, setidaknya bisa memenuhi kebutuhan makan adik-adiknya.

Ibarat ditempa, justru masa kecilnya itu turut membuatnya kian kokoh secara mental. Tak mudah menyerah apalagi cengeng. Sebaliknya, membuatnya terlatih menjadi peribadi yang gigih, ulet, pejuang, dan pantang menyerah. Nilai-nilai dan prinsip hidupnya pun kian matang, berkat petuah dan bimbingan kakek, serta bapaknya.

Pengalaman hidup yang sempat dalam kubangan kemiskinan itu dan mampu mentas dari sana. Turut membuat perempuan yang akrab disapa Bunda Tini ini, berbeda dalam memahami takdir. “Jangan bicara ini memang takdir saya. Hingga telah bekerja keras untuk mencapai yang kamu inginkan. Terus bekerja keras, terus belajar, terus memperbaiki diri, lalu berdoa, dan tawakal. Baru jika memang tidak tercapai juga, itulah takdir. Jadi jangan sekali-kali belum berupaya apa-apa sudah mengatakan ini takdir. Demikian halnya takdir yang saya jalani saat ini. Adalah dari sebuah kerja keras, jatuh bangun, terus semangat untuk belajar, memperbaiki diri, dan tak henti-henti untuk berdzikir dan berdoa,” begitulah ungkapnya.

Dunia kecantikan dan perempuan, sebenarnya bukanlah minat Tini Martini Arifin. Bahkan sebelumnya, tidak pernah terlintas untuk bergelut di bidang itu. Hingga terketuklah hati nuraninya begitu bekerja di sebuah bank swasta. Ia menyaksikan betapa negatifnya image bagi perempuan yang bekerja di salon atau orang-orang yang datang berkunjung ke salon. Umumnya selalu dikaitkan dengan praktik seks ilegal, esek-esek, dan sebagainya. Di samping itu, kebetulan ia juga sangat gundah dengan kondisinya sebagai karyawan dan telah memiliki dua anak kecil, yang butuh perhatian dan si kecil harus minum ASI (Air Susu Ibu). Namun untuk memberikan dan mencurahkan itu sebagai hak dari kedua buah hatinya, ia merasa kesulitan dengan waktu kerja.

Pada titik itulah, menjadi pemantik baginya untuk keluar dari pekerjaan, merintis usaha, dan sekaligus berjuang memperbaiki image negatif dari bisnis salon. Hingga tercetuslah ide mendirikan salon khusus wanita dengan brand Rengganis. Tak seperti kebanyakan pengusaha salon umumnya, Tini mendirikannya dengan visi misi memperjuangkan harkat martabat perempuan, sekaligus memperjuangkan kodrat seorang perempuan.

Salon adalah ibarat kebutuhan bagi seorang perempuan, karena perempuan harus cantik, dan butuh tempat perawatan untuk kecantikannya. Jadi baginya penting memperbaiki image salon. Sebab orang baik-baik pun pasti ke salon karena kebutuhan. Artinya, tidak semua yang datang ke salon berniat negatif.

Bertempat di pendopo Rengganis Training Center, di dalam buku Tini Martini Arifin yang dituliskan oleh Rochmad Widodo, seorang penulis profesional yang telah menulis banyak buku tokoh itu, di-lanching sekaligus dibedah, dan dihadiri oleh tokoh-tokoh, akademisi, keluarga besar Tini Martini Arifin, serta karyawan Rengganis. Menariknya, dalam sambutan Rochmad Widodo mengucapkan empat ucapan selamat sekaligus kepada Tini Martini Arifin saat launching buku. Pertama, adalah selamat ulang tahun, karena baru seminggu, tepatnya tanggal 14 Desember 2019, Tini ulang tahun yang ke-56. Kedua, selamat ulang tahun pernikahan ke-35 tahun. Kebetulan di bulan Desember juga pernikahan antara Tini Martini Arifin dengan Untung Margiono Jacoeb dilangsungkan pada tahun 1964 silam.

Ketiga, selamat ulang tahun ke-25 tahun salon Rengganis. Secara kebetulan juga, Rengganis didirikan bertepatan bulan Desember. Nah, selamat yang keempat adalah selamat “Hari Ibu”. Pada tanggal 22 Desember 2019, kebetulan hari launching dan bedah buku Tini Martini Arifin bertepatan pada “Hari Ibu”. Para tamu pun riuh bertepuk tangan atas sambutan penulis.

Sesi sambutan Tini Martini Arifin disambut tak kalah antusias oleh para tamu undangan. Demikian halnya sambutan dari Untung Margiono. Terlebih saat mengisahkan bagaimana mereka bisa bertemu dan akhirnya bisa menikah. Tini dengan jujur mengungkap jika mengajikan 11 syarat kepada Untung jika ingin menikah dengannya, dan cinta adalah menjadi syarat yang ke-11. Lantas Untung membalas, jika dia justru memiliki 13 syarat untuk menjadi istrinya, jadi masih punya stok 2 syarat untuk Tini. Mereka pun keduanya mengulas perjalanan pernikahan dan usaha salonnya itu, hingga menjadi seperti sekarang. Yang semuanya dipaparkan dengan detail dalam buku seri kedua. Tini dan Untung berharap, selain sebagai kenang-kenangan bagi keluarga, buku itu akan bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca. [*]