Politik Inklusif Muhammadiyah
Politik Inklusif Muhammadiyah
close

Politik inklusif Muhammadiyah tidak dipahami dalam arti sempit, politik kekuasaaan atau politik kepemiluan, tetapi jauh lebih luas lagi. Politik inklusif yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah praktik politik dalam berbagai dimensi kehidupan sebagaimana disajikan dalam buku Politik Inklusif Muhammadiyah, Narasi Pencerahan Islam untuk Indonesia Berkemajuan (2019). Buku ini diterbitkan oleh UMY Press.

Pemikiran inklusif Muhammadiyah yang dituliskan dalam buku ini, memiliki perspektif berbeda. Para intelektual yang menuliskannya, berasal dari berbagai kalangan dengan perspektif beragam. Namun, mereka memiliki kesamaan pandangan bahawa Muhammadiyah telah memiliki bukti nyata dalam mengaktualisasikan Islam berkemajuan diberbagai dimensi kehidupan.

Bukti nyata itu, kemudian ditulis untuk dapat disajikan kehadapan publik tanpa harus menyombongkan diri atau berteriak, seakan mereka adalah orang yang paling berjasa untuk republik ini.

Buku ini, diawali dengan prolog yang ditulis Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Gunawan Budiyanto, rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Haedar lebih memfokuskan pada politik kebangsaan Muhammdiyah, sementara Gunawan menguraikan tentang tujuh falsafah inklusif ajaran KH Ahmad Dahlan.

Sebagai tulisan pembuka, Hilman latief mencoba mengkonstruksikan konsep inklusivitas Muhammadiyah dalam politik kebangsaan.

Ahmad Norma Permata, menjelaskan tentang konsep dan praktik gerakan inklusif Muhammadiyah. Menjadi Bab pertama dalam buku ini. Ia menyelusuri kajiannya tentang warisan dan peran Muhammadiyah dalam bentuk budaya politik Indonesia. Fauzan dan Eva Nurlaila, menguraikan tentang politik amal inklusif Muhamamdiyah. Piet H Khaidir, mendiskripsikan tentang politik buah manggis Muhammadiyah. Ghifari Yuristiadhi, membuka fakta tentang peran politik dakwah Muhammadiyah di era pra-kemerdekaan.

Sementara itu, Ridho Al-Hamdi dan Arie Kusuma Paksi, menceritakan pengalaman praktis mereka tentang peran gerakan inklusif Muhammadiyah di luar negeri. Kemudian, M Izzul Muslimin memperingatkan warga Muhammadiyah untuk menjaga persyarikatan ini dari tahun politik.

Baca sebelumnya: Politik Inklusif Muhammadiyah

Baca berikutnya: Praktik Nyata Gerakan Muhammadiyah, 4