Peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan Kedubes AS
close

JAKARTA, MENARA62.COM – Memprediksi hujan di Indonesia tidak mudah berbeda dengan negara-negara lain. Ini karena posisi Indonesia yang berada di garis ekuator bumi.

“Sinyal perubahan cuaca di ekuator tidak cukup jelas karena gaya coriolis di ekuator yang sangat kecil bahkan nol untuk lintang nol. Itu sebabnya lembaga kredibel dunia yang dapat mprediksi secara akurat ramalan cuaca di suatu negara, cukup kualahan saat memprediksi cuaca Indonesia,” kata Tri Handoko Seto Kepala Balai Besar TMC BPPT, dalam siaran persnya Senin (13/1/2020).

GFS (global forecast system) yang banyak diacu oleh model prediksi hujan di Indonesia juga tidak berdaya memprediksi hujan beberapa minggu terakhir.

Karena itu beberapa ramalan cuaca yang dilakukan Indonesia melalui BMKG tidak semuanya akurat. Misalnya saja curah hujan di Jabodetabek 27 Desember 2019 – 2 Jauari 2020 diprediksi 101 mm. Tapi nyatanya mencapai 207 mm. Bahkan curah hujan di Halim Perdanakusuma akhir tahun 2019 yang terukur 377 mm itu diprediksi GFS “hanya”  kurang dari 30 mm.

Mempertimbangkan sulitnya memprediksi hujan di Indonesia secara kuantitatif dan akurat, juga prakiraan BMKG bahwa puncak musim hujan akan terjadi pada akhir Januari hingga awal Februari 2020 maka operasi TMC akan terus dilakukan secara profesional. Eskalasi operasi disesuaikan dengan eskalasi ancaman banjirnya. Hari per hari, jam per jam, bahkan menit per menit strategi operasi bisa berubah tergantung tingkat ancaman. Dengan tujuan mengurangi curah hujan penyebab  banjir dan longsor, bukan menghilangkan hujan.

Operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) tersebut dilakukan oleh BPPT bekerja sama dengan BNPB, TNI AU, dan BMKG sejak 3 Januari 2020 lalu. Tujuannya untuk mengurangi curah hujan yang akan terjadi di Jabodetabek agar tidak terjadi banjir dan longsor lagi. Caranya dengan menjatuhkan awan-awan di atas Selat Sunda dan Laut Jawa sebelum masuk menjadi hujan di Jabodetabek.

“Jabodetabek tetap ada hujan. Terutama dari awan-awan yang tumbuhnya memang di daratan. Awan-awan ini tidak kami semai. Kami biarkan saja. Oleh karena itulah target pengurangan curah hujan TMC adalah 30-40%. Tanah Jabodetabek tetap punya hak atas air hujan. Karena memang diperlukan. Dan TMC juga memang tidak mampu menghilangkan hujan sama sekali setiap hari,” tambah Tri.

Pada tanggal 6 Januari US Embassy mengeluarkan weather alert. Dalam peringatan dini cuaca tersebut dikatakan bahwa through 12 Januari 2020 akan terjadi unusual heavy rainfall. Maksudnya sejak 6 Januari hingga 12 Januari 2020.

Berita ini menjadi viral karena masyarakat bahkan para ilmuwan banyak yang mengartikan akan terjadi cuaca ekstrim pada 12 Januari.

“US Embassy kaget. Padahal warning ini juga senada dengan prakiraan BMKG. Science and Tech Afair US Embassy langsung ingin ketemu saya untuk berdiskusi. Beliau menyayangkan kesalahan baca yg terus diviralkan dan berakibat fatal. Sembari menggali informasi ttg TMC yg kami kerjakan,” tutupnya.