30.3 C
Jakarta

Jadi Tempat Berisiko Penularan Covid-19, Pesantren Harus Ketat Terapkan 3M

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM– Pesantren adalah salah satu unit pendidikan yang diijinkan melakukan pembelajaran tatap muka. Padahal diketahui pesantren juga merupakan salah satu tempat yang berisiko terjadinya penularan Covid-19.

Namun, menurut Basnang Said, Kepala Subdit Pendidikan Pesantren Dit PD Pontren Kemenag RI,  pesantren adalah tempat yang bisa menjamin kesehatan anak didiknya dengan menetapkan 3 hal. Pertama, pesantren bekerja sama dengan dinas kesehatan dan puskesmas dalam memastikan kesehatan siswa. Kedua, bekerja sama dengan pemerintah daerah yang di mana ketika siswa masuk pesantren fasilitas seperti bus yang steril untuk menjemput siswa. Ketiga, siswa yang berada di luar pesantren difasilitasi dengan bantuan kuota belajar daring dan bantuan Rp5juta/bulan.

Meskipun demikian Basnang mengakui bahwa menurut data per 2 Oktober ada 39 pesantren dari 11 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah 2.332 santri dikatakan positif Covid-19, 90% orang tanpa gejala (OTG). Namun ini terjadi bukan dari santri, melainkan dari pengajar yang keluar masuk dan tukang belanja. Dalam mengatasi ini, pesantren menerapkan aturan 3m dan melakukan kerja sama dengan biro dagang dan bidang lainnnya untuk mengurangi interaksi.

“Sebenarnya di pesantren adaptasi 3M sangat mudah karena tradisinya sudah demikian, ditambah prinsip siapa yang dekat dengan orang berilmu dan sholeh pasti nanti dia akan bersama-sama hingga kiamat, disinilah peran kiai diperlukan. Kata kiai lebih efektif dari pada kata ibu,” tambahnya dalam acara Bagaimana Menerapkan 3M di Pondok Pesantren di chanel Katadata Indonesia Jum’at, (6/11/2020).

Selain itu Sugeng Ibrahim, Direktur Kampanye Gerakan Pakai Masker menjelaskan bahwa risiko untuk anak-anak terkena Covid-19 sangat kecil. Justeru yang mengkawatirkan adalah mereka yang beresiko OTG seperti anak yang memiliki penyakit asma, dan TBC.

Menurut Sugeng masalahnya ada pada pengajar yang keluar masuk indikasinya ada 2, satu untuk anak yang memiliki penyakit dan  untuk pengajar yang sudah sepuh. Oleh karena itu, ada baiknya pondok pesantren menerapkan aturan dikunci untuk luar sekaligus tetap menggunakan masker, cuci tangan, jaga jarak, dan tidak berbicara ketika makan.

“Menyangkut budaya cuci tangan, di pesantren sebenarnya itu adalah hal biasa karena mereka 5 kali sehari berwudhu,” tutup Sugeng.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!