SOLO, MENARA62.COM – Sebanyak 65 guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Jawa Tengah, menerima Sertifikat Pesantren Ramadan Virtual (PRV) sebagai bentuk penguatan ideologi dan profesionalisme dalam dunia pendidikan.
Sertifikat yang ditandatangani oleh Didik Suhardi tersebut merupakan hasil dari program yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Penyerahan sertifikat dilakukan secara simbolis oleh Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Sayekti, kepada tujuh perwakilan guru dan karyawan. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan workshop bertema model pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial di Red Chilies Hotel Solo, Sabtu (11/4/2026).
Sri Sayekti menyampaikan bahwa sertifikat PRV menjadi bukti penguatan ideologi Muhammadiyah secara digital sekaligus mendorong guru menjadi tenaga profesional yang unggul.
“Sertifikat PRV ini semoga bermanfaat. Guru Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi unggul yang berlandaskan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” ujarnya.
Program PRV sendiri menghadirkan berbagai materi keislaman, seperti e-modul thaharah, ibadah, Al-Qur’an, Al-Hadits, hingga hikmah Ramadan. Selain itu, peserta juga diwajibkan mengisi aktivitas ibadah seperti salat tarawih melalui aplikasi yang telah disediakan.
Tidak hanya itu, terdapat pula fitur sedekah yang mendorong peserta untuk rutin bersedekah melalui Lazismu berbasis QRIS. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan uji pemahaman, refleksi, serta raport untuk memantau capaian ibadah peserta selama Ramadan.
Sri Sayekti menegaskan, guru tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai kader Muhammadiyah yang mengemban misi dakwah.
Ia mengutip teladan Ahmad Dahlan sebagai sosok guru ideal yang dapat “digugu lan ditiru”, dipercaya, dan berakhlak mulia.
“Penguatan ideologi melalui PRV diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam diri guru dan karyawan, sehingga dapat mendukung terwujudnya sekolah berkemajuan dan berkeadaban,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pemahaman jati diri persyarikatan bagi seluruh guru dan karyawan di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah.
“Dengan pemahaman yang kuat, kita tidak hanya bekerja, tetapi juga menjalankan misi dakwah berkemajuan,” pungkasnya. (*)
