BANDUNG, MENARA62.COM – Merawat bumi berarti menegakkan keadilan bagi semua, terutama bagi perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan yang paling terdampak. Pesan inilah yang menjadi dasar Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ‘Aisyiyah Jawa Barat dengan tema “Memperkuat Inisiatif Pemimpin Pemuda Lintas Agama melalui Ekofeminisme”, yang mengajak perempuan dan pemuda ikut bersuara dan bertindak menjaga lingkungan.
Kegiatan ini menghadirkan Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Wakil Sekretaris LLHPB PP ‘Aisyiyah, dan dimoderatori oleh Andi Malaka dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat. Acara diikuti oleh 68 peserta secara daring.
Farah menekankan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan alam, tetapi juga keadilan sosial, karena dampaknya sering dirasakan oleh kelompok paling rentan, termasuk perempuan, anak-anak, difabel, dan lansia.
“Ekofeminisme mengingatkan kita bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga bumi. Mereka sering paling terdampak sekaligus menjadi penggerak perubahan di keluarga dan komunitas,” ujar Farah. Ia menambahkan bahwa Islam sejak awal telah mengajarkan penghormatan terhadap alam dan pemuliaan perempuan.
Farah juga menegaskan bahwa kerja lintas agama bukanlah mengaburkan akidah, melainkan menyamakan kepedulian untuk merawat kehidupan bersama.
Prinsip ini selaras dengan ajaran Islam, seperti tercermin dalam QS Al-Maidah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” Allah SWT juga menegaskan dalam QS Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dibedakan menjadi bangsa dan suku agar saling mengenal, dan yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Ayat-ayat ini menjadi landasan bagi Farah untuk menegaskan bahwa kolaborasi lintas agama adalah bentuk berbagi kepedulian demi kebaikan bersama.
Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, kata Farah, melibatkan pemuda lintas agama melalui edukasi lingkungan (eco-literacy), penguatan ekonomi berbasis kepedulian lingkungan (eco-sociopreneurship), serta advokasi dan kampanye untuk mendorong keadilan iklim.
Menurut Farah, bagi ‘Aisyiyah, pesan ekofeminisme dapat diwujudkan melalui aksi nyata, yaitu merawat bumi sekaligus membina keluarga dan komunitas. “Kesadaran ini bisa dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar, sehingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia mencontohkan program Pasarku Tempat Ibadahku serta Panduan Green Ramadan dan Idulfitri, yang mendorong ibu-ibu mempraktikkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dari pasar dan hari besar umat Islam. Farah juga mengajak peserta untuk mensyiarkan aksi nyata dengan mengirimkan artikel dan foto ke redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah.
Amalia Nur Milla, Anggota Pimpinan LLHPB PWA Jawa Barat, menekankan bahwa keberlanjutan hidup generasi mendatang sangat bergantung pada inisiatif perempuan hari ini.
“Di Aisyiyah Jawa Barat, kami telah memiliki dua buku panduan yang mendukung gerakan peduli lingkungan, yaitu Islamic Green School dan kumpulan kultum tentang lingkungan. Buku-buku ini menjadi sumber inspirasi bagi kita semua. Semoga inisiatif-inisiatif seperti ini bisa semakin meluas,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas Majelis dan Lembaga, termasuk di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, agar dari setiap aksi, misalnya seperti pengelolaan sampah, dapat menjadi sumber manfaat dan ekonomi bagi masyarakat.
Moderator Andi Malaka, dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat, menekankan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan alam, tetapi juga cerminan ketimpangan relasi kuasa. Oleh sebab itu, program dan aksi nyata yang melibatkan komunitas serta pemuda lintas agama sangat penting untuk menghadapi tantangan ini.
“Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah adalah praktik amar ma’ruf nahi mungkar yang tidak berhenti pada narasi hijau, tetapi bekerja di akar persoalannya,” tutupnya. (*)
