JAKARTA, MENARA62.COM — Di tengah tekanan kehidupan kota metropolitan yang kian kompleks, keluarga kembali ditegaskan sebagai fondasi utama ketahanan sosial, spiritual, dan kemanusiaan. Pesan ini mengemuka dalam Seminar Natal Nasional bertajuk Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan yang diselenggarakan Sabtu (3/1/2026) di Aula Lantai 1 Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Natal Nasional 2025 yang mengusung tema besar Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga, terinspirasi dari Matius 1:21–24. Melalui forum ini, masyarakat diajak merefleksikan kembali peran keluarga sebagai ruang pertama pembentukan iman, nilai, dan ketahanan sosial bangsa, terutama di tengah dinamika kota besar yang sarat tekanan ekonomi, digital, dan relasi sosial.
Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. menegaskan bahwa keluarga adalah inti dari bangunan peradaban. Menurut dia, tidak mungkin membangun negara yang kuat jika fondasi keluarganya rapuh. “Norma tentang keluarga jauh lebih banyak dibahas dalam Alkitab dan Alquran dibandingkan soal negara. Ini menandakan betapa sentralnya keluarga dalam kehidupan berbangsa,” ujar Nasaruddin.
Ia menyoroti perceraian sebagai tantangan serius yang berdampak luas, terutama bagi anak-anak. “Yang paling merasakan luka perceraian adalah anak. Ikatan emosional dalam keluarga harus diperkuat. Jika keluarga rusak, masyarakat ikut rusak, dan negara menjadi lemah,” katanya. Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya melihat agama sebagai sumber persaudaraan, bukan perpecahan. “Semakin dalam kita memahami kitab suci, semakin dekat kita satu sama lain,” ujarnya.
Dari perspektif pendidikan dan sains, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D. menyoroti tantangan keluarga metropolitan yang sering luput disadari, yakni erosi komunikasi akibat kecanduan digital. Ia menyebut rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan berjam-jam setiap hari di media sosial dan internet, sering kali tanpa disadari mengurangi kualitas relasi dalam keluarga.
“Inti keluarga adalah nilai dan kenangan. Itu tidak lahir dari layar gawai, melainkan dari percakapan,” kata Stella. Ia mengajak keluarga kembali pada praktik sederhana namun bermakna. “Refleksi saya sederhana: ayolah makan bersama dan berbicara. Di sanalah nilai dan kemanusiaan diwariskan.”
Pendiri dan Pemimpin Yayasan Pelita Harapan, Dr. (HC) James Riady, melihat adanya paradoks zaman modern. “Manusia maju secara lahiriah, tetapi rapuh secara rohani,” ujarnya. Menurut Riady, keluarga adalah lembaga pertama dan utama tempat anak belajar kasih, disiplin, iman, kerja keras, dan pengampunan. “Jika keluarga melemah, negara pun ikut melemah,” katanya.
Dimensi keluarga kemudian diperdalam melalui perspektif lintas iman dan ekologis. Hening Parlan, M.Si., Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah sekaligus Koordinator Green Faith Indonesia, menegaskan bahwa keluarga tidak dapat dipisahkan dari relasinya dengan lingkungan hidup. Ekologi, menurut dia, bukan isu tambahan, melainkan bagian dari cara hidup manusia. “Bangun tidur kita menghirup oksigen, minum air, dan hidup dari sumber daya alam. Lingkungan hidup melekat dalam diri manusia,” ujarnya.
Hening menolak pandangan yang memisahkan manusia dari alam. Ia menegaskan bahwa manusia yang utuh adalah manusia yang menyadari keterikatan ekologis dalam kehidupannya. Dalam tradisi keagamaan, relasi ini tercermin dalam nilai kasih dan tanggung jawab. “Doa pernikahan dalam Islam berbicara tentang mawaddah wa rahmah. Itu bukan hanya relasi antarmanusia, tetapi juga dengan seluruh ciptaan,” katanya.
Menurut Hening, rusaknya relasi manusia dengan alam akan berimbas pada rusaknya relasi sosial dan spiritual. Ketika lingkungan dieksploitasi, ketidakadilan tumbuh, dan keluarga menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya—melalui bencana, krisis air, maupun trauma sosial. “Agama-agama hadir bukan pada situasi yang baik-baik saja, tetapi justru ketika ada kerusakan dan luka yang membutuhkan pemulihan,” ujarnya.
Ia juga menekankan peran agama dalam penyembuhan pascabencana dan krisis sosial. Di ruang-ruang bencana, kata Hening, semua agama hadir melalui dukungan psikososial: mengajak berdoa, memberi ruang berserah, dan membantu manusia membaca realitas dengan jernih. “Tuhan menggerakkan kita ketika kita bergerak. Jalan pulang itu adalah kembali ke agama masing-masing, memperdalam relasi dengan Tuhan, agar trauma sosial tidak diwariskan dan keluarga tetap menjadi ruang penyembuhan,” katanya.
Pada sesi Talkshow ini, bersama Hening Parlan, hadir juga sebagai narasumber yaitu Ketua Umum PGI Pdt. Dr. (HC) Jacklevyn Frits Manuputty, M. Th, Ketua Pelaksana Harian Panitia Natal Nasional Pdt. Dr. Jason Joram Balompapuaeng, dan Komisi Keluarga KWI Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si.
Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025 Maruarar Sirait menegaskan bahwa seminar ini merupakan momentum untuk mengajak masyarakat kembali pada nilai kasih. “Dalam setiap persoalan keluarga, Allah hadir untuk menyelamatkan,” ujarnya. Sementara itu, Rektor STFT Jakarta Prof. Binsar Jonathan Pakpahan selaku Koordinator Seminar Natal Nasional berharap rangkaian seminar ini melahirkan rekomendasi nyata bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat keluarga Indonesia.
Rektor STFT Jakarta Prof. Binsar Jonathan Pakpahan selaku Koordinator Seminar Natal Nasional mengajak seluruh peserta menjaga keluarga di tengah tekanan hidup metropolitan. Ia menekankan bahwa hasil seminar akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan dan edukasi keluarga yang diharapkan memberi kontribusi nyata bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat.
Rangkaian Seminar Natal Nasional 2025 akan ditutup pada 29 Januari 2026 di Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Dari forum ini mengemuka satu pesan penting: merawat keluarga berarti merawat kehidupan—manusia, iman, dan bumi tempat kita berpijak bersama.
Tentang GreenFaith Indonesia
GreenFaith Indonesia adalah bagian dari gerakan internasional yang mengadvokasi keadilan iklim dan energi bersih, dengan fokus pada pengorganisasian berbasis spiritualitas dan keyakinan agama di tingkat akar rumput, mendorong transisi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, serta melibatkan komunitas agama dalam aksi nyata untuk lingkungan. Mereka membangun gerakan multi-agama untuk mengadvokasi kebijakan yang lebih baik, mengedukasi masyarakat, dan mendorong tindakan nyata untuk mengatasi krisis iklim. (*)

