Fajar pertama di tahun 2026 menyapa dengan sisa-sisa aroma kembang api yang masih menggantung di udara. Di kota-kota besar, lampu-lampu dekorasi mungkin masih menyala, merayakan optimisme yang dibungkus pidato-pidato normatif tentang “masa depan cerah”. Namun, di sebuah dapur kecil di sudut gang sempit, atau di teras rumah petani yang menatap sawahnya yang kian menyusut, suasananya berbeda.
Di sana, ada seorang ibu yang sedang menghitung lembaran uang di dompetnya dengan dahi berkerut. Baginya, pergantian tahun bukan sekadar angka kalender yang berubah, melainkan dimulainya babak baru perjuangan untuk bertahan hidup. Sambil menyeduh teh, ia menatap berita di layar kaca: tentang angka pertumbuhan ekonomi yang konon meroket, tentang kebijakan-kebijakan besar yang diketuk di gedung-gedung megah di ibu kota.
Namun, ia merasa ada yang janggal. Mengapa setiap kali angka-angka di televisi itu membaik, harga beras di pasar justru mencekik? Mengapa saat para petinggi bicara tentang swasembada, ia justru semakin sulit mendapatkan pupuk?
Di sinilah sebuah pertanyaan besar lahir dari rasa gelisah yang mengusik tidur kita semua: “Untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja?”
Apakah negara ini bekerja untuk mereka yang duduk nyaman di “menara gading”, yang memutuskan nasib jutaan orang lewat tanda tangan di atas kertas wangi, tanpa pernah merasakan debu pasar atau panasnya aspal? Ataukah negara ini benar-benar hadir untuk ibu yang kebingungan tadi pagi? Untuk ayah yang khawatir anaknya tak bisa sekolah meski ia telah memeras keringat hingga kering?
Kita telah terlalu lama kenyang dengan janji manis yang diulang setiap musim kampanye. Kita sudah fasih mendengar kata “sejahtera” yang hanya mampir di baliho pinggir jalan. Hari ini, di hari pertama tahun 2026, kita berhenti sejenak untuk menolak dibuai.
Partai Gema Bangsa tidak lahir dari ambisi untuk sekadar menambah daftar nama di kertas suara. Gema Bangsa lahir dari keberanian untuk menjawab pertanyaan jujur tadi. Kami percaya bahwa politik bukan tentang siapa yang paling pandai bersilat lidah, tapi tentang bagaimana kekuasaan itu dikembalikan ke meja-meja makan keluarga kita. Tentang bagaimana keputusan tidak lagi diambil “jauh di sana”, tapi diputuskan “di sini”, di tengah-tengah kita yang terdampak.
Tahun ini, kita tidak butuh janji baru. Kita butuh kejujuran. Kita butuh keberanian untuk mengakui bahwa ada yang salah dengan cara kita mengelola bangsa ini—dan kita punya kekuatan untuk memperbaikinya, mulai dari rumah kita sendiri.
Karena perubahan tidak pernah turun dari menara gading. Ia tumbuh dari tanah yang kita pijak.
